Trending Topic

Jumat, 25 September 2015

Seks Melalui Lubang Dubur Yang Kucoba Dengan Teman Pacarku

Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Cerita ini adalah cerita dewasa terbaru bergambar Melakukan Phone Sex Dengan Orang Yang Sudah Lama Kurindukan, kini ada cerita seks mesum Seks Melalui Lubang Dubur Yang Kucoba Dengan Teman Pacarku, selamat membaca.

Hampir tidak percaya bahwa hari telah larut malam. Aku masih berada di ruang komputer kampus sendirian. Pegal rasanya seharian menulis tugas yang harus diserahkan besok pagi. Untunglah akhirnya selesai juga. Sambil melepas lelah iseng-iseng aku buka internet dan masuk ke situs-situs porno. 
Seks Melalui Lubang Dubur Yang Kucoba Dengan Teman Pacarku
Seks Melalui Lubang Dubur Yang Kucoba Dengan Teman Pacarku

Aku membuka gambar-gambar orang bersenggama lewat anus. Mula-mula terasa aneh, tapi makin lama aku merasakan fantasi lain. Aku merasakan erangan perempuan yang kesakitan karena lubang duburnya yang sempit ditembus dengan kemaluan yang mengeras. Ah.. khayalanku semakin jauh.

Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara pintu ruangan membuka dan menutup. Hii.. aku lihat sudah jam 22:30, malam-malam begini pikiranku jadi membayangkan hal-hal menakutkan. Tapi kemudian aku dikagetkan lagi ketika melihat seorang perempuan membawa map berisi beberapa lembar kertas dan dua buah buku tipis masuk kemudian menaruhnya di sebelah komputer, lalu menyalakan komputer dan mengetik. 

Komputernya terhalang tiga meja komputer di sebelahku. Aku jadi lega, sekarang ada teman, walaupun dia tidak memperhatikan aku sama sekali. Aku perhatikan dari samping, wajahnya manis dengan hidung yang kecil dan mancung. Kulitnya tidak terlalu putih, tapi mulus dengan jaket jeans lengan pendek yang dikenakannya, dia tampak cantik.

Tapi, akh peduli amat. Aku melanjutkan buka-buka situs tadi, anganku semakin menerawang, kemaluanku agak menegang. Dan akhirnya aku melirik pada perempuan di ruangan itu, dan langsung aku melirik pantatnya. Besar! pikirku. Tiba-tiba saja aku membayang kalau kemaluanku merobek-robek pantatnya yang menggiurkan itu. Aku jadi deg-degan, semakin dibayangkan semakin menjadi-jadi kemaluanku menegang. Sampai akhirnya aku nekat mendekati dia. Aku mencoba menenangkan diriku agar tampak normal.

"Ma'af.. sedang mengerjakan tugas?" suaraku sedikit bergetar.
Dia melirikku sebentar lalu matanya tertuju lagi ke layar komputer, sambil menjawab,
"Iya.. Mas.. aku kelupaan menuliskan beberapa judul buku dalam daftar kepustakaan, cuma dikit kok."
"Rumahnya deket sini?"
"Iya di asrama, dan saya biasa kerja malam-malam begini," jawabnya.
"Nah.. selesai deh," dia membereskan kertas-kertas, lalu terdengar suara mesin printer bekerja.
Dia mengambil hasilnya dan kelihatan puas.

"Bisa pulang sama-sama?" aku bertanya sambil mataku sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah pantatnya yang kelihatan besar membayang dibalik celana trainning kain parasitnya. Aduh, dadaku mendesir.

"Sebentar aku tutup dulu komputerku ya.."
Aku bergegas pergi ke komputerku.
"Mas sedang ngerjakan apaan?"
Aku kaget tidak menyangka kalau dia mengikuti aku.
"Ah.. ini.. iseng-iseng aja buka-buka internet, capek sih ngetik serius terus dari tadi."
"Eh.. gambar-gambar gituan yaa? Hi ih!" dia mengangkat bahunya, tapi mulutnya tersenyum.
"Ah.. iseng-iseng aja.. Mau ikutan liat-liat?" tiba-tiba keberanianku muncul. Dan di luar dugaan dia tidak menolak.
"Tapi bentar aja yaa.. entar keburu malam!" dia langsung duduk di kursi sebelahku.
Makin lama kami makin asyik buka-buka gambar porno, sampai akhirnya,
"Aku mau pulang deh Mas. Udah malem.. Aku bisa pulang sedirian.. deket kok."

Dia siap berdiri. Tapi dengan reflek tanganku cepat memegang pergelangannya. Dia terkejut. Aku sudah tidak memperdulikan apa-apa lagi, kecuali mempraktekkan gambar-gambar yang dilihat tadi. Kemaluanku sudah menegang.

Tanpa basa basi aku langsung menduduki pahanya dan langsung melumat bibirnya. "Umh.. mh.." dia berusaha meronta dan menarik kepalanya ke belakang, tapi tangan kiriku cepat menahan belakang kepalanya, sementara tangan kananku sudah memegang buah dadanya, memutar-mutar, dan meremas-remas putingnya. Gerakan perempuan itu makin lama makin lemah, akhirnya aku berani melepaskan ciumanku, dan beralih menciumi bagian-bagian tubuh lain, leher, belakang telinga, kembali ke leher, lalu turun ke bagian belahan buah dadanya. Aku melihat dia juga menikmatinya. Matanya mulai sayu, bibirnya terbuka merekah.

"Namamu siapa?" aku tampaknya agak bisa mengendalikan keadaan. Dia tidak menjawab. Hanya matanya yang sayu itu memandang kepadaku. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi ah tidak perduli aku mengangkat berdiri tubuhnya, lalu aku duduk di kursi, kutarik badannya dan dia duduk di pangkuanku. "Ehh.. hh.." dia berdesah ketika kepalaku menyeruduk buah dada yang masih terhalang T-shirt merah muda di balik jaket jeans yang terbuka kancingnya. Tanganku segera menaikkan kaosnya, sehingga tampak bagian bawah dadanya yang masih berada di balik BH. Kunaikkan BH-nya tanpa melepas, dan kembali mulutku beraksi pada putingnya, sementara tanganku meremas-remas pantatnya dan pahanya.

