Trending Topic

Rabu, 06 Februari 2013

Cerita Dewasa : Pelajaran Untuk Adik yang Bandel

Salam kenal kepada pembaca Cerita Dewasa budiman. Namaku Adi Mas Said, seorang mahasiswa sebuah perguruang tinggi ternama di kota Medan. Keluargaku terdiri dari ayah ibuku dan seorang adik perempuan yang bernama Fina. Keluargaku termasuk keluarga yang cukup berada. Fina saat ini duduk di kelas tiga SMP sebuah sekolah swasta di Medan. Cerita Dewasa : dia seorang gadis yang sangat popular di sekolahnya dan juga sekaligus merupakan wakil ketua OSIS. Tidak heran kenapa dia bisa sepopuler itu.


Fina seorang gadis yang cantik dan manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun kemungilannya justru membuatnya nampak semakin manis. Dadanya tidak terlalu besar, namun lekukannya indah. Bibirnya merah merekah dan lesung pipitnya membuatnya semakin menggoda, ibaratnya apel merah yang segar. Rambutnya panjang sampai ke bahu, hitam legam, indah dan harum. Kulitnya putih dan mulus. Singkat kata, dia memang seorang gadis yang sangat cantik dan merupakan kebanggaan orang tuaku. Selain itu dia juga sangat pandai membawa diri di hadapan orang lain sehingga semua orang menyukainya.

Namun di balik semua itu, sang “putri” ini sebetulnya tidaklah perfect. Kepribadiannya yang manis ternyata hanya topeng belaka. Di dunia ini, hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu akan kepribadiannya yang sesungguhnya. Kedua orang tuaku yang sering keluar kota untuk berbisnis selalu menitipkan rumah dan adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau aku kesulitan untuk mengendalikan adikku yang bandelnya bukan main. Di hadapanku, dia selalu bersikap membangkang dan seenaknya. Bila aku berkata A, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Pokoknya aku sungguh kewalahan untuk menanganinya.

Suatu hari, semuanya berubah drastic. Hari itu adalah hari Sabtu yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Pada akhir minggu itu, seperti biasanya kedua orang tuaku sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka akan kembali minggu depannya. Kebetulan, aku dan adikku juga sedang liburan panjang. Sebetulnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar kota, tapi orang tuaku melarang kami ikut dengan alasan tak ingin kami mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi aku tahu kalau dia sangat kesal di hatinya. Setelah mereka pergi, aku mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang kubeli yaitu Harry Potter and the Order of Pheonix. Tapi kebaikanku dibalas dengan air tuba. Bukan saja dia tidak menerima kebaikanku, bahkan dia membanting pintu kamarnya di depan hidungku.

Inilah penghinaan terakhir yang bisa kuterima. Akupun menonton DVD sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan bagaimana caranya membalas perbuatan adikku. Di rumah memang cuma ada kami berdua. Orang tua kami berpendapat bahwa kami tidak memerlukan pembantu dengan alasan untuk melatih tanggung jawab di keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku nanti malam dan memfoto tubuh telanjangnya waktu tidur dan menggunakannya untuk memaksa adikku agar menjadi adik yang penurut.

Malam itu, jam menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun mengedap di depan pintu kamar adikku. Daun telingaku menempel di pintu untuk memastikan apa adikku sudah tertidur. Ternyata tidak ada suara TV ataupun radio di kamarnya. Memang biasanya adikku ini kalau hatinya sedang mengkal, akan segera pergi tidur lebih awal. Akupun menggunakan keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu kamar adikku. Kebetulan aku memang mempunyai kit untuk itu yang kubeli waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku mempunyai sebuah kamera digital.

Di kamar adikku, lampu masih terang karena dia memang tidak berani tidur dalam kegelapan. Akupun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya. Ternyata malam itu dia tidur pulas terlentang dengan mengenakan daster putih. Tanganku bergerak perlahan dan gemetar menyingkap dasternya ke atas. Dia diam saja tidak bergerak dan napasnya masih halus dan teratur. Ternyata dia memakai celana dalam warna putih dan bergambar bunga mawar. Pahanya begitu mulus dan aku pun bisa melihat ada bulu-bulu halus menyembul keluar di sekitar daerah vaginanya yang tertutup celana dalamnya.

Kemudian aku menggunakan gunting dan menggunting dasternya sehingga akhirnya bagian payudaranya terlihat. Di luar dugaanku, ternyata dia tidak mengenakan kutang. Payudaranya tidak begitu besar, mungkin ukuran A, tapi lekukannya sungguh indah dan menantang. Jakunku bergerak naik turun dan akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam hidupku. Kemudian dengan gemetar dan hati-hati, aku pun membuka celana dalamnya. Adikku masih tertidur pulas.

Pemandangan indah segera terpampang di hadapanku. Sebuah hutan kecil yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya, aku hanya bisa berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di tanganku. Aku lupa akan maksud kedatanganku kemari. Sebuah pikiran setanpun melintas, kenapa aku harus puas hanya dengan memotret tubuh adikku. Apakah aku harus mensia-siakan kesempatan satu kali ini dalam hidupku? Apalagi aku masih perjaka ting-ting. Tapi kesadaran lain juga muncul di benakku, dia adalah adik kandungku., For God Sake. Kedua kekuatan kebajikan dan kejahatan berkecamuk di pikiranku.

Akhirnya, karena pikiranku tidak bisa memutuskan, maka aku membiarkan “adik laki-lakiku” di selangkangku memutuskan. Ternyata beliau sudah tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi iblislah yang menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun menggunakan kain daster yang sudah koyak untuk mengikat tangan adikku ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya bebas agar tidak menghalangi permainan setan yang akan segera kulakukan. Adikku masih juga tidak sadar kalau bahaya besar sudah mengancamnya. Aku pun segera membuka bajuku dan celanaku hingga telanjang bulat.

