Trending Topic

Tampilkan postingan dengan label seksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 April 2013

cerita dewasa | bercinta dengan polwan seksi

"Cerita Dewasa" cerita seru 17+, cerita seks, cerita mesum, cerita ngentot "Cerita Porno" Kali ini warna-xp akan berbagi cerita dewasa yang berjudul "Cerita Dewasa Ngentot dengan polwan HOT ". Cerita ini khusus buat teman-teman yang pingin tau kisahnya dan khusus untuk umur 18+. Cerita ini lumayan Hot dan lumayan membuat Konak. untuk lebih jelasnya bisa disimak di bawah ini. Cerita ini hanyalah fiksi belaka, Nama, Foto dan Tempat kejadian dalam cerita ini hanya Fiksi Belaka.


Berikut "Bercinta Dengan Polwan Seksi" CERITA DEWASA:


"Bercinta Dengan Polwan Seksi"

Pada saat itu, aku sedang mengendarai motor di jalan Soekarno-Hatta. Aku tidak memakai helm karena aku terburu-buru pergi ke tempat pacarku. Apesnya, aku dicegat sama polisi. Polisi itu naik mobil, tiba-tiba memotong jalanku, aku kaget hampir saja kutabrak mobil polisi itu. Aku rem motorku, karena terjadi hentakkan, jadi tubuhku hilang keseimbangan lalu aku jatuh dari motorku. Aku terguling-guling di jalan. Tapi syukurlah hanya lecet biasa. Pada saat aku masih dalam keadaan telungkup, aku lihat pintu mobil polisi itu terbuka. Tapi anehnya, aku sepertinya kok melihat kaki seorang wanita. Kakinya yang putih mulus dan indah itu kini berada tepat di wajahku, kutegakkan kepalaku. Betapa kagetnya aku, mataku seperti melihat "hutan belantara" di antara kedua kaki yang jenjang itu.

Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia seorang polisi wanita, pangkatnya Letnan Dua dan di dada kirinya tertulis namanya, LILIS. Dia sangat cantik dan ohh.., body-nya mirip gitar Spanyol. Aku jadi bengong, dan, "Plaaakkk..!" sebuah tamparan mendarat di pipiku. "Hei, apa yang Kamu lihat..? Ayo sekarang serahkan SIM dan STNK cepet..!" bentaknya. Aku jadi kaget dan segera kuambil dompetku, lalu kuambil SIM dan STNK, lalu kuserahkan padanya. Sementara dia melihat suratku, aku pandangi lagi dia ohh.., betapa cantik polisi cewek ini. Aku duga umurnya paling masih sekitar 25 tahun, seumur dengan kakakku. Samar-samar di dalam mobil ada cewek satu lagi, dia seumur dengannya tetapi pangkatnya lebih rendah, kalau tidak salah sersan dua. Kakinya putih tetapi tidak semulus polwan yang tadi. Lalu tanpa kusadari, Letnan Lilis mengambil sesuatu dari dalam mobil, dia berjalan menuju hidung mobil, lalu dia membungkukkan badannya untuk menulis sesuatu. Pada posisi nungging, aku lihat lagi body-nya yang wuih selangit deh... Tanpa kusadari, "adik kecilku" membengkak perlahan. 
 
Setelah itu dia tegakkan badannya, terus berkata, "Eee.. saudara Sony, Anda Kami tilang karena Anda tidak memakai helm dan ngebut. Sidang akan dilaksanakan besok lusa. Jangan lupa Anda harus hadir di persidangan besok. Oke..?" "Tapi Bu, besok lusa Saya tidak bisa hadir, soalnya pada hari itu Saya harus mengantar pacar yang akan diwisuda. Jadi Saya minta tolong sama Ibu, bagaimana dech baiknya agar persoalan ini selesai..?" Lalu dia bilang, "Do you have some money..?" "Aduh, maaf sekali Bu, Saya sama sekali tidak membawa uang sepeser pun." jawabku. "Baiklah, kalau gitu SIM-mu Aku tahan untuk sementara, tapi nanti malam Kamu harus pergi ke rumah Saya. Dan ingat..! Kamu harus datang sendiri. Oke..? Ini alamatku. Jangan lupa lho, Aku tunggu jam 19:00." Dia pergi sambil mengerdipkan matanya kepadaku. Aku kaget, tetapi happy banget, pokoknya senang dech. Aku sampai di rumahnya sekitar jam 19:00 dan langsung mengetuk pintu pagarnya yang sudah terkunci.
Tidak lama kemudian, Ibu Lilis muncul dari dalam dan sudah tahu aku akan datang malam itu. "Ayo Son.., masuk. Aku sudah lama nunggu lho, sampai basah dan bau keringat pantatku duduk terus dari tadi.." sapanya. "Akkhh.. Ibu bisa saja..." jawabku. "Sorry.., pintunya sudah digembok, soalnya Aku tinggal sendiri, jadi harus hati-hati." sambutnya. "Oh.., jadi Ibu belum menikah too..? Sayang lho..! Wanita secantik Ibu ini belum menikah.." kataku merayu. "Aaaa.. Kamu merayu ya..?" tanyanya. "Enggak kok Bu, Saya berkata begitu karena memang kenyataannya begitu. Coba Ibu pikir, Ibu sudah mapan hidupnya, cantik luar-dalam, dan sebagainya dech..." jelasku. "Ehhkk.. Aku cantik luar-dalam, apa maksud Kamu, Aku cantik luar-dalam..?" tanyanya lagi. "Waduh.., gimana ya, malu Aku jadinya..?" jawabku. "Kamu nggak perlu malu-malu mengatakannya, Kamu ingin SIM Kamu kembali nggak..?" ancamnya."Eee.. sekarang gini aja, 
 
Kamu udah punya pacar khan..? Sekarang Saya tanya, kenapa Kamu memilih dia jadi pacar Kamu..?" tanyanya lagi. "Eee.. jujur aja Bu, dia itu orangnya cantik, baik, setia dan cinta sama Saya, that?s all.." "Kalau seumpama Kamu disuruh milih antara Saya dan pacar Kamu, Kamu pilih Saya atau pacar Kamu sekarang..? Bandingkan aja dari segi fisik, Oke.. Saya atau Dia..?" tanyanya memojokkanku. "Eeee... Anu.. anu... eee..," aku dibuat bingung tidak karuan. "Ayo.. jawab aja..! Kalau Kamu tidak jawab, SIM Kamu tidak kukembalikan lho..!" ancamnya lagi. "Waduhhh.., gimana ya..? Ehmmm.., baiklah, Saya akan jawab sejujurnya. Saya tetap akan memilih pacar Saya sekarang." jawabku. "Wow.., kalau begitu dia lebih cantik dan semok dong dari Saya..?" jawabnya lirih. "Eeee.. bukan begitu Bu, Saya memilih pacar Saya walaupun Dia sebetulnya kalah cantik dari Ibu, dan segalanya dech..!" jawabku. "Akhh... yang benar, jadi Aku lebih cantik dan semok dari Dia..?" tanyanya lagi. "Jujur saja.., ya.. ya.. ya.." jawabku mantap. "Ohhh.., Aku jadi tersanjung dan terpikat dengan jawabanmu tadi..," katanya girang, "Wah.. jadi lupa Aku, Kamu nonton TV aja dulu di ruang tengah, Aku mau ambil SIM Kamu di kamar.., Oke..?" pintanya. Lalu aku menuju ke ruang tengah, kuputar TV. Secara tidak sengaja, aku melihat tumpukan VCD. Aku tertarik, lalu kulihat tumpukan VCD itu, lalu, ohhh astaga, ternyata tumpukan VCD itu semuanya film "XXX", aku terkejut sekali melihat tumpukan film "XXX" itu. Sebelum aku melihat satu-persatu, terdengar bunyi pintu dibuka. Lalu, ohhh, aku terkejut lagi, Ibu Lilis keluar dari kamarnya hanya menggenakan daster pink transparan, di balik dasternya itu, bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi putting susunya yang menyembul bak gunung Semeru. Begitu ia keluar, mataku nyaris copot karena melotot, melihat tubuh Ibu Lilis. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas. "Kenapa..? Ayo duduk dulu..! Ini SIM Kamu.. Aku kembalikan.." katanya. 
 