"Oohh.. Mas.. Mas.. Aoohh.." aku semakin menggila mendengar desahnya. Lalu aku ingin melaksanakan niatku untuk menembuskan batang kemaluanku ke pantatnya. Kubalikkan badannya sehingga dia membelakangiku. Aku pun berdiri dan menurunkan celana trainingnya dengan mudah. Dengan tidak sabar celana dalamnya pun segera kuturunkan. Aku duduk dan kutarik badannya sehingga pantatnya menduduki kemaluanku. 

"Aghh.. Uhh" aku terkejut karena kemaluanku yang sedang menegang itu rasanya mau patah diduduki pantatnya. Tapi nafsuku menghilangkan rasa sakit itu. Aku genggam kemaluanku dan kutempelkan ke lubang duburnya, lalu kutekan. "Aaah.." dia menjerit, tubuhnya mengejang ke belakang. Tapi kemaluanku tidak bisa masuk. Terlalu sempit lubangnya. Keberingasanku makin menjadi. Aku dorong tubuhnya sehingga posisi badannya membungkuk pada meja komputer. Pantatnya kelihatan jelas, bulat. Pelukanku dari belakang tubuhnya membuat dia tertindih di meja. Kutempelkan kemaluanku pada lubang pantatnya. Sementara tangan kiriku meremas buah dada kirinya. 

Mulutku pun tidak henti-hentinya menggerayangi bagian belakang leher dan punggungnya. Dengan sekali hentak paksa, kudorong masuk kemaluanku. "Aih.. ah uh aoowww.." aku pun mersa sedikit kesakitan, tapi kenikmatan yang tiada taranya kurasakan. "Jangan.. aduh aahh sakiit, tidak deh.. ahh.." Aku semakin bernafsu mendengar rintihannya. Sambil memeluk buah dadanya., kutarik dia berdiri. Lalu aku pun menggerakan kemaluanku maju mundur, mulutku menciumi pipinya dari samping belakang, sementara tanganku meremas buah dadanya, seolah-olah ingin menghancur lumatkan tubuh perempuan yang sintal itu.

Perempuan itu tidak henti-hentinya merintih, terutama ketika kemaluanku kudorong masuk. Beberapa tetes air mata menggelinding di pipinya. Mungkin kesakitan, aku tidak tahu. Tapi apa daya aku pun sudah tidak kuat menahan keluar air maniku lagi dan tubuhku mengejang, perempuan itupun mengejang dan merintih, karena tanganku dengan sangat keras meremas buah dadanya. 

Badannya ikut tertarik ke belakang, dan mulutku tanpa terasa menggigit lehernya. "Ouhh.. hh.." kenikmatan luar biasa ketika kemaluanku menyemburkan air maniku ke pantatnya. Hangat sekali. Aku terduduk dia pun terduduk di atas kemaluanku yang masih menancap di pantatnya. Kepalaku terkulai di punggungnya. Perempuan itu memandang ke arah layar komputer dengan pandangan kosong. Sementara tetes air matanya masih terus membasahi pipinya.

"Ma'afkan aku.. Aku tidak kuat nahan diri," aku mencoba menghiburnya. Tapi dia tidak menjawab.
"Siapa namamu?" tanyaku dengan lembut. Kembali dia membisu.
"Aku mau pulang.. kamu tidak perlu nganter aku.. biar orang-orang tidak tanya macem-macem," katanya dengan suara perlahan.
"Aku sebenarnya tau siapa kamu.. Mas," dia berbicara tanpa menoleh ke arahku.
"Ha.. aku.." aku tekejut.
"Ya.. karena aku temen baru pacarmu, Yuni, aku pernah liat foto-fotomu di tempat dia."
Kali ini dia menatapku dengan tajam.
"Tapi.. aku sama sekali tidak nyangka kelakuanmu seperti ini," selesai dia menaikkan celana dan membetulkan BH dan T-shirtnya.
"Tapi tidak usah khawatir aku tidak bakalan cerita kejadian ini, aku takut ini akan melukai hatinya. Dia setia sama kamu," lanjutnya.
"Kamu tidak.. kasian ama dia?"

Aku terdiam, termangu, bahkan tidak menyadari kalau dia sudah berlalu.

Akhir-akhir ini aku tahu nama gadis itu Rani, memang dia teman pacarku, Yuni. Aku menyesali perbuatanku. Rani tetap baik pada kami berdua. Kami bahkan menjadi kawan akrab. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Entah sampai kapan dia akan menyimpan rahasia ini. Aku kadang-kadang khawatir, kadang-kadang juga memandang iba pada Rani. Oh, aku telah menghancurkan gadis yang tulus. END by Cerita Seks 15 - Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru -
05.35 | 0 komentar

Kamis, 24 September 2015

Melakukan Phone Sex Dengan Orang Yang Sudah Lama Kurindukan

Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Cerita ini adalah cerita dewasa terbaru bergambar Fantasi Liarku Keinginan Melakukan Hubungan Seks Dengan Office Boy, kini ada cerita sex mesum Melakukan Phone Sex Dengan Orang Yang Sudah Lama Kurindukan, selamat membaca.

Malam itu seperti biasa Eksanti tidur sendiri di kamar kost-nya. Tetapi Eksanti tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.
Melakukan Phone Sex Dengan Orang Yang Sudah Lama Kurindukan
Melakukan Phone Sex Dengan Orang Yang Sudah Lama Kurindukan

Sudah seminggu ini Eksanti tidak berjumpa dengan aku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. Siang tadi Eksanti telah berulang kali menelphone HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul dibenaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa. 

Lalu ia pun berniat mengontak aku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Eksanti tidak mau melanggar komitmen untuk tidak menggaguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata telphonenya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. Siapa orang itu dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam tidur, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri mengkontakku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Eksanti, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Eksanti. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuat aku terbakar cemburu selain birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telephone di sisi ranjangku. Haruskah aku menelphone Eksanti sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telephone, namun sebelum sempat memutar nomer telephone-nya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini? Ahh.. tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Ketika Eksanti hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa..?", ujarnya sedikit malas.
"Santi, ada telephone untuk kamu di depan", ujar suara Eni teman kostnya dari balik pintu.
"Dari siapa..?, Eksanti bertanya lagi.
"Nggak bilang namanya, cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok, kakak yang mana sih San..?, temannya menjawab dengan penuh selidik.