Cerita Dewasa : Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah selangkangan adikku. Ternyata daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan dan klitoris adikku. Adikku masih tertidur pulas, tapi setelah beberapa lama, napasnya sudah mulai memburu. Semakin lama, vagina adikku semakin basah dan merekah. Aku sudah tak tahan lagi dan mengarahkan moncong meriamku ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang pergelangan kaki adikku dan membukanya lebar-lebar.

Ujung kepala penisku sudah menempel di bibir vagina adikku. Sejenak, aku ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku dan membuang jauh keraguanku. Dengan sebuah sentakan aku mendorong pantatku maju ke depan dan penisku menembus masuk vagina yang masih sangat rapat namun basah itu. Sebuah teriakan nyaring bergema di kamar,” Aaaggh, aduh….uuuhh, KAK ADI, APA YANG KAULAKUKAN??” Adikku terbangun dan menjerit melihatku berada di atas tubuhnya dan menindihnya. Muka adikku pucat pasi ketakutan dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berguncang mencoba melepaskan diri. Begitu juga kakinya mencoba melepaskan diri dari pegangannku. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Aku tidak berani berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku akan berubah pikiran. Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah selangkangan. Ternyata vagina adikku mengeluarkan darah, darah keperawanan.

Aku tidak menghiraukan semua itu karena sebuah kenikmatan yang belum pernah kurasakan dalam hidupku menyerangku. Penisku yang bercokol di dalam vagina adikku merasakan rasa panas dan kontraksi otot vagina adikku. Rasanya seperti disedot oleh sebuah vakum cleaner. Aku pun segera menggerakan pinggulku dan memompa tubuh adikku. Adikku menangis dan menjerit:” Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..kak…lep..as..kan..pana ss…sakitt!!” “Kak..Adii..mengo..uuhh..yak..aduh…tubuhku!!! ” Aku tidak tahan dengan rengekan adikku, karena itu aku segera menggunakan celana dalam adikku untuk menyumpal mulutnya sehingga yang terdengar hanya suara Ughh..Ahhh.

Setelah sekitar lima belas menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis dan mengeluh kesakitan. Darah masih berkucuran di sekitar vaginanya tapi tidak sederas tadi lagi. Aku sendiri memeramkan mata merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku semakin cepat menggerakan pinggulku karena aku merasa akan segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku menampar pantat adikku agar dia menggoyangkan pinggulnya sambil berkata:’ Who is your Daddy?” Sebuah dilema muncul di pikiranku. Haruskah aku menembak di dalam rahim adikku atau di luar? Aku tahu kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil? Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupun menembakan cairan hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami dan darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami dan sprei tempat tidur.

Aku membiarkan penisku di dalam vagina adikku selama beberapa menit. Kemudian setelah puas, aku mencabut keluar penisku dan tidur terlentang di samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku dan membuka sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan kemarahannya. Namun di luar dugaanku, dia tidak menyerangku. Adikku hanya diam membisu seribu bahasa dan masih menangis. Posisinya masih tidur dan hanya punggungnya yang mengadapku. Aku melihat tangannya menutup dadanya dan tangan lainnya menutup vaginanya. Dia masih menangis tersedu-sedu.

Setelah semua kepuasanku tersalurkan, baru sekarang aku bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau orang tuaku tahu. Hidupku bisa berakhir di penjara. Kemudian pandangan mataku berhenti di kamera. Sebuah ide jenius muncul di pikiranku. Aku mengambil kameranya dan segera memfoto tubuh telanjang adikku. Adikku melihat perbuatanku dan bertanya: ”Kak Adi, Apa yang kau lakukan? Hentikan, masih belum cukupkah perbuatan setanmu malam ini? Hentikan…” Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Namun aku sudah memperkirakan ini dan lebih sigap. Karena tenagaku lebih besar, aku berhasi menjauhkan kameranya dari jangkauannya. Aku mencabut keluar memori card dari kameranya dan berkata: “Kalau kamu tidak mau foto ini tersebar di website sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiakan dari semua orang. Kamu juga harus menuruti perintah kakakmu ini mulai sekarang.”

Wajah adikku pucat pasi, dan air mata masih berlinang di pipinya. Kemudian dengan lemah dia mengganggukkan kepalanya. Sebuah perasaan ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu, kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang bandel ini. Kemudian aku memerintahkan dia untuk membereskan ruangan kamarnya dan menyingkirkan sprei bernoda darah dan potongan dasternya yang koyak. Selain itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari lemari obat ibuku. Terakhir aku menyuruhnya mandi membersihkan badan, tentu saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk menggunakan jari-jari lentiknya untuk membersihkan penisku dengan lembut.

Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selama seminggu kepergian orang tuaku, aku selalu meniduri adikku di setiap kesempatan yang ada. Pada hari keempat, adikku sudah terbiasa dan tidak lagi menolakku biarpun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kali kita bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam selama seminggu ketika aku menonton TV, aku menyuruh adikku untuk memberi oral seks. Dan aku selalu menyemprotkan spermaku ke dalam mulutnya dan menyuruhnya untuk menelannya.

Ketika orang tuaku kembali minggu depannya, aku memerintahkan adikku untuk bersikap sewajarnya menyambut mereka. Ketika ibuku memeluk adikku, aku melihat wajah adikku yang seperti ingin melaporkan peristiwa yang terjadi selama seminggu ini. Aku pun bertindak cepat dan berkata pada ibuku: “Ibu, gimana perjalanan ibu? Tunjukan dong FOTOnya kepada kami berdua.” Ibuku tersenyum mendengar ini dan tidak mencurigai apa pun. Tapi adikku menjadi sedikit pucat dan tahu makna dari perkataanku. Dia pun tidak jadi berkata apa-apa.