Wajahku merah karena malu, karena Ibu Lilis tersenyum saat pandanganku terarah ke buah dadanya. "SIM Kamu, Aku kembalikan, tapi Kamu harus menolong Saya..!" Ibu Lilis merapatkan duduknya di karpet ke tubuhku, aku jadi panas dingin dibuatnya. "Sonnn..?" tegurnya ditengah-tengah keheninganku. "Ada apa Bu..?" tubuhku bergetar ketika tangan Ibu Lilis merangkulku, sementara tangannya yang lain mengusap-usap daerah "XXX"-ku. "Tolong Ibu Lilis ya..? Dan janji, Kamu harus janji untuk merahasiakan hal ini, kalau tidak aku DOR Kamu..!" pintanya manja. "Tapi... Saya.., anu.., eee.." "Kenapa..? Ooooo.. Kamu takut sama pacar Kamu ya..?" katanya manja. Wajahku langsung saja merah mendengar perkataan Ibu Lilis, "Iya Bu..." kataku lagi. "Sekarang Kamu pilih disidang atau pacar Kamu..?" ancamnya. Dia kemudian duduk di pangkuanku. Bibir kami berdua kemudian saling berpagutan. Ibu Lilis yang agresif karena haus akan kehangatan dan aku yang menurut saja, langsung bereaksi ketika tubuh hangat Ibu Lilis menekan ke dadaku. Aku bisa merasakan puting susu Ibu Lilis yang mengeras. Lidah Ibu Lilis menjelajahi mulutku, mencari lidahku untuk kemudian saling berpagutan bagai ular. Setelah puas, Ibu Lilis kemudian berdiri di depanku yang dari tadi masih melongo, karena tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos tanpa sehelai bnenangpun seakan akan menantang untuk diberi kehangatan olehku. "Lepaskan pakaiannmu Sonnn..!" Ibu Lilis berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya. "Ayooo.. cepat dong..! Aku udah gatel nich.. ohhh.." Ibu Lilis mendesah tidak sabar. Aku kemudian berlutut di sampingnya. Aku bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena malu. "Sonnn.. letakkan tanganmu di dadaku, ayo ohhh..!" pintanya lagi. Dengan gemetar aku meletakkan tanganku di dada Ibu Lilis yang turun naik. Tanganku kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Ibu Lilis yang super montok itu. "Oohhh... enakk.., ohhh... remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." desahnya. Dengan semangat aku melakukan apa yang dia katakan.http://www.memanjakan.com/
 
Lama-lama aku jadi tidak tahan, lalu, "Ibu.. boleh Saya hisap susu Ibu..?" Ibu Lilis tersenyum mendengar pertanyaanku, dia berkata sambil menunduk, "Boleh Sayang... lakukan apa yang Kamu suka.." Tubuh Lilis menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulutku yang sekarang mulai garang itu di susunya. "Oohhh... jilat terus Sonnn..! Ohhh..." desah Ibu Lilis sambil tangannya mendekap erat kepalaku ke payudaranya. Aku lama-lama semakin buas menjilati puting susunya, mulutnya tanpa kusadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapanku semakin keras, bahkan tanpa kusadari, aku menggigit-gigit ringan putingnya yang ohhh. "Mmm... nakal Kamu..." Ibu Lilis tersenyum merasakan tingkahku yang semakin "Jozzz" itu. Lalu aku duduk di antara kedua kaki Ibu Lilis yang telah terbuka lebar, sepertinya sudah siap tempur. Ibu Lilis kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangya. "Ayo, sekarang Kamu rasakan memekku..!" ia membimbing telunjukku memasuki liang senggamanya. "Hangat, lembab, sempit sekali Bu..." kataku sambil mengucek kedalaman liang kenikmatannya. "Sekarang jilat 'kontol kecil'-ku..!" katanya. Pelan-pelan lidahku mulai menjilat klitoris yang mulai menyembul tinggi sekali itu. "Terus.. ooohhh.. ya.. jilat.. jilat. 
 
Terus.. ohhh..." Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal keenakan ketika kelentitnya dijilat oleh mulutku yang mulai asyik dengan tugasnya. "Gimana.., enak ya Bu..?" aku tersenyum sambil terus menjilat. "Oohh.. Soonnn..." tubuh Ibu Lilis telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan. Lidahku semakin berani mempermainkan kelentit Ibu Lilis yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanannya akan segera jebol. Dan aku akan unggul 1-0, ee... emangnya main bola. Lalu, "Oooaaahhh... Sooonnn..!" Tangan Ibu Lilis mencengkeram pundakku yang kokoh bagaikan tembok raksasa di China, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya mulai menegang, dan muncratlah 'lahar'Ibu Lilis di mulutku. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah kuberikan. Hmmm... Kamu sungguh lihai Soonnn... Sekarang coba gantian Kamu yang berbaring..." katanya. Aku menurut saja. Batang kejantananku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Ibu Lilis yang mulai mempermainkan senjata keperkasaanku. "Wah.. wahh... besar sekali. Oh my god... Ohhh..." tangan Ibu Lilis segera mengusap-usap batang keperkasaanku yang telah mengeras tersebut. Segera saja benda besar dan panjang itu mulai berdenyut-denyut dan dimasukkan ke mulut Ibu Lilis. 
 
Dia segera menjilati batang kemaluanku itu dengan penuh semangat. Kepala kejantananku itu dihisapnya keras-keras hingga aku jadi merintih keenakan. "Ahhh... enakkeee.. rekkk..!" aku tanpa sadar menyodokkan pinggulku untuk semakin menekan senjata keperkasaanku agar makin ke dalam mulut Ibu Lilis yang telah penuh oleh batang kejantananku. Gerakanku makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Ibu Lilis. "Ooohhh Bu.. oohhh.. mulut Ibu memang sakti.. ohhh.. I?m coming... ohhh..." Muncratlah laharku di dalam mulut Ibu Lilis yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas.. tas.. tas.. plass. "Hmmmm... agak asin rasanya Son punyamu.., tapi enak kok..." Ibu Lilis masih tetap menjilati kemaluanku yang masih tegak bagaikan tugu Monas di Jakarta, menara Piza di Italy, menara Eiffel di Paris. "Sebentar ya.., Aku mau minum dulu.." katanya setelah selesai menjilati batang kejantananku. Ketika Ibu Lilis sedang membelakangiku sambil menenggak air putih dari kulkas. Aku melihat body yang wuih dan itu ohhh, pantat yang bulat. Aku memang suka pantat yang bulat dan menantang. Aku tidak tahan cuma melihat dari jauh, lalu aku berdiri dan berjalan menghampirinya, lalu mendekapnya dari belakang. "Sonnn.. jangan nakal dong, biar Ibu minum dulu..!" katanya manja. "Aku tidak tahan melihat pantat ibu yang bulat dan menantang itu." kataku tak sabaran. "Kamu suka pantatku, kalau gitu Kamu tentu mau kalau nanti pantatku mendapat giliran untuk Kamu obok-obok, bagaimana Son..? Mau ngobok-ngobok pantat Ibu..?" tanyanya. Aku terima tantangannya. "Ohhh.., memang benar-benar wuihhh..." aku berkata sambil mengelus-elus pantat Ibu Lilis. Lalu aku jongkok agar dapat jelas melihat, kusentuh lembut pantat itu dengan tanganku. Terus kucium, kuelus lagi, kucium lagi terus kujilat, lalu kubuka belahan pantat itu. Ohhh.., terhampar pemandangan indah dengan bau yang khas, lubang yang sempit, lebih sempit dari yang di depan dan sekitarnya ditumbuhi bulu-bulu yang lumayan lebat. Lalu kujulurkan jari telunjukku ke lubang yang sempit itu. Waktu aku coba memasukkan jariku ke lubang itu, terdengar jeritan kecil Ibu Lilis. "Son.., jangan keras-keras ya, nanti sakit.. lho..." Lalu aku mulai memasukkan step by step. Waktu jariku menembus lubang itu sepertinya tanganku mau disedot masuk ke dalam. "Lubang Ibu nakal juga ya, masa jariku mau dimakan juga..?" "Akhhh... Kamu nakal dech.., ohhh Son.. coba sekarang Kamu jilat ya..?" pintanya. Lalu kutarik jariku dari dalam lubang itu, lalu aku mulai menjilati lubang itu ehhmm.., lumayan juga rasanya, asin-asin gurih. Sementara itu, Ibu Lilis terdengar merintih keenakan. Lama-lama aku tidak sabar, dan terus kuberdiri dan tanpa basa-basi, aku langsung membalikkan badannya. Terus kulahap gundukan-gundukan daging di dada Ibu Lilis dengan nikmat. 
 