Eksanti bergegas bangkit dari ranjangnya, ia tahu persis siapa 'kakaknya' itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, "Terima kasih yaa.. En, dia memang kakakku yang baru datang dari Malang..". Eksanti terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa 'kakaknya' itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu mengenai siapa 'kakaknya' itu, terlebih pada Eni teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Eksanti lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telephone telah diangkat ke telinganya terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.

"Halo Santi, ini Mas..", aku menyapanya.
"Halo Mas, ini lagi di mana..", ujar Santi dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
"Lagi di rumah dong.., Santi sudah mau bobo' yaa..?", tanyaku lagi.
"Ahh.. belum kok, Santi belum ngantuk..", jawab Santi sedikir berbohong.
"Kenapa..?", tanyaku lagi.
"Abis, Santi mikirin Mas.., 'kan mestinya hari ini udah masuk kantor", Santi berkata dengan penuh terus terang.
"Terima kasih.., kamu inget sama Mas, soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasi-nya sukses lho, San. Makasih yaa.. buat bantuanmu nyiapin materi", ujarku beralasan.
"Sama-sama, Mas.. Selamat yaa..", ujar Eksanti menimpali pernyataanku.
"Iyaa.. iya.. kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Ehh.. ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?"
"Di ruang tamu, mas"
"Lagi banyak orang nggak di situ"

"Ada si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo'. Ehh.. Mas, telephone-nya aku bawa ke kamar dulu yaa..", bisik Eksanti pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Eksanti dekat dengan ruang telephone itu, maka kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.
"Mas, sekarang udah aman, nggak ada siapa-siapa.. nggak ada yang nguping", Eksanti memberi sinyal kepadaku.
"Santi, Mas kangen.. nih sama kamu, pengin melukin kamu..", aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
"Ahh.. Mas, Santi juga kangen tapi gimana dong..?", Eksanti berucap pelan.

"Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang..!!", aku berkata jujur. Eksanti sedikit kaget mendengar pernyataanku yang straight forward itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi itu.

"Santi, juga.., tapi gimana", ujar Eksanti kembali.
"Santi bantuin Mas yaa..", aku meminta kepadanya.
"Bantuin apa..?", ujar Eksanti bingung.
"Bantuin biar rasa kangen Mas terobati"
"Santi mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Santi bisa. Santi mau Mas bahagia", ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.
Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan akupun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri dihadapanku saat ini. Aku ingin sekali..

"Santi pakai baju apa sekarang?", aku bertanya lagi.
"Pakai daster warna merah muda.., Mas pakai apa", Santi balik bertanya.
"Ehmm.. Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi.. Kamu pakai apa di balik dastermu San..?"
"Santi nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana dalam warna krem"
"Yang ada renda-rendanya itu?", aku bertanya penuh rasa penasaran.
"He.. em", ujernya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita canda panjang lebar untuk menanyakan keadaan masing-masing. Suara Santi yang memang sangat seksi ditelingaku itu, seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Ditengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Eksanti menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Ah, tiba-tiba darah Eksanti berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku. Bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ah, kini ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain, keluh Eksanti dalam benaknya.

"Mas..," bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal, "Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?"
"Santi, Mas sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Mas bayangkan..?", aku berujar pelan.
"Hee em..", Eksanti mendesah lagi mengiyakan.
"Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap centi kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu", aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat tetapi sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah itu, tergambar jelas di mataku. Harum nafasnya yang menggairahkan itu, tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu.. hmm, semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

"Teruss..?", Eksanti berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu nampak jelas di pelupuk matanya.

Eksanti masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Eksanti meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

"Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Lalu Lidah Mas menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat.. Kamu bisa merasakannya, 'yang?", aku melanjutkan.
"Oocch.. iyaa.. Mas, teruss..", Santi semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya lalu mengalir turun ke arah dadanya.

"Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun.. dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang, Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri.. lalu yang kanan.. Tangan Mas meremasnya lembut.. Ooocch.. Santi, Mas rasanya nikmat sekali.. Kamu juga merasakan hal yang sama, sayang?", aku berhenti sejenak. Aku mendengar Eksanti mendengus pelan..

Eksanti tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Oh, itulah cumbuan dan remasan yang tak kalah menggairahkan dari ciuman dibibirnya. Jemari dan bibiriku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Eksanti mengerang kecil, meremas seprai dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha. Oh, kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Kenapa jadi begini? Keluh Eksanti sambil mengerang lagi, lalu memiringkan badannya, meraih bantal guling.

Lalu kembali aku melanjutkan fantasiku "..putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang.. Mas juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang.. kamu meremasi rambut Mas dan menekan kuat-kuat kepala Mas di dadamu", aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktifitas itu.

"Oocch.. Mas, teruskan..", Eksanti mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar.., putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya tetap berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

"Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Santi.., kamu memang luar biasa.. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu kebawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi ke dua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana.. Oocchh..", aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktifitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Eksanti membuat diriku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

"Oocchh.. Mas.. Santi juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang", Santi pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual masing-masing, sementara masing-masing tangan kami yang terbebas dari gagang telephone melakukan aktifitas untuk membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan dan hembusan nafas panjang saling menimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli, nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktifitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga aku turunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

"Eksanti," bisikku, "Sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Mas barusan lakukan?"
"Hee.. emm..", desahnya pendek.
"Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang, kamu masih ingat jelas bentuknya 'kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga 'yang..?", aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.

"Iyaa.. Mas, sekarang Santi juga sudah terbebas..", ujar Eksanti mengabulkan permintaanku. Celana dalamnya telah beranjak ke bawah pahanya. Sebenarnya sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal itu.

Angin dingin menimbulkan suara berkesiut di luar jendela kamar tidur Eksanti. Ia menelentang kembali, kini dengan mata terbelalak sepenuhnya. Kamar tidur yang senyap itu sebenarnya dingin sekali. Tetapi tubuh Eksanti seperti dibakar api, dan ia terkejut sendiri ketika tak sengaja tangannya menyentuh selangkangannya. Celana dalamnya agak basah, dan sebuah rasa geli yang telah lama ia tak rasakan ternyata muncul di sana. "Oh, aku begitu terangsang malam ini", desah Eksanti panik di dalam hati.