Cerita Dewasa : Sejak itu, setiap kali ada kesempatan, aku selalu meniduri adikku. Tentu saja kami mempraktekan safe sex dengan kondom dan pil. Setelah dia lulus SMA, kami masih melakukannya, bahkan sekarang dia sudah menikmati permainan kami. Terkadang, dia sendiri yang datang memintanya. Ketika dia lulus SMA, aku yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank bonafid dipindahkan ke Jakarta. Aku meminta orang tuaku untuk mengijinkan adikku kuliah di Jakarta. Tentu saja aku beralasan bahwa aku akan menjaganya agar adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Orang tuaku setuju dan adikku juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Jakarta dan menikmati kebebasan kami. Hal yang berbeda hanyalah aku bisa melihat bahwa adikku telah berubah menjadi gadis yang lebih binal.
04.00 | 0 komentar

Senin, 04 Februari 2013

Cerita Dewasa : Darah Perawan Anak SMP

kali ini saya akan Memberikan Cerita Sex Tentang Cerita Dewasa Pecah Perawan Darah Anak SMP,langsung saja kita simak - Rima siswi SMP akhirnya merasakan betapa nikmatnya sex itu. Ia juga terlena akan betapa mantapnya di entot dari belakang -- disodomi---. 

Bahkan pada pengalaman pertamanya, saat ia harus kehilangan keperawanan, ia tak hanya mendapat jackpot ngentot di semua lobang yang dimiliki, tapi juga sekaligus 2 lobangnya dimasuki kontol pacar Rima dan kawannya.
"Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino.
Aku seorang pelajar SMP kelas II, namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah. Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku. Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.
Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu. Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi. Pembantunyapun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.
Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku. 10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku. Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila .Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.
"Rim .kamu sayang aku enggak?"tanyanya padaku. "Eh..emang kenapa, Din ?"kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi "Aku pengen kayak gitu ."kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi.
Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding ."Rima?"kata Dino lagi. "Eh enggak ah enggak mau malu ."kataku. "Malu sama siapa?"kata Dino. Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. "Malu sama Agus dan Anggi tuh "kataku. "Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih "kata Dino. "Ah..jangan ah "kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celanapanjang jeans. Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini ."Buka Bhnya, ya sayang "pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada. Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus "Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa"kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku "Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti ."kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style. Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila "Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih "pinta Dino. "Jangan Din takut ."kataku. "Takut apa sayang?"kata Dino. "Takut hamil "kataku. "Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah "katanya.
Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membukaseluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat .Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku"Ah..sakit, pelan-pelan, Din.."teriakku ketika jari itu memasuki nonokku. Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . "Din, isep dong punyaku "pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. "Ah..enggak ah "kataku menolak. "Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh "pinta Dino memelas.

Cerita Dewasa Pecah Perawan Darah Anak SMP - Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. "Ayo dong Rima sayang "pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal "Hisap dong sayang seperti kamu makan permen "Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. "Ah ah .uuuhhh enak sayang teruskan .." erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku. Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkinsudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak"Aduuh sakit Din pelan-pelan dong " Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih .Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku ."Ahhh perih Din "kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. "Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok "katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku. Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali "Terus Din Terus ahhhh ah .enak ."kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang .ah ternyata ngentot itu nikmat .surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati ."Din ah.ah .aku aku ."entah apa yang aku ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa "Keluarkan saja sayang kamu mau keluar ."kata Dino. "Ahh iya Din aku mau keluar .."tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku . http://memanjakan.blogspot.com/
Dino terus mengocok kontolnya kuat juga pacarku ini, pikirku. "Satu nol, sayang"kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, aku sedikit kecewa "Kenapa dicopot Din.."tanyaku. "Kita coba doggy style, sayang "jawabnya sambil membimbingku berposisi seperti anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangankeras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan akhirnya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa dia terus mengocok kontolnya di memekku. Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itudipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? "Mau ngapain Din "tanyaku penasaran ."Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang "jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil. Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku "Aduuuh sakit Din "kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. "Tenang sayang nanti juga enggak sakit "jawab Dino sambil melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku "Aduuuhh sakiiiitt "kataku lagi. "Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang "kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. "Kamu sudah sering disodomi, Nggi?"tanyaku. "Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang aku yang minta abis enak sih udah tenang saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo.."kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.
Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku ."Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap bisa dientot hi hihi "kata Anggi. Aku diam saja. Ternyata sakit kalo disodomi .Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. "Pelan-pelan, Din masih sakit "pintaku pada Dino. "Iya sayang enak nih sempit"katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya aku semakin menggelinjang nikmat "Anggi ah .enak "kataku. "Ayo Din, kocok terus, biar aku mengucek nonoknya, biar rasa sakit itu bercampur rasa nikmat"kata Anggi pada Dino. Benarsekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat ."Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus "kata Anggi. "Tanya Rima saja deh, aku lagi asyik nih"jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. "Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin aku sering kok "pinta Anggi. "Ah..jangan deh "kataku."Sudahlah Rima, kasih saja aku rela kok"kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku. Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. "Jaang "kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah aku dientot dan disodomi . ½ jam Agus dan Dino mengocok kontolku. Aku lemes sekali baru sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak kuat menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak adaduanya .aku sebenarnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.http://memanjakan.blogspot.com/
Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontolnya ke mulut Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melakukan hal yang sama, tadinya aku ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya dimulutku akupun menelannya. Ah..rasanya asin dan agak amis setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. "Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu "katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino. Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu aku menangis di pelukan Dino ."Din, aku sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan aku yaa ."kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.
"Iya sayang aku makin cinta sama kamu aku janji enggak akan meninggalkanmu tapi kamu harus janji yaa "katanya. "Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi janji apa ?"kataku balik bertanya. "Janji, kita akan mengulangi ini lagi aku bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang "kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku diam saja, aku juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. "Janji ya sayang "katanya lagi mendesakku. Aku hanya mengangguk. "Sudah jangan nangis sekarang kamu mau langsung pulang atau mau istirahat dulu?"tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini baru pertama kali aku berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat.
Gimana gan?? Mantap gak ceritanya??
kalo belum puas silahkan baca cerita lainnya di bawah ini..
19.59 | 0 komentar