Sementara itu, Ibu Lilis mulai mendesah-desah dan menggelinjang. Kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam. Goyangan-goyangan lidahku yang terus menjilati puting susu Ibu Lilis yang tinggi dan lancip begitu bertubi-tubi tanpa henti. Ibu Lilis menggerinjal-gerinjal dengan keras. "Aaahh... uuuhhh... uuuhhh..." desahan-desahan kenikmatan semakin banyak bermunculan dari mulut Ibu Lilis. Geliat-geliatan tubuhnya semakin menjadi-jadi karena merasa sensasi yang luar biasa akibat sentuhan-sentuhan mulut dan lidahku pada ujung syaraf sensitif di payudaranya. Urat-urat membiru pun mulai menghiasi dengan jelas seluruh permukaan payudara yang super montok itu. Masih dengan mulutku yang tetap berpetualang di dada Ibu Lilis yang juga masih menggelinjang, aku membopong Ibu Lilis ke kamar. Kujatuhkan tubuh Ibu Lilis di atas kasur spring bed yang sangat empuk. Saking keras jatuhnya, tubuhnya yang aduhai itu sempat terlontar-lontar sedikit sebelum akhirnya tergolek pasrah di atas ranjang itu. Setelah itu, Ibu Lilis tetelentang di kasur dengan kaki-kakinya yang jenjang terjulur ke lantai. Tubuh bugilnya yang putih dan mulus beserta payudara yang montok dengan puting susu nan tinggi yang teronggok kokoh di dadanya, memang sebuah pemandangan yang amat menawan hati. Lalu aku berlutut di lantai menghadap selangkangan Ibu Lilis. Kurenggangkan kedua kakinya yang menjejak di lantai. Dengan begitu aku dapat memandang langsung ke arah selangkangannya itu. Bulu-bulu kemaluan yang tumbuh di padang rumput tipis yang menghiasi wilayah sensitif itu begitu menggelora nafsu birahiku. Aromanya yang segar dan harum membuat nafsuku itu kian meninggi. Kudekatkan mulutku ke bibir vaginanya dan kujulurkan lidahku untuk mencicipi lezatnya lubang itu. Tubuh Ibu Lilis terlonjak keras ketika kucucukkan lidahku ke dalam liang senggamanya. Kukorek-korek seluruh permukaan lorong yang gelap itu. Begitu hebat rangsangan yang kubuat pada dinding lorong kenikmatan tersebut, membuat air bah segera datang membanjirinya. "Ooohhh... uuuhhh... aaahhh..." terdengar rintihan Ibu Lilis dari mulutnya yang megap-megap setengah membuka. Kemudian aku berdiri. Dengan tangan bertumpu ke atas kasur, kucoba mengarahkan ujung penisku ke lubang vagina yang lumayan sempit yang tampak licin dan basah milik Ibu Lilis. Berhasil. Perlahan-lahan kuhujamkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama itu. Tubuh Ibu Lilis berkejat-kejat dibuatnya merasakan nikmat penetrasi yang sedang kulakukan saat ini. "Aaahhh... ooohhh..." tak ayal jeritan-jeritan mengalir dari mulutnya. Akhirnya batang keperkasaanku amblas semua ke dalam liang gelap yang berdenyut-denyut milik Ibu Lilis diiringi dengan jeritannya. Kenikmatan ini kian bertambah menjadi-jadi setelah aku melakukan penetrasi lebih dalam dan intensif lagi. http://www.memanjakan.com/
 
 Gerakan memompa dari batang kejantananku di dalam kemaluan Ibu Lilis semakin kupercepat. Terdengar suara kecipak-kecipak dan lenguhan kami berdua karena terlalu asyiknya kami bersenggama. Seiring dengan tangan yang kembali meremas-remas perbukitan indah yang menjulang tinggi di dada Ibu Lilis, batang kejantananku terus melakukan serangan-serangan yang tanpa henti di dalam lubang senggamanya yang bertambah kencang denyutan-denyutannya. Vagina memerah yang terus berdenyut-denyut dan amat licin akibat begitu membanjirnya cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya, terasa menjepit bnatang kejantananku. Demikian sempitnya ruang gerak penisku di dalam lorong gelap itu, menjadikan gesekan-gesekan yang terjadi begitu mengasyikkan. Ini merupakan sensasi sendiri bagiku yang merasakan batang keperkasaanku seperti merasa diurut-urut oleh seluruh permukaan dinding vaginanya. Mulutku pun tak henti-hentinya menyuarakan desahan-desahan kenikmatan tanpa bisa dihalangi lagi. "Oiiihhh... Sooonnn... ohhh..." Ibu Lilis menjerit-jerit tidak karuan, sementara tubuhnya juga melonjak-lonjak dengan keras. Sekuat tenaga kuhujam-hujam penisku dengan lebih ganas lagi ke dalam liang senggamanya. Rasanya hampir habis tenaga dan nafasku dibuatnya. Tetapi nafsu birahi yang begitu menggelora tampaknya membuatku lupa pada kelelahanku itu. Ini dibuktikan dengan sodokan kejantananku yang berusaha menusuk sedalam-dalamnya. Bahkan berkali-kali ujung batang kejantananku sampai menyentuh pangkal liang tersebut, membuat Ibu Lilis menjerit keenakan. "Soonnn... Soonnn... Aku... mau... keluar..." Ibu Lilis melenguh kencang. Ia merasakan sudah tidak bisa menahan klimaksnya lagi. Akan tetapi, aku belum merasakan klimaks sedikit pun. Langsung kutambah kecepatan genjotan-genjotan batang kejantananku di dalam liang senggamanya. Begitu buasnya sodokan-sodokanku itu, membuat tubuh Ibu Lilis bergoyang-goyang hebat, dia merintih... merintih... dan merintih. Akhirnya saat yang diharapkan itu tercapai. Aku melenguh panjang merasakan laharku muncrat, menyusul Ibu Lilis yang sudah terlebih dahulu memperoleh orgasmenya. Begitu nikmatnya orgasme yang kurasakan itu sehingga membuat laharku bagaikan air bah menerjang masuk ke dalam liang senggama Ibu Lilis. Kami berdua mengejang kencang saat titik-titik puncak itu tercapai. Tapi kenapa batang kejantananku tidak mau istirahat, dan masih terlihat perkasa. Dengan segera aku berlutut di atas ranjang. Kuminta Ibu Lilis untuk berlutut juga membelakangiku dengan tangan bertumpu di kasur, jadi dalam posisi doggy 
 
Kemudian Lilis kudorong sedikit ke depan, sehingga pantatnya agak naik ke atas, yang lebih memudahkan batang kejantananku untuk melakukan penetrasi ke dalam lubang senggamanya. Setelah itu langsung kusodok kemaluan yang sekarang sudah terlihat agak merekah itu dengan batang keperkasaanku dari belakang. Tubuh Ibu Lilis terhenyak hingga hampir terjungkal ke depan akibat kerasnya sodokanku itu, sementara mulutnya menjerit keenakan. Dalam sekejap, senjata-ku itu seluruhnya ditelan oleh vagina itu dan langsung menjepitnya. Jepitan liang senggama Ibu Lilis yang berdenyut-denyut menambah gairah birahiku yang memang sudah menggelora. Dengan cepat, kutarik kejantananku sampai hampir keluar dari dalam liang senggamanya, lalu kutusukkan kembali dengan cepat. Kemudian kutarik dan kusodok lagi, seterusnya berulang-ulang tanpa henti. Doronganku yang keras ditambah dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa membuat Ibu Lilis beberapa kali nyaris terjerembab. Namun itu tidak menjadi masalah sama sekali. Bahkan sebaliknya, membuat permainan kami berdua menjadi kian panas. Lalu, "Aah... ah... ah... ah..." nafasku terengah-engah. Kurasakan sekujur tubuhku mulai kehabisan tenaga. Tenagaku sudah begitu terkuras, tetapi aku belum mau berputus asa. Kucoba mengeluarkan sisa-sisa tenaga yang masih ada semampuku. Dengan sedikit mengejang, kugenjot batang kejantananku kembali ke dalam luabng kenikmatannya sekuat-kuatnya. Ibu Lilis pun tidak mau kalah, dia maju-mundurkan tubuhnya dengan ganasnya. Akhirnya, Ibu Lilis melenguh panjang, muncratlah lahar-nya, disusul beberapa detik kemudian oleh kemaluanku. Lalu secepat kilat kukeluarkan penisku dari dalam lubang kenikmatan Ibu Lilis dan langsung jatuh terkapar di kasur. Lalu, Ibu Lilis langsung meraih batang kejantananku itu dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Ibu Lilis mengocok penisku itu di dalam mulutnya yang memang agak kecil. Namun Ibu Lilis berhasil melumat batang keperkasaanku dengan nikmatnya. Gesekan-gesekan yang terjadi antara kulit kemaluanku yang sensitif dengan mulut Ibu Lilis yang basah dan licin ditambah dengan gigitan-gigitan kecil yang dilakukan oleh giginya yang putih karena pakai "Smile-Up Man", membuat aku tidak dapat menahan diri lagi. Muncratan-muncratan lahar kenikmatan yang keluar begitu banyaknya dari batang keperkasaanku langsung ditelan seluruhnya, hampir tanpa sisa oleh Ibu Lilis. Sebagian meleleh keluar dari mulutnya dan jatuh membasahi kasur. Belum puas sampai disitu, ia masih menjilati sekujur batang kejantananku sampai bersih total seperti sediakala. Bukan main! Lalu kami berdua tergolek di atas tempat tidur dengan tubuh telanjang yang dibasahi oleh keringat dan lahar kami. Kemudian aku tertidur. Tiba-tiba, "Aaauuuwww..," kepalaku sakit sekali, terus aku terbangun tetapi samar-samar aku melihat 3 orang sudah berada di sekelilingku. Semuanya memakai seragam putih-putih. Satu cowok dan 2 cewek. Setelah itu penglihatanku mulai jelas, dan benar dugaanku, aku sekarang berada di rumah sakit. Tapi bagaimana bisa..? Terus apa yang kulakukan tadi itu gimana..?
21.30 | 0 komentar

Minggu, 17 Maret 2013

Cerita Seks Dewasa | Ngentot dengan Ibu Linda Guru SMA Saya


cerita dewasa, cerita hot, cerita sex , cerita ngentot, cerita mesum, cerita 17+, cerita seks, gadis bugil, guru seksi, 


Cerita Seks Dewasa | Ngentot dengan Ibu Linda Guru SMA Saya tidak kalah serunya dengan Cerita Mesum Sekretarisku yang pernah kami publiskan pada kesempatan minggu yang lalu agar anda tidak perlu lagi mencari cerita seks yang lain karena telah kami sediakan semua hanya untuk anda.