"Jangan dulu kamu sentuh yang di bawah sana, Santi. Please, tanganmu tetap berada di atas. Sekarang kamu arahkan jemari ke mulutmu, lalu kamu hisap pelan, kamu jilat basah hingga pangkal jemari telunjukmu..", aku melanjutkan permohonanku.
"He.. emm..", Santi mendesah sambil mulai memasukkan jemari ke dalam mulut kecilnya. Jemarinya basah oleh cairan ludahnya sendiri, ia sedang mengkhayalkan sebentuk daging bulat, panjang, lebih besar dan lebih keras dari sosis. Ia mengulumnya pelan, dan sesekali menghisapnya dengan sepenuh perasaan.
"Please, sekarang jemarimu yang basah kamu tarik dari mulutmu, Santi. Kamu usapkan jemarimu di mana sekarang, 'yang..?"

Cepat-cepat Eksanti memindahkan tangannya, tetapi tangan itu jatuh di atas dadanya. Untuk sejenak, ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai terengah, tetapi tanpa diperintah tangan itu ternyata mulai meraba-raba. Eksanti menggelinjang. Eksanti mendesah gelisah. Rasa geli menyelimuti puncak-puncak dadanya. Rasa geli yang minta digaruk. Maka menggaruklah jemari-jemarinya, mengusap dan membelai pula. Gagang telephone ia jepit di antara pundak dan kepalanya, dua tangan kini ada di dadanya. Dua-duanya mereMas, mengusap, menggaruk, membelai.. Eksanti mendesahkan namaku berkali-kali dengan bisikan tertahan; kuatir teman di sebelah kamar kost-nya terbangun.

"Oocchh.. Mas, Santi sedang memilin lembut puting Santi. Oocchh.. Mas.. keras sekali, Santi ingin Mas menggigitnya, Santi ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas..", Eksanti berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.

"Iya.. Sayang, Mas sedang menjepitnya dengan bibir Mas, lalu lidah Mas menyapu-nyapu lubang di ujung putingnya.. Enak sayang..?", akupun tak kalah dalam mengimbangi fantasinya.
"Iyaa.. Mas.., sekarang tangan Santi ada di atas perut Santi", Eksanti melanjutkan.
"Iyaa.. sayang, bibir Mas sekarang sedang mencium lembut perutmu yang putih. Lidah Mas berputar-putar di sekitar pusarmu. Lalu Mas turun ke pangkal pahamu.. Terus bibir Mas berhenti di sana..", aku berhenti untuk menunggu reaksinya.

Eksanti tak tahan lagi. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain. Celana nilon tipis masih menutup sebagian di sana, tetapi tentu saja tak mampu mencegah rasa nikmat yang datang dari telapak tangannya. Apalagi kemudian Eksanti menelusupkan tangan itu ke balik celana dalamnya, menemukan lembah sempit di bawah sana telah basah oleh cairan cinta. Menemukan pula tonjolan kecil di bagian atas telah menyeruak keluar dari persembunyiannya, menonjol diam-diam menanti sentuhan jarinya.

"Oochh..", Santi mengerang pelan sementara jemarinya kini tengah berada tepat di atas gerbang kewanitaannya yang telah terbebas. Ia benar-benar telah memelorotkan celana dalamnya.

"Lalu Mas menyentuhi rambut kewanitaanmu dengan bibir Mas. Lalu Mas menjilat-jilat lembut bibir kewanitaanmu di bawah sana. Lalu Mas gigit pelan klitorismu.. Mas hisap.., Mas.. gigit, Mas.. hisap lagi. Telunjuk Mas sesekali berputar-putar di atas daging kecil merah itu..", aku kembali mengendalikan fantasinya.

"Oocch.. Mas, Santi pengin Mas.. Santi pengiinn.. oochh.. sekarang..", Santi tidak kuasa meneruskan kata-katanya.
"Iya.. sayang, Mas juga.. Mas sekarang akan memasukkan jemari Mas ke dalam kewanitaanmu Santi..", aku berbisik lembut kepadanya.
"Oocchh..", Santi mengerang pelan.

Eksanti menggigit bibir bawahnya, tersentak bagai tersengat listrik, ketika ujung telunjuknya tak sengaja menyentuh tonjolan kenikmatan itu. Sebuah desah cukup keras menghambur keluar dari mulutnya. Untung teman-teman sekostnya sudah terlelap sehingga mungkin tak akan terbangun walau Eksanti berteriak sekali pun.

"Jemari Mas masuk.., berdenyut lembut di dalam sana. Kamu menghentak, kamu menjepit. Jemari Mas keluar.. masuk.. keluar.. masuk.. pelan sekali.. lembut sekali.. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..", aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.

Aku meraba-raba kejantananku. Mengerang pelan karena merasakan tubuhku mulai bereaksi seperti biasanya, menyebabkan semua ototku terasa menegang, bagai seorang pelari yang sedang bersiap-siap melesat dari garis start. Kejantananku sudah menegang setegang-tegangnya. Bergetar seirama degup jantungku yang tak teratur. Naik turun seirama nafasnya yang mulai memburu.

Mula-mula, aku hanya mengusap-usap kejantananku di atas kulit lembutnya. Mengelus-elus perlahan, menimbulkan rasa geli yang samar-samar, seakan-akan untuk memastikan bahwa segalanya berjalan perlahan menuju tempat tujuan. Tetapi, sebentar kemudian gerakan tanganku semakin cepat, bukan lagi mengusap tetapi menguyak-uyak. Nafasku semakin memburu. Rasa geli yang nikmat tersebar sepanjang kejantananku yang terasa bagai batang besi panas membara.

"Mas.., sekarang Santi benar-benar sudah basah.., Santi ingin bercinta dengan Mas.. Masukkan kejantananmu sekarang Mas, please..", sekarang giliran Santi yang memohon kepadaku.
"Iya sayang.., kejantanan Mas juga sudah keras menegang. Sekarang Mas mengarahkannya ke dalam gerbang kewanitaanmu, tanganmu meremas batang kejantanan Mas, sembari mengarahkan ujungnya ke sana. Mas mengusapkan pada bibir kewanitaanmu, Mas merasakan basahnya cairan cintamu, lalu Mas melesak pelan", aku berkata dengan cepat sambil tanganku semakin keras meremasi kejantananku.