Cerita Dewasa : Aku diperkosa teman kantor mesum

kali ini saya akan Memberikan Cerita Sex Tentang Cerita Dewasa Diperkosa Teman Kantor,langsung saja kita simak - Benar-benar memalukan karena sebenarnya aku gak ingin kisah ini terjadi pada Lia teman kantorku. Lia adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang.
Cerita Dewasa
Cerita Dewasa Diperkosa Teman Kantor
Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum. berikut awal cerita pemerkosaan itu.Suatu hari di sore hari Lia terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka.
Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Lia merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.
“Mau kemana Lia?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Lia terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Lia menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Lia, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Lia menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Lia menjawab.
Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Lia. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Lia. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Lia yang berwarna putih berenda. Lia berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.
Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Lia menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Lia di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Sepatunya terlepas.
Diperlakukan seperti itu, Lia juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Lia yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.
Tubuh Lia memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Lia sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Lia tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Lia merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Lia dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.
Cerita Dewasa Aku Diperkosa Teman Kantor Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Lia membuka mulutnya. Lia memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Lia.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.
“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.
Lia menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, tapi tak berdaya.
Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Lia lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Lia gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.
Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Lia terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.
Lia ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Lia dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Lia, kulum punyaku!”, Lia yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Lia menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.
Tubuh Lia yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Lia dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Lia.
Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.
Tubuh telanjang Lia diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Lia yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Lia disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Lia tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.
Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Lia berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Lia mulai dijadikan bulan-bulanan. Lia hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.
Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Lia bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”
Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Lia dengan berbagai posisi. Lia yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Lia tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Lia sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.
18.56 | 0 komentar

Sabtu, 02 Februari 2013

Cerita Seks Dewasa : Pemerkosaan Dukun Cabul Part 2

Cerita Seks Dewasa : Pemerkosaan Dukun Cabul Part 2

Koleksi Artikel Cerita Dewasa Diperkosa, Diperkosa Dukun Cabul Part 2, Cerita Dewasa Gratis Di memanjakan.blogspot.com


Bagi Hendarto Wibowo, pengusaha berusia 40 tahun, unsur klenik merupakan hal yang dapat diandalkan menuju kesuksesan hidup. Untuk mengelola bisnis pariwisata dan perhotelan yang dimilikinya, sudah puluhan tahun ini Hendarto menggunakan jasa paranormal.  Tak dinyana, paranormal pribadinya justru menikmati sensasi seksual bersama istrinya.

Siang itu Hendarto membawa mbah Bromo, paranormal berusia 60 tahun, untuk membersihkan rumahnya dari kemungkinan gangguan pesaing bisnisnya.

Sudah tiga tahun ini ritual bersih rumah dilakukan Mbah Bromo tiap enam bulan sekali di rumah Hendarto. Prosesinya antara lain memercik air bunga ke tiap sudut ruangan di dalam rumah Hendarto. Biasanya dilakukan sejak siang hari hingga menjelang malam.

“Maaf mbah mungkin kali ini saya tidak bisa mengikuti ritual ini sampai selesai, karena saya harus keluar kota untuk kepentingan perusahaan. Tapi istri saya akan tetap di sini membantu mbah sampai ritual selesai,” kata Hendarto di tengah jalannya prosesi ritual.

“Oh begitu. Ya ndak apa pak Hen, ditinggal saja biar saya selesaikan tugas saya. Lagi pula pembersihan di ruang tamu dan kamar kerja pak Hen sudah selesai, nanti biar di ruangan lainnya saya teruskan sendiri. Ndak usah suruh nyonya membantu, biar saya kerjakan sendiri,” kata mbah Bromo.

“Eh.. jangan mbah, biar istri saya membantu ya,” kata Hendarto lagi. Ia kemudian memanggil Irma, istrinya di ruang keluarga.

Irma berusia 30 tahun, berwajah ayu, kulit putih, dan tubuhnya sintal. Selama melakukan ritual di rumah Hendarto, mbah Bromo memang belum perah melihat Irma dan dua anak Hendarto. Setiap ritual dilakukan rumah memang harus dalam keadaan kosong penghuni, kecuali satu orang anggota keluarga yang mendampingi mbah Bromo. Biasanya Hendarto menitipkan istri dan anaknya ke rumah mertuanya.

“Ini kenalkan mbah.. ini Irma istri saya. Mama, kenalkan ini mbah Bromo yang pernah papa ceritakan,” kata Hendarto begitu Irma tiba di ruang tamu. Keduanya langsung berjabatan tangan dan berkenalan.

“Iya mbah.. suami saya harus ke lar kota sekarang, jadi biar ritual pembesihan rumahnya saya yang gantikan untuk membantu mbah. Si mbok dan anak-anak sudah saya bawa ke rumah opa-omanya,” kata Irma.

“Waduh.. sebenarnya bu Irma ndak usah repot ndak apa.. saya bisa selesaikan sendiri. Tapi lebih baguslah kalau bu Irma mau membantu,” kata mbah Bromo.

Mbah Bromo lalu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Irma, antara lain memegang baskom berisi air bunga tujuh rupa dan selalu berada di samping mbah Bromo saat ritual dilakukan di tiap ruangan, untuk memudahkan mbah Bromo memercikan air ke ruangan karena baskom tidak boleh diletakkan di lantai atau media apapun.