Nah langsung saja berikut ini adalah Cerita Seks Dewasa ngentot Dengan Ibu Guru SMA


Rina adalah seorang guru sejarah di smu. Umurnya 30 tahun, cerai tanpa anak. Kata orang dia mirip Demi Moore di film Striptease. Tinggi 170, 50 kg, dan 36B. Semua murid-muridnya, terutama yang laki-laki pengin banget melihat tubuh polosnya.

Suatu hari Rina terpaksa harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya, untuk ulangan susulan. Si Anto harus mengulang karena ia kedapatan menyontek di kelas. Anto juga terkenal karena kekekaran tubuhnya, maklum dia sudah sejak SD bergulat dengan olah raga beladiri, karenanya ia harus menjaga kebugaran tubuhnya.

Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Ia juga diam-diam naksir dengan anak itu. Karenanya ia bermaksud memberi anak itu 'pelajaran' tambahan di Minggu siang ini."Sudah selesai Anto?", Rina masuk kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang diberikannya."Hampir bu""Kalau sudah nanti masuk ke ruang tengah ya saya tinggal ke belakang..""Iya..""Bu Rina, Saya sudah selesai", Anto masuk ke ruang tengah sambil membawapekerjaannya."Ibu dimana?""Ada di kamar.., Anto sebentar ya", Rina berusaha membetulkan t-shirtnya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang muridnya itu. Di balik kaus longgarnya itu bentuk payudaranya terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul.

Begitu ia keluar, mata Anto nyaris copot karena melotot, melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya saat ia tampil di muka murid-muridnya."Kenapa ayo duduk dulu, Ibu periksa.."Muka Anto merah karena malu, karena Rina tersenyum saat pandangannya terarah ke buah dadanya."Bagus bagus..., Kamu bisa gitu kok pakai menyontek segala..?""Maaf Bu, hari itu saya lupa untuk belajar..""oo..., begitu to?""Anto kamu mau menolong saya?", Rina merapatkan duduknya di karpet ke tubuh muridnya."Apa Ibu?", tubuh Anto bergetar ketika tangan gurunya itu merangkul dirinya, sementara tangan Rina yang satu mengusap-uasap daerah 'vital' nya."Tolong Ibu ya..., dan janji jangan bocorkan pada siapa--siapa"."Tapi tapi..., Saya"."Kenapa?, oo..., kamu masih perawan ya?".Muka Anto langsung saja merah mendengar perkataan Rina"Iya""Nggak apa-apa", Ibu bimbing ya.

Rina kemudian duduk di pangkuan Anto. Bibir keduanya kemudian saling berpagutan, Rina yang agresif karena haus akan kehangatan dan Anto yang menurut saja ketika tubuh hangat gurunya menekan ke dadanya. Ia bisa merasakan puting susu Rina yang mengeras. Lidah Rina menjelajahi mulut Anto, mencari lidahnya untuk kemudian saling berpagutan bagai ular.

Setelah puas, Rina kemudian berdiri di depan muridnya yang masih melongo. Satu demi satu pakaiannya berjatuhan ke lantai. Tubuhnya yang polos seakan akan menantang untuk diberi kehangatan oleh perjaka yang juga muridnya ini."Lepaskan pakaiannmu Anto", Rina berkata sambil merebahkan dirinya di karpet. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindihi tubuhnya."Ahh cepat Anto", Rina mendesah tidak sabar.

Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pengetahuannya tentang seks hanya di dapatnya dari buku dan video saja."Anto..., letakkan tanganmu di dada Ibu",Dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina yang turun naik. Tangannya kemudian dibimbing untuk meremas-remas payudara Rina yang montok itu."Oohh..., enakk..., begitu caranya..., remas pelan-pelan, rasakan putingnya menegang.." Dengan semangat Anto melakukan apa yang gurunya katakan."Ibu..., Boleh saya hisap susu Ibu?".Rina tersenyum mendengar pertanyaan muridnya, yang berkata sambil menunduk, "Boleh..., lakukan apa yang kamu suka".

Tubuh Rina menegang ketika merasakan jilatan dan hisapan mulut pemuda itu di susunya. Perasaan yang ia pernah rasakan 3 tahun lalu saat ia masih bersama suaminya."Oohh..., jilat terus sayang..., ohh", Tangan Rina mendekap erat kepala Anto ke payudaranya.


Anto semakin buas menjilati puting susu gurunya tersebut, mulutnya tanpa ia sadari menimbulkan bunyi yang nyaring. Hisapan Anto makin keras, bahkan tanpa ia sadari ia gigit-gigit ringan puting gurunya tersebut."mm..., nakal kamu", Rina tersenyum merasakan tingkah muridnya itu."Sekarang coba kamu lihat daerah bawah pusar Ibu".Anto menurut saja. Duduk diantara kaki Rina yang membuka lebar. Rina kemudian menyandarkan punggungya pada dinding di belakangnya."Coba kamu rasakan", ia membimbing telunjuk Anto memasuki vaginanya."Hangat Bu.."Bisa kamu rasakan ada semacam pentil...?""Iya..""Itu yang dinamakan kelentit, itu adalah titik peka cewek juga. Coba kamu gosok-gosok"Pelan-pelan jari Anto mengusap-usap clitoris yang mulai menyembul itu."Terus..., oohh..., ya..., gosok..., gosok", Rina mengerinjal-gerinjal keenakan ketika clitorisnya digosok-gosok oleh Anto."Kalo diginiin nikmat ya Bu?", Anto tersenyum sambil terus menggosok-gosok jarinya."Oohh..., Antoo..., mm", tubuh Rini telah basah oleh peluh, pikirannya serasa di awang-awang, sementara bibirnya merintih-rintih keenakan.http://memanjakan.blogspot.com/

Tangan Anto semakin berani mempermainkan clitoris gurunya yang makin bergelora dirangsang birahi. Nafasnya yang semakin memburu pertanda pertahanan gurunya akan segera jebol."Ooaahh..., Anntoo", Tangan Rina mencengkeram pundak muridnya, sementara tubuhnya menegang dan otot-otot kewanitaannya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati kenikmatan yang telah lama tidak dirasakannya."Hmm..., kamu lihai Anto..., Sekarang..., coba kamu berbaring".Anto menurut saja. Penisnya segera menegang ketika merasakan tangan lembut gurunya."Wah..., wahh.., besar sekali", tangan Rina segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut.

Segera saja benda panjang dan berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Rina. Ia segera menjilati penis muridnya itu dengan penuh semangat. Kepala penis muridnya itu dihisapnya keras-keras, sehingga Anto merintih keenakan."Ahh..., enakk...,enakk", Anto tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya untuk semakin menekan penisnya makin ke dalam kuluman Rina. Gerakannya makin cepat seiring semakin kerasnya hisapan Rina."oohh Ibu..., Ibbuu"Muncratlah cairan mani Anto di dalam mulut Rina, yang segera menjilati cairan itu hingga tuntas."Hmm..., manis rasanya Anto", Rina masih tetap menjilati penis muridnya yang masih tegak."Sebentar ya aku mau minum dulu".

Ketika Rina sedang membelakangi muridnya sambil menenggak es teh dari kulkas. Tiba-tiba ia merasakan seseorang mendekapnya dari belakang."Anto..., biar Ibu minum dulu"."Tidak..., nikmati saja ini", Anto yang masih tegang berat mendorong Rina ke kulkas.Gelas yang dipegang rina jatuh, untungnya tidak pecah. Tangan Rina kini menopang tubuhnya ke permukaan pintu kulkas."Ibu..., sekarang!""Ahhkk", Rina berteriak, saat Anto menyodokkan penisnya dengan keras ke liang vaginanya dari belakang. Dalam hatinya ia sangat menikmati hal ini, pemuda yang tadinya pasif berubah menjadi liar."Antoo..., enakk..., ohh..., ohh". Tubuh Rina bagai tanpa tenaga menikmati kenikmatan yang tiada taranya. Tangan Anto satu menyangga tubuhnya, sementara yang lain meremas payudaranya. Dan penisnya yang keras melumat liang vaginanya."Ibu menikmati ini khan", bisik Anto di telinganya"Ahh..., hh", Rina hanya merintih, setiap merasakan sodokan keras dari belakang."Jawab..., Ibu", dengan keras Anto mengulangi sodokannya."Ahh...,iyaa""Anto..., Anto jangann..., di dal.. La" belum sempat ia meneruskan kalimatnya, Rina telah merasakan cairan hangat di liang vaginanya menyemprot keras. Kepalang basah ia kemudian menyodokkan keras pinggulnya."Uuhgghh", penis Anto yang berlepotan mani itupun amblas lagi ke dalam liang Rina."Ahh".

Kedua insan itupun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka rasakan.

Setelah kejadian dengan Anto, Rina masih sering bertemu dengannya guna mengulangi lagi perbuatan mereka. Namun yang mengganjal hati Rina adalah jika Anto kemudian membocorkan hal ini ke teman-temannya.