Aku tak tahan lagi. Tanganku memelorotkan celana tidurku makin jauh, meremas batang tegang yang membara di bawah sana. Lalu dengan tidak sabar aku memelorotkan lagi celana tidurku hingga ke mata kakiku, hingga kini kejantananku bisa benar-benar terbebas, tegang menjulang. Jemariku meremasinya, membelai di sepanjang batangnya.., pelan sekali.., lembut sekali.. dari atas ke bawah, keatas, kebawah lagi.. Segera aku merasakan pinggulku bagai berubah menjadi kaldera gunung berapi yang penuh lahar menggelegak. Setiap kali aku mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Setiap kali pula aku mengerang dengan otot leher menegang seperti seorang yang sedang menahan sesuatu dengan susah payah.

Remasan tanganku semakin lama semakin teratur, diikuti gerakan naik turun seperti memeras. Setiap kali gerakan itu sampai ke ujung yang membengkak-membola itu, aku merasakan tubuhku seperti disedot ke dalam pusaran air birahi. Aku menggeliat-geliat keenakan. Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Aku mengerang.

"Ooochh.., teruskan Mas..", Eksanti berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.
"Lalu Mas mendorong senti, demi senti. Kakimu menggamit kuat erat pinggang Mas. Pinggulmu mulai bergoyang pelan membantu perjalanan Mas, dan Mas merasakan ujung kejantanan Mas kini telah menyentuh dinding kewanitaanmu yang terdalam", aku merasakan cairan bening sedikit mengalir di bawah sana.

"Ooocchh..", Eksanti mengerang semakin keras, ketika ia sendiri mulai memasukkan jemari tengahnya ke dalam liang basah itu. Eksanti mengerang tanpa berusaha menahan suaranya. Ia sudah tak peduli lagi. Kedua pahanya terpentang lebar dan jari tengahnya melesak menerobos di antara lembah bibir-bibir kewanitaannya. Jari itu meluncur teratur.. turun sampai melesak sedikit memasuki liang surgawi yang berdenyut-denyut.. lalu naik menyusuri lembah licin yang hangat dan basah itu.. lalu terus naik ke atas lepitan kewanitaannya, tiba di tonjolan yang kini memerah itu.. berputar-putar di sana dua-tiga kali ..
"Aaacchh..," erangan Eksanti semakin jelas. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.

Tangan Eksanti bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan gemas. Tubuh Eksanti berguncang-guncang oleh gerakannya sendiri. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Eksanti sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Ia sedang dalam perjalanan yang tak mungkin dihentikannya lagi. Ia harus sampai ke tujuan!

Aku pun merasakan tujuan asmara telah tampak di pelupuk mataku. Tanganku kini mencekal-meremas langsung kejantananku. Ada sedikit cairan licin membasahi bagian ujung kejantananku. Akibat gerakan turun naik, cairan itu terbawa oleh telapak tanganku membasahi batang kenyal-keras yang panas membara..

"Mas menggenjotmu dengan pelan, menerjangmu dengan lembut, semakin lama semakin keras.. semakin kuat Mas memompamu. Kamu meronta.. kamu meremasi rambut kepala Mas. Kamu mencakar dan menekan kulit punggung Mas. Mas menghentak.. menghentak.. semakin kuat. Dan..", aku sengaja menghentikan fantasiku, karena ingin mendengar reaksi Eksanti. Namun aku tidak memperlambat aktifitas tanganku di bawah sana. Gerakan tanganku semakin cepat dan teratur. Naik turun, naik turun, naik turun.. Terkadang agak lama di bagian ujung, meremas-remas dan mengepal. Menimbulkan rasa geli yang berkepanjangan, menyebar ke seluruh tubuh, menggetarkan semua otot, bahkan sampai menyebabkan ranjangku berderik-derik pelan.

"Ooochh.. Aacchh..", Eksanti merintih-rintih keras dalam kenikmatan sensasi fantasinya. Hanya suara rintihan itu yang bisa aku dengar dari ujung telephone selama beberapa saat. Aku terdiam menikmati suara rintihannya. Jemari tengah Eksanti telah lancar ke luar masuk, sambil sesekali ujung jempolnya menekan-berputar di klitorisnya yang tegang memerah.

Ranjang Eksanti bergoyang keras ketika ia mulai merasakan dirinya mendaki puncak asmara. Kini dua jari yang melesak, mengurut, menelusur lembah sempit di bawah sana. Kini kedua pahanya terentang maksimum, membuat kewanitaanya terbuka lebar, memberikan keleluasaan gerak kepada tangannya.

Tangan yang satu lagi kini beralih ke bawah, namun gagang telephone masih dijepit diantara kepala dan pundaknya. Eksanti memerlukan kedua tangannya untuk mendaki puncak gemilang birahinya. Satu tangan untuk melesakkan kedua jarinya cukup dalam ke liang surgawi yang menimbulkan rasa nikmat itu, sementara tangan yang lain mengusap-menekan-memilin tonjolan merah yang kini berdenyut-denyut itu.

Eksanti bahkan sampai merasa perlu mengangkat pinggulnya, memberikan tekanan ekstra ke seluruh daerah kewanitaannya, menggosok-gosok keras dengan kedua tangannya..

Aku menggosok-gosok dengan cepat. Mengurut dengan keras. Naik turun tanganku semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Nafasku terengah-engah. Kakiku terasa bagai melayang, padahal keduanya menjejak kasur dengan keras. Gagang telephone aku jepit di antara pundak dan kepalaku. Satu tanganku yang bebas kini mencengkram seprai, seakan mencegah tubuhku melambung ke langit-langit. Aku tak tahan lagi, aku menggerendeng merasakan tubuhku seperti hendak meledak.. Lalu aku benar-benar meledak. Menumpahkan cairan-cairan hangat di telapak tanganku.

Eksanti merasakan tubuhnya mengejang, ia mencoba terus menggosok-menggesek, tetapi rasa geli-gatal begitu intens memenuhi tubuhnya. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang parau ketika sebuah ledakan besar memenuhi dirinya. Kedua kakinya terentang kejang. Kedua tangannya meninggalkan daerah kewanitaannya, mencengkram seprai di kedua sisi tubuhnya. Klimaksnya datang bagai guntur bergulung-gulung..

******

Ketika nafas kami mulai mereda, suasana hening di dalam telephone itu. Sesekali aku hanya bisa mendengar hembusan nafas beratnya, demikian pula Eksantipun hanya bisa mendengar dengusanku.

"Santi, kamu masih di sana?", aku mengawali percakapan kembali.
"Iyaa.. Mas, Mas udah lega belum?", ia menjawab pelan pertanyaanku.
"Mas, lega.., dan capek.., terima kasih yaa.. San. Santi enak nggak?", aku berkata lagi.