“Maaf mbah, saya potong.. saya harus berangkat sekarang. Mama, papa jalan ya,” kata Hendarto lalu pergi meninggalkan mbah Bromo dan Irma di rumah.

Irma manggut-manggut mendengarkan penjelasan mbah Bromo. Meski pekerjaan itu mudah dan bisa dilakukan pembantu , tetapi karena harus anggota keluarga Irma bersedia melakukannya demi kesuksesan suaminya.

“Ruangan tamu ini sudah saya bersihkan, sekarang kita ke ruang keluarga bu Irma,” mbah Bromo berjalan menuju ruang keluarga, Irma membawa baskom air bunga membuntutinya.

Mbah Bromo meminta Irma duduk di sofa keluarga pada posisi duduk seperti biasanya saat menonton televisi bersama keluarga. Irma mengikuti lalu duduk di pojok kanan dengan kedua tangan tetap memegangi baskom.

Mulut mbah Bromo komat-kamit membaca mantra dengan mata terpejam, lalu kedua tangannya dimasukkan dalam baskom yang dibawa Irma, dan mulai memercikkan air ke ruang itu berkeliling dari sudut ke sudut.
Setelah selesai, ritual kemudian pindah ke kamar tidur utama, kamar tidur Hendarto dan Irma di lantai dua. Mbah Bromo kembali meminta Irma tidur di ranjang pada posisi seperti biasanya, dan Irma menuruti, berbaring dengan tetap memegang baskom air bunga di atas perutnya.

“Oh.. maaf bu Irma.. saya lupa memberi tahu. Kalau bisa busananya juga harus diganti dengan baju tidur yag biasa dipakai sehari-hari di kamar tidur ini,” kata mbah Bromo.

Irma sedikit terkejut mendengarnya sebab Hendarto tidak pernah bercerita tentang itu. Tapi akhirnya ia menurut juga. Mbah Bromo keluar ruangan membiarkan Irma bersalin pakaian.

“Sudah mbah.. silahkan diteruskan,” Irma mengenakan daster tipis merah muda yang biasa dipakai saat tidur. Ia merasa agak risih juga ketika mbah Bromo masuk ke kamar, karena kebiasaan setiap tidur Irma tak pernah menggunakan pakaian dalam, CD dan Bra.

Mbah Bromo menangkap kerisihan Irma, apalagi daster tipis membuat putting susu Irma membekas jelas.

“Ndak usah risih bu Irma.. ini demi ritual. Bu Irma memang cantik dan sexy, tapi mbah kan sudah tua, sudah ndak bisa bangun.., jadi ndak mungkin berbuat macam-macam,” kata mbah Bromo tersenyum. Irma kemudian berbaring seperti semula dan mbah Bromo melanjutkan ritualnya.

Kata-kata mbah Bromo membuat Irma lega, sebab sesuatu bisa saja keluar dari rencana bila seorang wanita seperti Irma berada sekamar dengan pria lain yang normal.

Tapi.. apa iya mbah Bromo sudah nggak bisa bangun?. Pertanyaan itu justru berkeliaran di benak Irma. Ia memandangi sosok mbah Bromo yang masih berdiri merapal mantra-mantra membelakanginya.

Usia mbah Bromo memang sudah tua, rambut, kumis dan jenggotnya sudah memutih sebagian. Tapi fisiknya masih kelihatan sangat bugar. Tingginya sekitar 180 cm, lebih tinggi dari Hendarto. Irma pun hanya sebatas dagunya kalau berdiri berdampingan.

Tubuh mbah Bromo juga nampak kekar dilapisi kulit hitam legam. Saat tangan mbah Bromo membasuh di baskom, Irma bisa melihat jemari-jemarinya yang kekar dengan buku-buku jari yang besar-besar.

Apa iya mbah Bromo sudah impoten, seperti katanya barusan? Lagi-lagi pertanyaan itu mengecamuk di bathin Irma. Diam-diam ia membayangkan bagaimana perkasanya mbah Bromo saat masih muda.

“Bu Irma sudah selesai bu..,” mbah Bromo mencolek bahu Irma yang melamun.

“Oh.. eh.. iya mbah.. sudah ya?,” Irma malu sendiri karena ketahuan sedang melamun.

“Ibu kenapa? Kok sepertinya ada yang dipikirkan?,” tanya mbah Bromo menatap Irma.

“Eh.. nggak mbah. Ah anu.. saya tiba-tiba kepikiran tentang mimpi-mimpi serem yang sering saya alami belakangan ini. Apa bisa mbah mengusirnya?,” Irma sembarang celetuk mengarang cerita untuk menutupi malu. Tapi cerita karangannya justru menjebaknya dalam situasi makin rumit akhirnya.

“Oh itu. Bisa bu.. nanti setelah pembersihan rumah saya akan lihat apa penyebabnya ya.. mungkin ada yang mengganggu ibu,” kata mbah Bromo.

Ritual dilanjutkan ke kamar mandi di dalam kamar tidur utama. Di sini Irma jadi serba salah, karena ia harus berada pada posisi seperti biasanya. Tapi kegundahan Irma terobati setelah mbah Bromo mengatakan tak harus telanjang, tetapi cukup dengan melilit handuk di tubuhnya.

Irma berdiri di bawah shower dengan handuk biru melilit tubuhnya dan kedua tangan memegangi baskom air bunga. Mbah Bromo kemudian mengaktifkan shower sehingga tubuh Irma kuyub tersiram bersama handuk yang dipakainya.

Mbah Bromo mulai memejam mata dan merapal mantra-mantra, kemudian mulai memercik air ke sudut-sudut kamar mandi.