Ketika Rina berjalan menuju mobilnya seusai sekolah bubar, perhatiannya tertumbuk pada seorang muridnya yang duduk di sepeda motor di samping mobilnya, katakanlah dia Reza. Ia berbeda dengan Anto, anaknya agak pembuat onar jika di kelas, kekar dan nakal. Hatinya agak tidak enak melihat situasi ini."Bu Rina salam dari Anto", Reza melemparkan senyum sambil duduk di sepeda motornya."Terima kasih, boleh saya masuk", Ia harus berkata begitu karena sepeda motor Reza menghalangi pintu mobilnya."Boleh..., boleh Bu saya juga ingin pelajaran tambahan seperti Anto."Langkah Rina terhenti seketika. Namun otaknya masih berfungsi normal, meskupun sempat kaget."Kamu kan nilainya bagus, nggak ada masalah kan..", sambil duduk di balik kemudi."Ada sedikit sih kalau Ibu nggak bisa mungkin kepala guru bisa membantu saya, sekaligus melaporkan pelajaran Anto", Reza tersenyum penuh kemenangan."Apa hubungannya?", Keringat mulai menetes di dahi Rina."Sudahlah kita sama-sama tahu Bu. Saya jamin pasti puas".

Tanpa menghiraukan omongan muridnya, Rina langsung menjalankan mobilnya ke rumahnya. Namun ia sempat mengamati bahwa muridnya itu mengikutinya terus hingga ia menikung untuk masuk kompleks perumahan.Setelah mandi air hangat, ia bermaksud menonton TV di ruang tengah. Namun ketika ia hendak duduk pintu depan diketuk oleh seseorang. Rina segera menuju pintu itu, ia mengira Anto yang datang. Ternyata ketika dibuka"Reza! Kenapa kamu ngikuutin saya!", Rina agak jengkel dengan muridnya ini."Boleh saya masuk?"."Tidak!"."Apa guru-guru perlu tahu rahasiamu?"."!!"dengan geram ia mempersilakan Reza masuk."Enak ya rumahnya, Bu", dengan santainya ia duduk di dekat TV. "Pantas aja Anto senang di sini"."Apa hubunganmu dengan Anto?, Itu urusan kami berdua", dengan ketus Rina bertanya."Dia teman dekat saya. Tidak ada rahasia diantara kami berdua"."Jadi artinya", Kali ini Rina benar-benar kehabisan akal. Tidak tahu harus berbuat apa."Bu, kalo saya mau melayani Ibu lebih baik dari Anto, mau?", Reza bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Rina.Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin.http://memanjakan.blogspot.com/

Rina masih belum bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Tubuhnya panas dingin. Belum sempat ia menjawab, Reza telah membuka ritsluiting celananya. Dan setelah beberapa saat penisnya meyembul dan telah berada di hadapannya."Bagaimana Bu, lebih besar dari Anto khan?".Reza ternyata lebih agresif dari Anto, dengan satu gerakan meraih kepala Rina dan memasukkan penisnya ke mulut Rina."Mmpfpphh"."Ahh yaa..., memang Ibu pandai dalam hal ini. Nikmati saja Bu..., nikmat kok"Rupanya nafsu menguasai diri Rina, menikmati penis yang besar di dalam mulutnya, ia segera mengulumnya bagai permen. Dijilatinya kepala penis pemuda itu dengan semangat. Kontan saja Reza merintih keenakan."Aduhh..., nikmat sekali Bu oohh", Reza menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Rina, sementara tangannya meremas-remas rambut ibu gurunya itu. Rina merasakan penis yang diisapnya berdenyut-denyut. Rupanya Reza sudah hendak keluar."oohh..., Ibu enakk..., enakk..., aahh".Cairan mani Reza muncrat di mulut Rina, yang segera menelannya. Dijilatinya penis yang berlepotan itu hingga bersih. Kemudian ia berdiri."Sudahh..., sudah selesai kamu bisa pulang", Namun Rina tidak bisa memungkiri perasaannya. Ia menikmati mani Reza yang manis itu serta membayangkan bagaimana rasanya jika penis yang besar itu masuk ke vaginanya."Bu, ini belum selesai. Mari ke kamar, akan saya perlihatkan permainan yang sebenarnya.""Apa! beraninya kamu memerintah!", Namun dalam hatinya ia mau. Karenanya tanpa berkata-kata ia berjalan ke kamarnya, Reza mengikuti saja.

Setelah ia di dalam, Rina tetap berdiri membelakangi muridnya itu. Ia mendengar suara pakaian jatuh, dugaannya pasti Reza sedang mencopoti pakaiannya. Ia pun segera mengikuti jejak Reza. Namun ketika ia hendak melepaskan kancing dasternya."Sini saya teruskan", ia mendengar Reza berbisik ke telinganya. Tangan Reza segera membuka kancing dasternya yang terletak di bagian depan. Kemudian setelah dasternya jatuh ke lantai, tangan itupun meraba-raba payudaranya. Rina juga merasakan penis pemuda itu diantara belahan pantatnya."Gilaa..., besar amat", pikirnya. Tak lama kemudian iapun dalam keadaan polos. Penis Reza digosok-gosokkan di antara pantatnya, sementara tangan pemuda itu meremasi payudaranya. Ketika jemari Reza meremas puting susu Rina, erangan kenikmatan pun keluar."mm oohh".Reza tetap melakukan aksi peremasan itu dengan satu tangan, sementara tangan satunya melakukan operasi ke vagina Rina."Reza..., aahh..., aahh", Tubuh Rina menegang saat pentil clitorisnya ditekan-tekan oleh Reza."Enak Bu?", Reza kembali berbisik di telinga gurunya yang telah terbakar oleh api birahi itu.

Rina hanya bisa menngerang, mendesah, dan berteriak lirih. Saat usapan, remasan, dan pekerjaan tangan Reza dikombinasi dengan gigitan ringan di lehernya. Tiba-tiba Reza mendorong tubuh Rina agar membungkuk. Kakinya di lebarkan."Kata Anto ini posisi yang disukai Ibu""Ahhkk..., hmm..., hmmpp", Rina menjerit, saat Reza dengan keras menghunjamkan penisnya ke liang vaginanya dari belakang.""Ugghh..., innii..., innii", Reza medengus penuh gairah dengan tiap hunjaman penisnya ke liang Rina. Rinapun berteriak-teriak kenikmatan, saat liang vaginanya yang sempit itu dilebarkan secara cepat."Adduuhh..., teruss.., teruss Rezaa..., oohh", Kepala ibu guru itu berayun-ayun, terpengaruh oleh sodokan Reza. Tangan Reza mencengkeram pundak Rina, seolah-olah mengarahkan tubuh gurunya itu agar semakin cepat saja menelan penisnya."Oohh Rina..., Rinnaa".Rina segera merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya dengan deras. Matanya terpejam menikmati perasaan yang tidak bisa ia bayangkan.

Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu vaginanya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi tempat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang vagina Rina, kemudian dipermainkannya pentil kelentit gurunya itu."mm capek..., mm", bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermainkan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan clitorisnya."Rezz aahh", Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya."Bu..., balik..., Reza pengin nih""Nakal kamu ahh", dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan penis Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya dengan keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang"Adduuhh..., owwmm", Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang vaginannya yang telah licin melebar karena desakan penis Reza."Bu Rina nikmat lho vagina Ibu..., ketat", Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya."mm..., aahh..., ahh..., ahhkk", Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerakan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasan muridnya itu."Ayoo..., aahh.., ahh... Mm.., buat Ibu keluuaa.. Rr lagi...". Gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.

Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki penisnya dengan membelakangi dirinya. Reza kini telentang di tempat tidur yang acak-acakan dan penuh oleh mani yang mengering."Ooww..", Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan penisnya ke vagina Rina yang makin becek."Ayoo..., makin dalam dalamm"."Ahh.., aahh..., aahh..", Rezapun mulai berteriak-teriak."Mau kelluuaarr"Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang vaginanya. Rina kemudian ambruk menindih tubuh Reza yang basah oleh keringat. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka."Bu Rina..., sungguh luar biasa, Coba kalau Anto ada disini sekarang"."mm memangnya kamu mau apa", Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap puting Reza."Kita bisa main bertiga, pasti lebih nikmat.."Rina tidak bisa menjawab komentar Reza, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.

Akhirnya hari kelulusan murid klas 3 sampai juga. Dengan demikian Rina harus berpisah dengan kedua murid yang disayanginya, terlebih lagi ketika ia harus pindah ke kota lain untuk menempati pos baru di Kanwil. Karenanya ia memanggil Anto untuk datang ke rumahnya untuk memberitahukan perihal kepindahannya.Ketika seputar Indonesia mulai ditayangkan, Anto muncul. Ia langsung dipersilakan duduk."Bu, Anto kangen lho"."Iya deh..., nanti. Gini, Ibu bulan depan pindah ke kota B, soalnya akan dinaikkan pangkatnya. Jadi..., jadi..., Ibu ingin malam ini malam terakhir kita", mata Rina berkaca-kaca ketika mengucapkan itu."…………..", Anto tidak bisa menjawab. Ia kaget mendengar berita itu. Baginya Rina merupakan segalanya, terlebih lagi ia telah mendapatkan pelajaran berharga dari gurunya itu."Tapi Anto masih boleh berkirim surat kan?".Rina bisa sedikit tersenyum melihat muridnya tabah, "Iya..., boleh..., boleh"."Minum dulu Nto, ada es teh di meja makan. Kalau sudah nonton VCD di kamar yaa", Rina mengerling nakal ke muridnya sambil beranjak ke kamar. Di kamar ia mengganti pakaiannya dengan kimono kegemarannya, melepas BH, menghidupkan AC dan tentu saja menyetel VCD 'Kamasutra-nya Penthouse". Lalu ia tengkurap di tempat tidur sambil menonton TV.