"Ehh..mm", Eksanti tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana. Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-'lega'-an bersamaku beberapa menit yang lalu.
"Santi, kita udahan dulu yaa.. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..", aku berkata terus terang. Aku memang harus membersihkan cairan cintaku yang tumpah ruah di atas perut dan sprei ranjangku.

"Iya Mas, Santi juga mau mandi lagi nih.. Gerah sekali rasanya", ia berujar. Naah.. ketahuan deh.. Santi memang harus mandi, tetapi alasan gerah tidaklah masuk akal, karena malam itu suhu udara dingin sekali. Namun aku tidak berusaha meledeknya untuk kealpaannya ini. Aku paling tahu, Santi sangat sensitif pada perasaannya yang satu ini.
"Sampai besok yaa.. IOU", aku mengakhiri percakapan.
"IOU Mas.., mimpiin Santi yaa.., bye", lalu Santi menutup telephonenya.

******

Malam bagai tak peduli. Tetap dengan kelam dan dingin dan desir angin bersiut. Langit sesekali berkerejap oleh kilat di kejauhan. Awan hitam berarak menutupi cahaya bulan, mencegah Raja Malam itu menerangi muka bumi. Pohon-pohon bagai tidur sambil berdiri, terayun-ayun oleh angin yang meraja lela.

Sebentar kemudian hujan mulai turun. Mula-mula hanya berupa rintik kecil. Tetapi lalu dengan cepat semakin lebat. Bahkan kemudian sangat lebat seperti dicurahkan dari langit. Aku masih tergeletak lunglai. Eksanti pun tidak segera mandi, ia terkulai lemas. Kami berdua terpisah oleh tembok, halaman, batu, sungai kecil, pohon, jalan raya, dan sebagainya.. Tetapi kami berdua bersatu dalam fantasi erotik, kami bertemu dalam imajinasi asmara yang menggelegak membara. Siapa bilang tidak ada kekuatan telepati di dunia ini?

Kemudian aku beringsut menuju kamar mandi. Ketika aku masuk ke dalamnya, Eksanti terkejut sejenak sambil tersenyum melihat kejantananku yang sedari tadi sudah mulai mengeras lagi. Aku menggosok gigi, sementara Eksanti mulai merendamkan tubuhnya di dalam bathtub. Nyaman sekali rasanya berendam di air hangat. Eksanti mengusapkan busa wangi ke seluruh tubuhnya. Ke dadanya yang terbuai-buai di dalam air. Ke ketiaknya yang mulus tak berambut. Ke sela-sela pahanya yang tampak samar-samar di bawah permukaan air. Ke bagian-bagian yang tersembunyi, yang terjepit, yang berlekuk-berliku. Hmm. Biar semuanya harum.

Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Eksanti sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Putingnya yang merah kecoklatan terlihat mencuat keatas, sangat kontras dengan warna putih buih-buih sabun yang menempel di sekelilingnya. Tangannya membasuh dada dengan air sabun itu dan sesekali memilin-milin putingnya dengan lembut. Aku semakin tidak tahan menyaksikan pemandangan yang sangat sensual itu. Segera aku berbalik badan untuk memandangnya lebih jelas lagi adegan itu.

Eksanti berkata manja, "Ayo Mas.., tolong gosokin punggung Santi dong..". Tanpa berpikir panjang aku segera menghampirinya dan aku masuk ke dalam bathtub. Sementara Eksanti mengangkat punggungnya sejenak dan mengatur posisi duduknya di dalam bathtub untuk memberikan tempat duduk kepadaku di belakang punggungnya. Kini aku telah duduk tepat di belakangnya, dan dengan jelas aku bisa menyaksikan kulitnya yang putih bersih dengan tonjolan ruas-ruas tulang belakang di bagian tengahnya. Air hangat terasa membasahi kaki dan pinggangku, lalu aku mulai menyiramkan air hangat itu di sekujur punggungnya. Karena sempitnya bathtub itu untuk tubuh kami berdua, maka kejantananku yang kian mengeras terasa menyentuh-nyentuh tulang belakang punggungnya. Eksanti kelihatan gemas sekali merasakannya.

Lalu tangannya beringsut kearah belakang pungungnya, mencoba meraup kejantananku itu. "Hmm.. Santi gemes sama yang ini..", begitu Eksanti berkata sambil meremasi kejantananku. Tanganku yang tadi membasuhi punggungnya sekarang telah merangkul tubuhnya dari belakang, mecoba untuk membasuh dadanya. Sengaja aku mempermainkan puting dan payudaranya sehingga Eksanti menggeliat kegelian. Lalu Eksanti mendesah nikmat, "Ahh.. ". Dan akupun secara refleks langsung melayangkan ciumanku ke arah rambut lembut di sekitar leher belakangnya. Aku mencium dan menggigit lehernya dengan lembut dan Eksanti makin mengelinjang-gelinjang.. geli dan nikmat sekali rasanya.

Aku tidak sabar lagi, lau aku memintanya untuk berbalik badan. Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. Kejantananku berada tepat di depan lubang kewanitaannya, siap untuk menusuknya dengan nikmat. Sekali lagi aku membasuh dadanya, aku meremas-remas payudaranya yang lembut dengan puting yang telah mengeras itu. Eksanti memejamkan mata menikmatinya.

Sebenarnya Eksanti sudah tidak tahan lagi, tetapi aku masih mau bermain-main dengan dua bukit indah di dadanya. Maka Eksanti menyerah, membiarkan diriku menjilat, menghisap, dan menggigit mesra puting-puting susunya. Eksanti hanya bisa mengerang, mendesis, dan berdecap setiap kali sensasi-sensasi nikmat datang dari kehangatan mulutku. Puncak-puncak payudaranya, bagian tengahnya, pangkalnya --seluruh payudaranya-- terasa geli bercampur gatal bercampur hangat bercampur nikmat. Teruskan, teruskan, teruskan.. jeritnya dalam hati. Tapi itu tak perlu, karena aku tak akan segera berhenti.

Air bak mandi bergejolak hebat, sebagian tumpah ke lantai, menimbulkan suara kecipak yang ramai. Tapi kita tak memperdulikannya. Sambil terus mengulum putingnya, tanganku menjelajahi bibir halus di bawah sana. Mengelus lepitannya, menekan-nekan bagian atasnya yang sensitif, menelesuri celah-celahnya yang licin, berputar-putar di liang hangat yang pastilah telah berubah warna menjadi merah muda. Eksanti semakin banyak bergerak, menggeletar, menambah besar gelombang air di bak mandi.