Belum lagi usai prosesi di kamar mandi itu, tiba-tiba lilitan handuk di tubuh Irma melonggar karena siraman shower. Irma panik dan berusaha menahan agar handuk tidak melorot, tapi terlambat, ujung handuk kanterjuntai ke bawah membuat hanya bagian kiri tubuh Irma yang tertutup.

Astaga, bagaimana ini, pikir Irma tak karuan. Tubuhnya telanjang bulat di bagian kanan, tepat di hadapan mbah Bromo. Bagaimana kalau mbah Bromo tidak lagi terpejam? Pasti semua kebugilannya terlihat jelas.

Masih dalam kepanikan Irma, mbah Bromo tiba-tiba mengamit ujung handuk yang luruh, kemudian membantu melilitkan di tubuh Irma.

“Maaf bu Irma.. saya bantu membenarkannya ya,” katanya, sementara Irma tak bisa bersuara. Mbah Bromo kemudian melanjutkan prosesi ritualnya.

Irma kembali didera beragam pertanyaan dan perasaan aneh tentang mbah Bromo. Saat membenahi handuk di tubuh Irma, jemari mbah Bromo sempat menyusup dan menyentuh kulit mulus di pangkal payudaranya. Ada desiran aneh menjalari Irma saat kulit kasar mbah Bromo menggesek pangkal payudaranya. Desiran yang selama ini mulai jarang dirasakan bersama Hendarto, suaminya.

“Sekarang prosesi sudah selesai bu. Apa ibu jadi mau menyelesaikan masalah mimpi buruknya?,” suara mbah Bromo mengejutkan Irma.

“Bu Irma bisa pakai daster lagi.. dan saya akan merowah ibu,” kata mbah Bromo sambil keluar kamar mandi ke kamar tidur, sementara Irma kembali mengenakan daster tipisnya.

Mbah Bromo meminta Irma berbaring di ranjang, Irma menurut dengan hati berdebar-debar tak karuan. Dengan posisi duduk di sisi ranjang, mbah Bromo meletakkan telapak tangan kanannya di dahi Irma sambil merapal mantra. Irma mengamati mbah Bromo yang terpejam berkomat-kamit. Wajah mbah Bromo masih meninggalkan gurat-gurat ketampanan, semakin terkesan jantan dengan tukang rahang yang menonjol.

“Ehm.. apa kira-kira penyebab mimpi-mimpi itu mbah,” Irma beranikan diri bertanya. Mbah Bromo membuka mata dan menatap mata Irma membuat Irma salah tingkah.

“Hmm.. maaf bu Irma. Sepertinya ada yang berusaha mengguna-gunai ibu, dan sudah masuk sebagian merasuk ke aliran darah ibu. Mungkin saingan bisnis pak Hendarto yang sudah kewalahan tak bisa menembus pak Hen kemudian menyasar ibu,” jawab mbah Bromo.

Irma jadi takut. Bukankah soal mimpi buruk itu hanya karangannya? Tapi soal guna-guna, jangan-jangan memang benar sudah merasuk di tubuhnya.

“Apa berbahaya mbah?,” tanya Irma ketakutan.

“Kalau tidak segera dibersihkan bisa bahaya bu. Kalau tidak kuat ibu bisa hilang akal sehat, bisa gila. Tapi untung cepat terdeteksi,” kata mbah Bromo.

Mbah Bromo kemudian menjelaskan bahwa untuk mengusir guna-guna dan membersihkan yang sudah terlanjur merasuk ke dalam aliran darah, maka Irma harus menjalani ritual pembersihan seperti ritual pembersihan rumah. Caranya dengan dimandikan air kembang tujuh rupa oleh mbah Bromo.

Mbah Bromo meminta Irma tetap berbaring, sementara ia mengambil baskom air kembang sisa prosesi tadi di kamar mandi.

Setelah kembali duduk di sisi ranjang, mbah Bromo mulai merapal mantra dan memercikkan air kembang ke sekujur tubuh Irma, mulai kepala sampai kaki.
“Maaf bu, mungkin sedikit risih.. tapi jangan dirasakan ya, karena perlawanan bisa menggagalkan ritualnya,” kata mbah Bromo. Belum sempat Irma menjawab, telapak tangan mbah Bromo mulai menelusuri tubuh Irma seolah mengolesi dengan air kembang.

Irma tak punya pilihan. Ketakutannya mengalahkan akal sehatnya, dan ia menuruti apa saja perkataan mbah Bromo. Ia merasakan tangan mbah Bromo mengusap-usap lehernya lalu turun ke dada. Usapan berlanjut ke dua payudara Irma membuat Irma merasakan desiran aneh luar biasa.

Daster tipis tanpa bra membuat telapak tangan mbah Bromo sangat terasa menyentuh dan mengusapi putting susu Irma. Irma memejamkan mata dan berhayal yang sedang mengelus tubuhnya adalah Hendarto suaminya. Maksud Irma adalah untuk menghilangkan risih yang sedang melanda dirinya. Lagipula, bukankah mbah Bromo impoten? Begitu pikirnya.

Tapi niat Irma justru menyeretnya ke posisi yang lebih sulit. Dengan membayangkan suaminya yang sedang mengusap tubuhnya, libido Irma malah terpacu dan gairah seksnya meninggi.

Irma merasakan tangan mbah Bromo mulai menjalar ke kakinya. Sentuhan nikmat mulai dirasakan Irma di bagian pahanya, tanpa disadari tangan mbah Bromo terus menelusup bagian bawah daster, dan mulai mengusapi kulit paha Irma.

“Aahh.. mas Hen..,” Irma mendesis mencoba membendung gairahnya, pikirannya semakin tertuju pada Hendarto yang sedang menjelajahi tubuhnya.