Diluar Anto meminum es teh yang disediakan Rina dan membiarkan pintu depan tidak terkunci. Ia mempunyai rencana yang telah disusun rapi.Lalu Anto menyusul Rina ke kamar tidur. Begitu pintu dibuka ia melihat gurunya tengkurap menonton VCD dengan dibalut kimono merah tipis, lekuk tubuhnya jelas terlihat. Rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya bagai gadis iklan shampo Pantene."Ganti pakaian itu Nto..", Rina menunjuk celana pendek dan kaos tipis yang terlipat rapi di meja riasnya.http://memanjakan.blogspot.com/

Ketika Anto sedang mencopot celananya Rina sempat melihat penis pemuda itu menyembul di balik CD GT Man-nya. Setelah selesai Anto juga tengkurap di samping Rina."Sudah liat film ini belum? Bagus lho untuk info posisi-posisi ngesex"."Belum tuh...", Mata Anto tertuju pada posisi dimana si wanita berdiri memegang pohon sementara si pria memasukkan penisnya dari belakang, sambil meremas-remas payudara partnernya."mm..., itu posisi fave saya. Kalau kamu suka nanti CD itu bisa kamu ambil"."Thanx..", Anto kemudian mengecup pipi gurunya.

Adegan demi adegan terus bergulir, suasana pun menjadi semakin panas. Rina kini tengkurap dengan tidak lagi mengenakan selembar benangpun. Demikian pula Anto. Anto kemudian duduk di sebelah gurunya itu, dibelainya rambut Rina dengan lembut, kemudian disibakkannya ke sebelah kiri. Bibir Anto kemudian menciumi tengkuk Rina, dijilatinya rambut-rambut halus yang tumbuh lebat."aahh..."Setelah puas, Anto kemudian memberi isyarat pada Rina agar duduk di pangkuannya."Bu, biar Anto yang puasin ibu malam ini...", Bisik Anto di telinga Rina. Rina yang telah duduk di pangkuan Anto pasrah saja saat kedua tangan muridnya meremas-remas payudaranya yang liat. Kemudian ia menjerit lirih saat puting susunya mendapat remasan."Akhh...", Rina memejamkan matanya."Anto..., jilatin vagina ibu..."

Anto kemudian merebahkan Rina, dibukanya kaki gurunya itu lebar-lebar, kemudian dengan perlahan ia mulai menjilati vagina gurunya. Bau khas dari vagina yang telah basah oleh gairah itu membuat Anto kian bernafsu."oohh..., teruss..., teruuss...", Rina bergetar merasakan kenikmatan itu. Tangannya membimbing tangan Anto dalam meremasi susunya. Memberikan kenikmatan ganda."Jilatin..., pentil itu..., oohohh", Bagai dikomando Anto menjilati pentil clitoris Rina, dengan penuh semangat."Aduuhh….. Oohh…oohh…hh.. Hh…..""Anto..., massuukk".

Kaki Rina kemudian disampirkannya ke pundak, dan dengan cepat disodokkannya penisnya ke vagina Rina yang becek."mm...", Rina menggigit bibirnya. Meskipun lubang vaginanya telah licin, namun penis yang besar itu tetap saja agak kesulitan menerobos masuk."Uuhh..., masih susah juga ya Bu...", Anto sambil meringis memaju mundurkan penisnya. Ia merasakan penisnya bagai diremas-remas oleh tangan yang sangat halus saat di dalam. Tangan Rina mempermainkan puting Anto. Dengan gemas dicubitnya hingga Anto berteriak."Uhh..., nakal, Ini balasannya!", sodokan Anto makin keras, lebih keras dari saat ia memasukkan penisnya."aa...".

Tiba-tiba pintu kamar tebuka! Spontan Rina terkejut, tapi tidak bagi Anto. Reza sudah berdiri di muka pintu, senjatanya telah tegak berdiri."mm..., hot juga permainan Ibu dengan Dia, boleh saya bergabung?", Reza kemudian berjalan mendekati mereka. Rina yang hendak berdiri ditahan oleh Anto, yang tetap menjaga penisnya di dalam vagina rina."Nikmati saja..."Reza kemudian mengangkangi Rina, penisnya berada tepat di mukanya."Isap... Ayoo", sambil memasukkan penisnya. Saat itu pula Anto menghentakkan gerakannya. Saat Rina berteriak, saat itu pula penis Reza masuk."Ahh..., nikmat..", Rina merem-melek menghisap-hisap penis muridnya, sementara Anto dengan puas menggarap vaginanya."uufff..., jilatin..., jilatt", tangan Reza memegangi kepala Rina, agar semakin dalam saja mengisap penisnya.

Posisi itu tetap bertahan hingga akhirnya Anto keluar duluan. Maninya menyemprot dengan leluasa di lubang vagina gurunya yang cantik. Sementara Reza tetap mengerang-erang sambil medorong-dorong kepala Rina.Setelah Anto mengeluarkan penisnya dari vagina Rina, "Berdiri menghadap tembok Bu!"Rina masih kelelahan. Ia telah orgasme pula saat Anto keluar, namun ia tidak bisa teriak karena ada penis di mulutnya. Saat ia berdiri dengan tangan di tembok menahan tubuhnya, mani anto menetes ke lantai."mm..., Nto..., liat tuh punya kamu..", seru Reza sambil tertawa. Ia kemudian menempelkan tubuhnya ke Rina. Penisnya tepat berada di antara kedua pantat Rina."Nih Bu rasakan punya Reza juga ya".

Anto dengan santai menyaksikan temannya menggarap gurunya dari belakang. Tangan Reza memegangi pinggang Rina saat ia menyodok-nyodokkan penisnya keluar masuk dengan cepat. Saat Rina merintih-rintih menikmati permainan mereka, Anto merasakan penisnya tegang lagi. Ia tidak tahan melihat pemandangan yang sangat erotik sekali.Kedua insan itu saling mengaduh, mendesah, dan berteriak lirih seiring kenikmatan yang mereka berikan dan rasakan."ooww...", Tubuh Rina yang disangga Reza menegang, kemudian lemas. Anto menduga mereka berdua telah sampai di puncak kenikmatan. Timbul isengnya, ia kemudian mendekati mereka dan menyusup diantara Rina dan tembok. Dipindahkannya tangan Rina ke pundaknya, dan penisnya menggantikan posisi milik Reza."Anto...", Lagi-lagi Rina mendesah saat penis Anto masuk dan pinggulnya didorong oleh Reza dari belakang."Ahh.. Ahh…. Dorongg…dorongg………….""aa.. Aa... Aa"."oohhkk..., kk..., kk..", Rina berteriak keras sekali, saat dorongan Reza sangat keras menekan pinggulnya. penis Anto amblas hingga mencapai pangkalnya masuk ke vagina Rina. Saat itu pula ia merasakan penis yang berdenyut-denyut itu melepaskan muatannya untuk kedua kali.

Cerita Seks Dewasa Dengan Ibu Guru SMU moga moga bisa menghibur dan membawa angan angan anda lebih jauh lagi, dan jangan lupa lengkapi ceriat dewasa anda pada blog ini. 
03.27 | 0 komentar

Kamis, 14 Maret 2013

Cerita hot dewasa terbaru : aku diperkosa 3 lelaki biadab


Cerita hot dewasa terbaru : aku diperkosa 3 lelaki biadab


cerita hot, cerita dewasa, cerita seks, cerita mesum, cerita 17+
Aku masih berdiri menunggu taksi di sebuah halte. Orang-orang ramai berteduh di halte ini. Karena memang hujan sangat lebat mengguyur Jakarta malam ini. Aku Dea (nama samara), seorang karayawati di sebuah perusahaan swasta di ibukota. Sudah tiga tahun aku bekerja di perusahaan itu. Gaji yang cukup besar dan suasana di kantor yang membuat aku betah disana. Suasana kekeluargaan yang sangat kental.
Hujan makin lebat. Dan kakiku sudah mulai pegal berdiri menunggu taksi. Tak satu pun taksi yang lewat. Satu persatu orang yang berteduh pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya, menembus derasnya hujan. Aku tak ingin berdesak-desakkan di bus kota. Selain tak nyaman dan kurangnya keamanan di dalam bus itulah yang membuat aku memilih taksi. Copet. Apalagi yang kadang membuat kita tak ingin naik bus kota.
Tinggallah aku bertiga dengan seorang bapak gemuk dengan tas besar dan seorang ibu yang masih berdiri di halte. Warung kecil yang menjual rokok dan minuman masih menerangi halte tempatku berteduh. Sudah dua puluh menit lebih aku berdiri menunggu taksi. Setiap kulambaikan tangan memanggil taksi, mereka hanya berlalu begitu saja. Sial sekali aku malam ini. Jam tanganku menunjukkan pukul 19.10 wib.