Lalu aku mulai mencium bibir lembutnya, aku beringsut ke depan dan kejantananku perlahan-lahan menembus lubang surgawi kewanitaannya. Eksanti sigap mengambil inisiatif, sedikit mengangkat tubuhnya dengan posisi yang tepat, mengarahkan pusat kenikmatan kewanitaannya pada kejantananku. Lalu, perlahan-lahan Eksanti duduk kembali, dan dengan nikmatnya merasakan senti-demi-senti penyatuan cinta birahi dirinya dan diriku. Nikmat sekali rasanya. Perlahan sekali rasanya. Penuh sekali rasanya.

"Ah..," cuma itu yang bisa Eksanti desahkan ketika akhirnya Eksanti terduduk total dipangkuan kedua pahaku, pada posisi yang masih saling berhadapan.
"Oucchh.. Mas", Eksanti mengerang penuh nikmat ketika aku membenamkan seluruh kejantananku lembut sekali.

Sambil memegang wajahku dengan kedua tangan, dan sambil meneruskan ciuman kami yang menggelora, Eksanti memulai pendakiannya ke puncak kenikmatan. Tubuhmu bergerak naik-turun. Mula-mula perlahan dan beraturan. Tetapi tidak lama kemudian berubah liar, diselingi teriakan-teriakan tertahan, dan suara-suara basah yang berdecap-decup dari bawah sana.

Tangan Eksanti dialihkan dengan memeluk erat punggungku, seolah Eksanti menginginkan tusukanku lebih dalam lagi. Eksanti menggelinjang-gelinjang dengan nikmat, sehingga air dalam bathtub kami bergolak-golak seirama dengan gejolak nafsu kami di pagi buta itu. Dengan kasar Eksanti meremas-remas rambut kepalaku, Eksanti mencakari punggungku sambil menaik-turunkan tubuhnya. Terasa dinding kewanitaannya memijat-mijat kejantananku dengan lembut.

Kedua tanganku yang kokoh ikut membantu. Aku mencekal pinggangnya dengan sigap, membantunya bergerak naik-turun, karena tampaknya Eksanti telah kehilangan kendali. Ciuman kami terputus, karena Eksanti meregang dengan kepala terdongak ke belakang. Dadanya membusung, payudaranya berayun keras, memberikan pemandangan indah kepadaku. Segera aku meraih salah satu bukit sintal itu dengan mulutku, menyedot puting susunya, dan membuatnya menjerit nikmat, dan mengirim sinyal terakhir yang memicu orgasme pertama di pagi buta itu.., orgasme ke limanya bersamaku.

Eksanti meregang dan mengejang. Gerakannya terhenti di tengah-tengah, lalu Eksanti terhenyak terduduk, dan menggelinjang bergeletar. Aku merasakan denyutan-denyutan kuat di bawah sana. Aku meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut.

Eksanti pun mengerang, "..Aaah..", Eksanti pun mendesis, "..Sssh..", Eksanti pun akhirnya berteriak panjang, "..Oooh.. mass enakk..", sebelum akhirnya terkulai dan memeluk erat diriku.

Kami berciuman kembali, kali ini dengan penuh kelembutan. Eksanti bergumam, "Mmm.. enak sekali, Mas luar biasaa.. enak sekali..". Tiga menit berselang, lalu ritual itu pun berlanjut, kali ini dengan aku sebagai pelaksana utamanya. Tubuhku yang kokoh bergerak maju-mundur sebatas pinggang, menciptakan tikaman-tikaman nikmat. Setiap hujaman mengirimkan sejuta getar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Eksanti mengerang lagi, mendesis lagi. Aku semakin cepat bergerak, dengan nafas yang tak kalah menggebunya. Keringat dan air bercampur di tubuh kami berdua, sementara di bagian bawah, tempat penyatuan wanita-pria itu, kebasahan telah mengental, menimbulkan suara berdecap berkecipak setiap kali aku menghujam dan menghela. Suara-suara gairah memenuhi kamar mandi. Eksanti sangat bergairah. Aku sangat bergelora. Kami berdua, bersama-sama, berkejaran menuju puncak kenikmatan.

"Mmm.. Santi.. ngga tahan, Mas.. ngga tahan.. ," Eksanti mengerang, aku hanya bisa menggeram.
"Ogghh.. Mas, Santi nikmatt.. sekalii..", Eksanti mengerang-ngerang nikmat bercampur bunyi dengan kecipak air di dalam bathtub.
"Ogghh.., Santi,.. Mas juga enakk..", aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah. Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.

Eksanti makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat, "Terus Mas, terus Mas..". "Aaah..," Eksanti menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku) tiba-tiba datang menyerbu. Eksanti menggelinjang hebat, tetapi kedua tanganku erat memeluk, sehingga Eksanti tidak bisa melepaskan diri. Aku masih terus menghujamkan sejuta kenikmatan. Eksanti menggeletar hebat. Eksanti ingin diriku berhenti dulu. Tapi tidak, tidak. Eksanti ingin diriku terus bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Berhenti dulu. Bergerak. Eksanti tidak tahu harus bagaimana, kenikmatan sudah memenuhi seluruh tubuhmu. Berdenyut, berdetak, bergelora, meletup-letup. Eksanti menyerah. Eksanti menjerit lebih keras.

Dan Aku merasakan jepitan menguat di bawah sana, seakan mereMas, dicampur denyut-denyut keras. Aku pun tak tahan lagi. Seakan ada air bah bergemuruh di dalam diriku, membawa jutaan partikel-partikel nikmat yang membuat mataku terpejam. Tak lama kemudian ototku terasa menegang, setengah berteriak aku berkata, "Ayo Santi.., Mas mau keluar, Mas nggak kuatt.. ayo kita bersama-sama mencapai nikmatt.. Santi..".

"Ayo Mas.. terus Mas..", Eksanti pun mendesah-desah sambil dengan semakin cepat ia menggoyang-goyangkan pinggul dan badannya.