Mbah Bromo menangkap libido Irma yang mulai meningkat, ia kemudian memberanikan diri mengusapi pangkal paha Irma dan sesekali tangannya menyetuh bibir vagina Irma yang tidak terbungkus CD. Irma menggelinjang dan mulai melebarkan kakinya memberikan ruang lebih luas bagi sentuhan mbah Bromo.

Daster bagian bawah sudah tergulung sampai ke perut Irma, paha mulus dan rambut tipis di vagina Irma terpampang jelas di hadapan mbah Bromo. Mbah Bromo ingin sekali mengusapi vagina Irma, bagaimana pun ia lelaki normal dan masih bisa ereksi di usia tuanya. Pengakuan impoten dilakukan mbah Bromo sebenarnya hanya agar kliennya merasa nyaman saat ritual dilakukan. Tapi mbah Bromo tak berani melangkah lebih jauh karena takut dilaporkan ke Hendarto, sebab selama dua tahun ini Hendarto sudah menjamin perekonomian keluarganya bahkan sampai ia mampu mengkuliahkan anaknya.

“Ehmm.. maaf bu Irma..,” suara mbah Bromo menyadarkan Irma.

“Oh.. eh.. iya mbah. Sudah selesaikah?,” Irma terkejut membuka mata, gelagapan bercampur malu menyadari dirinya bugil di bagian bawah, dan segera membenahi letak dasternya. Nafas Irma sedikit berat desiran kenikmatan masih tersisa padanya.

“Belum bu, guna-gunanya cukup kuat dan sudah merasuk jauh ke aliran darah bu Irma,” mbah Bromo kini yang mulai mengarang cerita.

“Daster ini menyulitkan saya melakukan ritual.. karena sebetulnya harus kulit tubuh bu Irma yang langsung dibaluri air kembang,” katanya tanpa menunggu reaksi Irma.

Rasa takut gila karena guna-guna ditambah desir kenikmatan yang terlanjur ia rasa akibat sentuhan jemari mbah Bromo membuat Irma sama sekali berada di bawah konrol mbah Bromo. Ia menuruti perkataan mbah Bromo untuk menanggalkan dasternya, dan untuk tidak bercerita pada Hendarto suaminya tentang ritual mereka.

“Silahkan mbah.. dilanjutkan ritualnya. Yang penting saya sembuh mbah,” kata Irma yang sudah kembali berbaring dalam keadaan telanjang.

Mbah Bromo terbelalak tak percaya, betapa tubuh mulus istri Hendarto terpampang telanjang di hadapannya menunggu disentuh dan dijelajahi olehnya.

Dengan sikap serius seolah ritual sesungguhnya, mbah Bromo kembali komat-kamit dan mulai menyentuh Irma. Air kembang dipercikkan lalu tangan mbah Bromo menelusuri payudara Irma, sebentar kemudian ke perut, tetapi kemudian kembali lagi ke payudara.

Irma memejam dan menggelinjang merasakan sentuhan langsung telapak tangan kasar mbah Bromo di kulit mulusnya. Tangan kiri mbah Bromo mulai meremasi payudara Irma bergantian, sebelah kanan dan kiri, sementara tangan kanannya menelusur ke bawah mengusapi paha dan selangkangan Irma.

Nafas Irma semakin berat saat merasakan sentuhan mbah Bromo mulai menjelajahi di bagian vitalnya. Irma ingin melawan dan menolak, tetapi rasa takut akan guna-guna dan kenikmatan yang sedang melanda mengalahkan perasaan risihnya. Ia memutuskan untuk kembali membayangkan bahwa suaminya yang sedang menjelajahi tubuhnya.

Mbah Bromo mengangkangkan kedua kaki Irma membuat vagina Irma semakin jelas terlihat. Perlahan ia memberanikan diri membelai lebih intens permukaan vagina Irma, ia merasakan cairan vagina Irma mulai merembes keluar membuat permukaannya semakin licin berlendir.

“Ahhhsss..,” Irma mendesis tak kuasa menahan kenikmatan sentuhan-sentuhan di tubuhnya. Ia merasakan sesuatu menguak bibir vaginanya dan saat yang sama putting susunya terasa dipilin-pilin, diremas-remas.

Di saat libidonya semakin tak terbendung, Irma merasakan sesuatu yang hangat menyapu-nyapu bibir vaginanya. Benda lunak bertekstur kasar itu mulai menyapu vaginanya secara rutin berirama.

“Ouhh.. ahhss. Mbah, kenapa digituin?,” Irma terperanjat saat menyadari kini kepala mbah Bromo seolah tenggelam diselangkangannya. Rupanya benda hangat yang nikmat menyapu vaginanya adalah lidah mbah Bromo yang menjilatinya.

“Eh.. oh.. maaf bu Irma, ini harus saya lakukan untuk menyedot guna-gunanya. Ini sudah hampir selesai. Tapi kalau ibu keberatan.. saya minta maaf bu Irma,” mbah Bromo nampak khawatir Irma marah dan melaporkannya pada Hendarto.

Tapi ternyata Irma tidak marah. Ia malah kembali memejamkan mata dan melebarkan dua kakinya memberi isyarat pada mbah Bromo untuk melanjutkan jilatan-jilatannya.

Benak Irma berhenti membayangkan Hendarto suaminya, sebab selama menikah hingga punya dua anak, sekali pun tak pernah Hendarto menjilati vagina Irma. Padahal dari film-fim porno yang mereka nikmati bersama selama ini, Irma ingin sekali merasakan bagaimana jika vaginanya disentuh dengan lidah, dijilati dan dihisap.

“Ahhk.. mbah..,” Irma mulai terbawa gairahnya. Mbah Bromo, lelaki tua yang baru dikenalnya ternyata tidak jijik menjilati vitalnya, tidak seperti suaminya yang merasa jijik kalau harus menjilati vagina Irma.