“mau pulang kemana mbak?” tanya bapak bertubuh gemuk.
“ke manggarai pak” jawabku.
“kenapa nggak naik bus aja mbak. Dari tadi kan banyak juga yang kosong”
“iya pak. Saya agak kapok naik bus”
“kenapa?” bapak itu bertanya kembali.
“pernah dua kali saya kecopetan”
“oh itu. Iyalah mbak, harus hati-hati kalo di bus kota”

Kemudian tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut bapak bertubuh gemuk. Ibu yang sedang diam memberhentikan sebuah taksi, dan ia mendapatkan taksi tersebut. Ah, sial sekali aku. Seharusnya aku yang menaiki taksi tersebut. Aku ingin cepat sampai kamar kost-ku. Badanku sangat letih hari ini. Selain menumpuknya pekerjaanku di kantor, aku juga harus kunjungan ke beberapa perusahaan. Untungnya besok hari sabtu, jadi aku bisa beristirahat lebih lama. Lamunanku buyar ketika sebuah mobil menepi ke halte tempatku berteduh. Seseorang keluar menuju warung kecil samping halte. Pria tersebut membeli sebungkus rokok. Dan kembali menuju mobil. Namun…
“Dea ya?” pria tersebut menegurku. Aku tidak mengenalinya.
“iya. Maaf siapa ya?” tanyaku.
“gue Tito (nama samara). Bulan lalu kan kita meeting bareng di Kemang. Inget nggak?” tanyanya.
“emmmm.. yang mana ya?” tanyaku masih meraba-raba.
“masa nggak inget sih? Kan yang presentasi gue”
“ooh iya gue inget. Bos lo yang orang cina itu kan?” aku mulai mengingatnya.
“hahahahahahaha. Iya iya. Bos gue emang orang cina. By the way, ngapain lo disini?”
“gue nunggu taksi. Dari tadi nggak dapet-dapet. Udah hampir setengah jam gue disini” jelasku.
“oh gitu. Ikut mobil gue aja yuk. Daripada kelamaan, nanti makin malem makin bahaya lho. Apalagi lo cewek sendiri disini”
“emmm.. gimana ya?”
“ayolah, gue sih terserah lo aja. Gue cuma niat baik aja sama lo”
Betul juga pikirku. Aku wanita sendiri yang berada di halte ini. Makin malam memang makin tak baik. Apalagi saat ini Jakarta sudah tak aman menurutku.
“boleh deh. Nggak ngerepotin lo nih?”
“ngerepotin apa sih? Santai aja kali. Yuk masuk!” ajak Tito.

Ternyata didalam mobil ada dua pria lainnya. Teman tongkrongan Tito. Aku berkenalan dengan mereka. Abi (nama samaran) dan Kris (nama samaran). Mereka bertiga berniat makan malam di sebuah restoran di daerah Salemba. Satu arah dengan rute pulang denganku. Aku bisa turun di Manggarai nantinya. Kami hanya mengobrol biasa, tentang kantor tempat Tito bekerja sampai kelakuan bosnya yang kadang membuatnya geram.
“lo ikut kita aja De!” ajak Tito.
“ah, nggak usah deh. Gue mau langsung pulang aja To”
“iya De ikut aja. Kita mau ngerayain ultahnya si Abi. Ikut aja!” ajak Kris.
“nggak deh, makasih. Itu kan acara kalian. Nanti kalo ada gue malah nggak seru lagi”
“nggak seru apaan sih? Biasa aja kali De. Ikut aja ya” Tito sedikit memaksa.
“iya ikut aja. Nanti juga ada temen cewek yang lain juga kok De. Jadi lo nggak sendirian” sambung Abi.
“emmm.. gimana ya?” aku masih berpikir.
Sebenarnya aku ingin sekali cepat pulang ke kost-an. Tapi berhubung mereka sudah berbaik hati memberiku tumpangan. Apa jadinya kalau aku tak bertemu Tito. Mungkin saat ini aku masih berada di halte dengan bapak gemuk. Jadi kuiyakan saja ajakan mereka. Toh hanya makan-makan biasa, apa salahnya agak telat sampai kost-an. Lagipula besok hari sabtu.
“oke deh, gue ikut. Tapi bener nggak ganggu acara kalian kan?”
“dijamin nggak ganggu 100%” sergah Abi.http://memanjakan.blogspot.com/

Tak berapa lama mobil sudah terparkir disebuah bangunan bernuansa cina. Dengan dua patung besar berbentuk singa didepannya. Seorang pelayan pria bertubuh tegap membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Kami menaiki tangga menuju lantai dua. Lampu didalam ruangan agak remang-remang. Kami pun memasuki sebuah ruangan, seperti private room. Terdapat meja besar dengan sofa yang besar pula mengelilingi meja. Didepannya terdapat layar besar. Kalau kuperhatikan, ruangan ini mirip seperti ruangan karouke. Kami duduk di sofa besar. Tak lama seorang wanita dengan pakaian cukup seksi masuk membawa buku besar.

“mau pesen apa De?” tanya Tito.
“kita makannya disini?” tanyaku.
“iya. Sambil makan kita bisa sambil karouke. Bisa nonton film juga. Bisa party juga. Lo mau pesen makan apa?” jelas Tito.
“hmmm.. apa ya? Gue ikut aja deh” jawabku.
“kok ikut aja? Nih, lo liat dulu” Tito menyerahkan buku besar yang ternyata buku menu.
Aku membuka halaman demi halaman buku menu. Dan tak satu pun yang kukenal macam-macam makanannya. Paling hanya beef steak dan bebek peking. Mungkin ini restoran cina. Jadi kuputuskan untuk memesan beef steak dan segelas orange juice. Sedangkan Tito, memesan makanan yang tak kuhapal namanya. Begitu juga Abi dan Kris. Setelah pesanan kami di catat, wanita seksi itu pun meninggalkan ruangan.
“kita nyanyi-nyanyi dulu kali ya. Sambil nunggu makanan” kata Kris.
“boleh. Nyalain aja Kris” lanjut Abi.
“eh, katanya ada temen-temen cewek lo yang lain?” tanyaku kepada Tito.
“iya, bentar lagi mungkin sampe. Kenapa sih De?” jawab Tito.
“nggak apa-apa kok. Gue Cuma tanya aja”
Kris yang paling ngocol diantara mereka bertiga sudah teriak-teriak melantunkan lagu. Otakku dangkal kalau ditanya musik. Aku hanya menikmati suasana. Sesekali tertawa jika Kris melontarkan leluconnya yang membuat perut sakit. Tak lama, pesanan kami datang. Beef steak-ku dan makanan lainnya sudah terhampar di meja besar. Meja ini sudah dipenuhi makanan dan beberapa botol minuman. Menurutku hal seperti ini tidaklah tabu. Di kantorku pun minuman beralkohol dan sejenisnya seringkali disediakan, jika kantor mendapat tender besar dan harus dirayakan. Aku pun kadang ikut menenggak beberapa loki minuman.

Kami pun menikmati makanan. Saling berbagi makanan. Saling cicip-mencicipi makanan. Seolah sudah kenal bertahun-tahun, aku pun tak canggung lagi dengan ketiga pria tersebut. Disela-sela makan, Kris masih saja membuat kelucuan. Hingga membuat Abi tertawa sampai terbatuk-batuk. Ruangan ini memang milik kami. Kami bebas tertawa terbahak-bahak dan tak ada seorang pun yang protes. Lama kami bersenang-senang di ruangan tersebut. Belasan lagu telah kami nyanyikan. Piring kotor bekas kami makan pun telah diangkat. Yang tersisa di meja hanya botol-botol minuman den beberapa gelas. Seorang pelayan kembali datang mengantarkan dua botol minuman dan empat piring kacang.
“eh, nambah nih?” tanyaku.
“malem masih panjang De. Santai aja kan?” tanya Abi.
“iya sih”

Aku sudah menghabiskan empat gelas minuman beralkohol. Kepalaku sudah dihantui pusing. Berat. Tubuhku pun sudah agak lunglai. Tapi kami masih tertawa dan terus menuang minuman kedalam gelas. Tito terus memberiku gelas yang penuh. Walau kutolak, ia tetap memaksaku. Dan akhirnya, mau tak mau aku pun terus meneggak minuman tersebut. Puncaknya, tubuhku sudah benar-benar lunglai. Lemah tak berdaya. Kepalaku sudah berat. Aku setengah sadar. Aku bersandar pada sofa besar. Masih memperhatikan layar besar didepan meja yang memutar video karouke. Disampingku, duduk Tito memegang gelas penuh berisi minuman.
Tito mulai merangkul pundakku. Aku menepisnya. Jujur, aku mabuk. Namun aku masih sadar. Setengah sadar tepatnya. Ia terus mencekokiku minuman. Dan aku tetap mengangguk menerimanya.
“kalo pusing. Tiduran aja De” suruh Tito.
“nggak apa-apa nih kalo gue tiduran disini?” tanyaku.
“enggak apa-apa. Ini di booking sampe pagi kok” jawab Tito.
Tak apalah aku merebahkan sesaat tubuhku. Nantinya juga akan dibangunkan jika acara mereka sudah selesai. Tapi Tito memberikan segelas minuman, begitu ingin kurebahkan tubuhku.
“eits, minuman terakhir sebelum lo tidur. Wajib lo habisin. Ayolah”
“To, kepala gue udah pusing banget. Udah ya”
“gelas terakhir De. Biar sisa minuman yang lain gue habisin bertiga. Oke”
Aku pun menurut saja. Kutenggak isi gelas dengan cepat. Habis tak bersisa. Kemudian senyuman Tito terpancar dari mulutnya. Aku pun akhirnya merebahkan tubuhku. Kepalaku terasa pusing. Lalu aku tertidur…