Tanpa disadari tangan Irma mulai meraih rambut mbah Bromo di selangkangannya dan berusaha menekan agar jilatan di vaginanya lebih terasa.

Kumis dan jenggot mbah Bromo yang kasar menambah rasa geli di vagina Irma. Lidah mbah Bromo semakin leluasa menjelajahi gundukan vagina Irma yang sudah sangat basah berlendir. Rintihan Irma semakin keras dan sering terdengar.

Mbah Bromo turut terpacu libidonya, sambil terus menjilat dan menghisap bibir vagina Irma, tangganya mulai memelorotkan celana kolor hitamnya. Penisnya mengacung tegang kemudian dikocok-kocok dengan tangan kirinya, sambil membayangkan ia sedang menyetubuhi Irma.

Irma mulai merasakan sensasi disekitar vaginanya, seperti ada hawa panas menjalar di pangkal pahanya. Hawa panas itu terus mendesak dan berkumpul dipusat klitorisnya, semakin lama semakin mendesak setiap kali jilatan mbah Bromo menerpa. Kedutan-kedutan mulai ia rasakan di vaginanya. Tangannya semakin meremas kencang rambut mbah Bromo. Sementara pinggulnya tergetar hebat seperti hendak menguyak kepala mbah Bromo di jepitan pahanya.

“Ouhh.. mbaahhhh… akkkssshhh…,” Irma setengah menjarit ketika kumpulan hawa panas itu meledak mencapai orgasmenya. Di saat bersamaan kocokan tangan mbah Bromo membuat penisnya terasa hendak meledak menyeburkan sperma kenikmatan. Tangannya segera menyembar daster Irma yang luruh di ranjang, lalu menghadang semburan spermanya menggunakan daster Irma.

Irma lunglai tak bertenaga, masih terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya. Mbah Bromo duduk di sisi ranjang kembali menyaksikan wajah cantik Irma setelah orgasmenya.

“Sudah tuntas bu Irma.. sudah keluar semuanya,” kata mbah Bromo. Irma tak mampu bicara, ia merasa lemas bercampur malu menyadari lelaki lain sudah melihat tubuhnya. Ia lalu duduk dan mengamit selimut untuk menutupi tubuh bugilnya, bersandar di kepala ranjang.

“Bagaimana rasanya bu Irma?,” tanya mbah Bromo.

“Hmm.. nikmat mbah..,” jawab Irma tanpa sadar.

“Maksud bu Irma?,” mbah Bromo seolah memancing.

“Oh.. eh.. anu.. maksud saya. Maksud saya sudah agak ringan sekarang, mungkin karena guna-gunanya sudah keluar,” kata Irma malu.

Tiba-tiba pikiran Irma kembali tertuju pada fisik mbah Bromo. Apa benar si mbah tidak ereksi penisnya saat memperlakukannya seperti tadi.

“Mbah.. maaf ya kalau saya tanya. Apa tadi mbah tidak merasakan gairah seks? Waktu menghisap guna-guna dari tubuh saya tadi?. Apa anu mbah tidak tegang?,” ia beranikan bertanya untuk menjewab penasarannya.

“Kan mbah sudah bilang.. mbah impoten bu Irma. Ibu mau lihat?,” mbah Bromo langsung berdiri tanpa menunggu jawaban Irma, ia langsung melorotkan celana hitamnya tanpa CD.

Penis mbah Bromo menggelantung keluar, nampak lagi tanpa ketegangan sebab klimaksnya sudah sampai dengan onani tadi.

Irma terbelalak memperhatikan bentuk penis mbah Bromo. Dalam kondisi tidur penisnya itu tetap besart, lebih besar dari milik Hendarto. Pikirannya kembali tak karuan, bagaimana besarnya kalau penis hitam mbah Bromo itu tegang?.

“Ndak sebesar punya pak Hen ya bu?,” tanya mbah Bromo.

“Eh.. hmm.. hampir sama kok,” jawab Irma. Ia malu mengakui penis Hendarto tergolong kecil, apalagi dibanding penis mbah Bromo.

Tapi mbah Bromo sudah tahu kalau penis Hendarto ukuran mini. Sebab selama ritual pembersihan rumah sebelumnya, mbah Bromo sudah melihat penis Hendarto ketika pembersihan tanpa busana di kamar mandi. Hendarto bertubuh tambun dengan perut membuncit. Penisnya pun tidak bertahan lama kalau bersetubuh dengan Irma.

“Ya sudahlah bu Irma, mbah pamit pulang ya. Ndak enak kalau pak Hen datang, nanti jadi salah paham melihat kita berdua di kamar ini dalam kondisi begini,” mbah Bromo merapikan celananya dan bersiap keluar kamar. Irma ikut bangkit dengan melilit selimut menutupi tubuhnya.

“Sebentar mbah.. ini ada sesuatu dari saya untuk istri dan anak mbah di rumah,” Irma mengeluarkan beberapa lembar uang dari lemari dan menyisipkannya di kantung baju hitam mbah Bromo. Mbah Bromo tak menolak pemberian itu, anggap saja rejeki tambahan.

“Hmmm mbah.. satu pertanyaan lagi boleh ya? Apa mbah sudah tidak pernah bersetubuh sama istri?,” kata Irma.

“Oh ndak apa kalau ibu ingin tahu. Sebenarnya ya masih bu kadang-kadang. Tapi anu mbah baru bisa berdiri di saat-saat tertentu tanpa mbah tahu. Ya sudah mbah pamit permisi bu,” jawab mbah Bromo lalu pergi meninggalkan rumah Hendarto. (bersambung)


Download video pemerkosaan Dukun Cabul tanpa sensor


18.04 | 0 komentar

Jumat, 01 Februari 2013

ABG Igo imut part 2


22.00 | 0 komentar