Berapa lama kutertidur? Kepalaku masih berat. Otakku pun masih setengah sadar. Badanku panas. Apa yang terjadi? Kubuka perlahan mataku. Astaga, kaget bukan main. Aku mendapati tubuhku tak berbusana. Dan kulihat Abi sedang asik melumat puting payudaraku. Aku ingin berontak. Namun tubuhku sangat lemas. Aku ingin teriak, namun mulutku seperti terkunci.
“eh, Dea udah bangun” kata Abi disela-sela lumatan mulutnya.
Kris lalu mendekatiku. Menghampiri wajahnya dekat kearah wajahku. Bibirku dilumat Kris. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku tak bisa bergerak. Kurasakan payudaraku diremas kuat. Putingku kembali dilumat. Geli. Kris pun nampak tak berbusana. Pandanganku kabur. Mataku buram. Kris masih terus melumat bibirku. Kemudian ia berdiri, menunjukkan penisnya yang besar. Tegang dan berurat. Mulutku dibuka lebar olehnya. Dimasukkannya penis besarnya kedalam mulutku. Aku hampir tersedak. Maju mundur gerakan penis Kris didalam mulutku.

Putingku masih dijilat. Payudaraku masih terasa diremas. Namun apa ini? Astaga, kini giliran vaginaku yang merasakan gerakan aneh. Kenapa tubuhku tak bisa kugerakkan. Ingin kuberontak. Tenagaku tak ada. Mataku melirik kearah vaginaku. Tito yang sedang asik menjilati klitorisku. Lidahnya lincah bermain. Nikmat, namun aku tak ingin semua ini. Tubuhku bergetar, sungguh nikmat permainan lidah Tito. Abi pun sungguh lihai memainkan lidahnya, putingku nikmat. Geli yang sangat geli. Kris masih asik memanjakan penisnya di mulutku.
Kini mereka bergantian. Tito, kali ini memasukkan penisnya kedalam mulutku. Kris menggarap payudarku. Diremas dan dijilati. Sementara Abi dengan penis tegangnya, menuju vaginaku. Pahaku dibuka lebar-lebar. Dengan posisi mengangkang, Abi membenamkan penis besarnya kedalam vaginaku. Perlahan-lahan bergerak maju mundur. Vaginaku bergetar. Penisnya Tito masih didalam mulutku. Terkadang suara desahan Abi kudengar.

“aaaahhh..aaaahhh” desahan Abi, sesekali menampar-nampar pelan pantatku. Perih.
“aaaahhh..aaaahhh” Tito pun tak kalah dengan Abi.
Gerakan penis Abi makin cepat. Aku hampir klimaks. Vaginaku bergetar hebat, tak berapa lama cairan membasahi vaginaku. Hangat. Aku klimaks. Tubuhku ikut bergetar. Bulu romaku berdiri.
“aaaaahhh..aaaaahh” desahan Abi makin keras, disertai gerakan maju mundur penisnya yang makin cepat.

Kemudian ia mencabut penisnya. Memuntahkan cairan maninya diatas payudaraku. Hangat. Kental. Ia terus memompa cairan maninya hingga habis. Kris masih asik memeras payudarku yang banjir oleh cairan mani Abi. Dan Tito masih dengan penis menancap dalam mulutku. Kemudian kudengar tawa senang dari Abi. Laki-laki berengsek!
Tubuhku masih tak bisa digerakkan. Mungkin mereka memberiku sesuatu. Mungkin obat atau apalah. Yang jelas malam ini aku diperkosa oleh tiga orang lelaki bejat yang baru kukenal beberapa jam yang lalu.
Kali ini giliran Kris menggagahiku. Kepala penisnya diusap-usap dimulut vaginaku. Geli. Kemudian dengan segera ia lesakkan seluruh batang penisnya. Kali ini lebih besar. Penis Kris lebih besar dari penis Abi. Mataku terbelalak. Dadaku sesak. Tubuhku tak bisa bergerak. Aku tersedak. Kris memainkan penisnya maju mundur. Pahaku dibentangkan lebar. Sambil terus penisnya menari didalam vaginaku, sesekali Kris memainkan jarinya menggelitik klitorisku. Nikmat. Aku menikmati permainan Kris. Keringat Kris terlihat membasahi jidat lengangnya. Tangan besar penuh urat mencengkram kuat payudaraku. Meremasnya. Memainkan jari-jarinya pada putingku.

“aaaahhh..Deaaa aaaaahhh..Dea..” Kris mendesah pelan.

Ia menindih tubuhku. Merebahkan tubuhnya yang tinggi diatas tubuhku. Tangannya melingkar di pinggangku, memelukku kuat. Sambil terus menggoyangkan penisnya. Penis besarnya masih menancap didalam vaginaku. Sesekali dengan tempo yang cepat, Kris terus menggoyangkan pinggulnya. Vaginaku panas.

“aaaaaahhh.. Deaaaa” desahannya memanggil namaku. Dasar bajingan.

Tak dipungkiri, aku menikmati saat Kris memainkan penisnya. Ia sangatlah ahli. Tubuhku makin merasakan nikmat. Bulu romaku kembali berdiri. Vaginaku memberi sinyal, sebentar lagi aku hendak klimaks. Klimaks yang kedua, setelah Abi terlebih dahulu menggagahiku. Dan, tak berapa lama aku kembali klimaks. Vaginaku kembali banjir. Cairan hangat memenuhi relung vaginaku. Kris masih terus dengan gerakan maju mundur. Penis besarnya masih setia di dalam vaginaku. Desahannya kali ini lebih sering.
“aaaaaahhh..aaaaahhh” http://memanjakan.blogspot.com/
“aaaaahhh..Deaaaa aaaaahhh”

Kris mencabut penis besarnya. Memuntahkan cairan maninya di mulutku. Jijik. Sangat banyak dan kental. Berwarna putih. Dalam sekejap mulutku dipenuhi cairan mani Kris. Ia terlihat letih setelah menggagahiku. Letih namun nikmat. Dan kembali kudengat tawa lepas, kali ini Kris dan Abi yang tertawa. Disusul tawa dari Tito. Astaga, tubuhku masih saja tak bisa digerakkan. Kali ini makin lemas. Tenagaku habis tak bersisa, setelah dua lelaki bajingan memperkosaku. Memberiku minuman yang membuat tubuhku tak bisa digerakkan.
Tito sudah pada posisi. Penis panjangnya sudah berada didepan vaginaku. Tangannya menuntun penisnya masuk kedalam vaginaku. Dengan cepat ia menggenjot pinggulnya. Gerakannya lincah. Ia terus membenamkan penis panjangnya kedalam vaginaku, smbil meremas payudaraku. Menggelitik putingku. Makin cepat gerakan Tito. Vaginaku ikut bergetar cepat. Kali ini mulutnya yang memainkan putingku. Dijilatinya putingku. Sesekali digigit-gigit. Membuat gairahku meninggi. Kemudian menyedotnya kuat. Aku makin bernafsu. Namun tubuhku masih tak dapat digerakkan. Tangannya meremas payudaraku, lidahnya menjilati putingku, dan penisnya masih keluar masuk kedalam vaginaku. Gairahku memuncak.

Tito masih terus menggagahiku. Dan masih terus meremas payudaraku. Vaginaku kembali bergetar. Akan klimaks untuk yang ketiga kalinya mungkin. Mataku memejam. Tanganku mencengkram kuat sofa. Pahaku masih terbuka lebar. Membentang. Dan Tito masih terus menggoyangkan pinggulnya. Kali ini makin cepat. Aku hampir klimaks. Benar saja, tak berapa lama vaginaku memuntahkan cairan hangat. Tubuhku bergetar hebat. Vaginaku geli. Dan Tito terus saja menggagahiku. Penisnya masih kuat bermain-main didalam vaginaku.
Tito mencabut cepat penisnya. Memuntahkan cairan maninya diatas payudaraku. Cukup banyak. Memompa terus penisnya, berharap cairan maninya keluar hingga tetes terakhir. Pahaku masih terbuka lebar. Dan tubuhku masih tak dapat digerakkan. Kris membersihkan cairan mani yang memenuhi tubuh dan mulutku. Dibantu oleh Abi. Tito mengenakan pakaiannya. Aku menangis sejadi-jadinya. Pipiku basah oleh air mata. Kemudian Kris dan Abi berpakaian. Tito memakaikan kemeja dan celanaku. Dan tubuhku masih saja tak bisa bergerak.

Abi melemparkan berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu diatas tubuhku. Kemudian mereka bertiga berlalu. Meninggalkanku dengan tawa puas usai memperkosa diriku. Tinggallah aku sendiri didalam ruangan dengan tubuh yang tak bisa kugerakkan. Dasar lelaki bajingan !!!
08.32 | 0 komentar