Dengan sekuat tenaga aku menghujam. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Akhirnya aku menggeram, menggerendeng bagai banteng menahan amarah, "Sann.., auucchh.. Mas keluarr.. sayangg..", dan sedetik kemudian "Mas, Santi juga enakk..". Lava panasku meledak-ledak di dalam lubang kewanitaannya, sementara Eksanti tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Cairan hangat menyerbu keluar dari tubuhku, menyemprot kuat ke dalam tubuh Eksanti yang telah terbuka menerima, memfinalkan kenikmatan yang terasa sampai keujung jempol kakinya.

"Auucchh.. geli sekalii.. tapi enakk.." aku menggigit bibirku menahan rasa nikmat itu. Lava panas itu menghangati dinding kewanitaannya dan Eksantipun terlihat menikmati saat-saat orgasmenya yang kesekian kali bersamaku..

Kami berdua terkulai dengan nafas memburu. Ia bahkan masih terus mengerang dengan suara pelan. Setengah menit kemudian kami masih terkulai berpelukan dalam bathtub. Air hangat masih mengalir ke dalam bathtub, yang segera aku matikan. Suara air tak ada lagi. Kamar mandi kembali sepi, setelah saat-saat indah itu. Lalu aku berucap pelan, "Kita harus segera mandi lagi, nih, 'yang.. "

Eksanti tersenyum, "Santi yang memandikan, yaa.. Mas. Ini tanggung jawab Santi, lho!". Akupun tertawa sambil berujar, "Kalau kamu yang memandikan aku, kita akan terlambat ke airport. Sekarang sudah pukul 6 pagi".

"Kan cuma mandi?" ia menggodaku lagi.
"Cuma mandi. Titik. Dan mandinya juga pakai shower saja.. " sahutku. Iapun menggangguk setuju.

Kemudian kami bergegas untuk membasuh diri kami masing-masing dan Eksanti menyabuni seluruh tubuhku. Tangannya dengan lembut menyabuni kejantananku yang telah terkulai, dan sesaat Eksantipun masih sempat untuk menguluminya. "Occhh.. Santi, kamu juga hebat sekali.., belum pernah aku merasakan yang seperti ini dengan orang lain..", begitu bisikku jujur sambil menyabuni tubuhnya. Eksanti tersenyum manja mendengar bisikan itu, sambil menjawab, "Ntar deh di Jakarta.., Santi kasih yang lebih hebat lagi yaa..". Aku tertawa keras, mencubit pipinya dengan gemas. Sungguh sebuah pagi yang indah sekali!!

******

Setelah kami selesai mandi lalu kami bersiap untuk check out dan berangkat menuju ke airport. Pukul 8.00 pagi, aku dan Eksanti sudah berada di pesawat Garuda duduk bersebelahan. Tangannya menggenggam erat tanganku seolah Eksanti tidak ingin melepaskanku. Ketika pesawat dengan lancar melakukan take-off, sejenak kemudian ia merebahkan kepalanya di dadaku.

"Santi tidur yaa.. Mas, ngantuk dan capek nih", begitu katanya.

"Hmm.., saya juga mau bobok, sayangg..", aku menjawab seiring dengan datangnya rasa kantukku. Sambil tersenyum aku berkata dalam hati, "Pantas saja kamu kecapekan, habis lebih dari 6 kali sih..".

*******

Kami sejenak terdiam ketika si manajer itu mengakhiri ceritanya. Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. So, apakah aku harus tidak percaya..?

"Sejak saat itulah aku jadi sering malakukan 'affair' dengan dia. Kalau hal itu elu sebut 'affair', tapi elu janji yaa.. jangan tanya-tanya lagi mengenai hal ini", si manajer itu mengakhiri ceritanya kepadaku.

"Oke.. man has to know his limit..", jawabku meyakinkannya.

Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Aku tahu, pasti itu adalah telephone dari rumahnya. Semua orang di kantor ini bisa membedakan bagaimana gayanya kalau menerima telephone dari rumahnya.

"Gua, cabut dulu yaa..", katanya lagi ketika ia selesai bicara di HP-nya.
"OK, see you next morning, take care..", jawabku singkat.

Ketika si manajer itu keluar dan menutup pintu kamar kerjaku, aku kembali tercenung mengingat semua ceritanya. Perasaanku bercampur aduk antara cemburu, sebel, ingin marah, tetapi aku tidak tahu harus aku tujukan kepada siapa. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.. Sejenak aku ingin menghubungi Eksanti melalui paging telephone, siapa tahu ia belum pulang saat ini, tetapi niatku itu aku urungkan. Aku masih belum bisa menata kembali perasaanku.

Aku segera mematikan layar komputer, arlojiku telah menunjukkan pukul 19.30 malam. Lorong kantorku telah sepi senyap saat aku keluar dari pintu kamar kerjaku. Kursi Eksanti juga sudah lama kosong. Rupanya ia bergegas pulang sore ini karena ada janji dengan seseorang, begitu kata office boy yang dengan setia masih menungguku.

"Acchh.., Eksanti, dengan siapa lagi kamu malam ini..?", aku bertanya dalam hati sambil bergegas meninggalkan pintu ruang kantorku. END by ceritaseks15.blogspot.com - Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru -
08.22 | 0 komentar

Rabu, 23 September 2015

Fantasi Liarku Keinginan Melakukan Hubungan Seks Dengan Office Boy

Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru - Cerita ini adalah cerita dewasa terbaru bergambar Kusentuh Dan Kuraba Paha Mulus Teman Kantorku Hingga ke Pangkal Paha, kini ada cerita sex mesum Fantasi Liarku Keinginan Melakukan Hubungan Seks Dengan Office Boy, selamat membaca.

Sebut saja namaku Linda (samaran). Aku saat ini bekerja sebagai seorang senior marketing di suatu perusahaan multinasional yang berkantor di salah satu gedung di kawasan Jakarta Selatan. Usiaku saat ini 31 tahun. Aku sudah berkeluarga dengan satu anak yang baru berumur 2 tahun, Rio. Ia sedang lucu-lucunya. Suamiku, sebut saja Mas Edi, bekerja sebagai seorang junior manager di salah satu perusahaan swasta di kawasan CBD dekat Semanggi.
Fantasi Liarku Keinginan Melakukan Hubungan Seks Dengan Office Boy
Fantasi Liarku Keinginan Melakukan Hubungan Seks Dengan Office Boy

Aku dan suamiku saat ini sudah mampu memiliki rumah sendiri di kawasan Cimanggis. Dengan kesibukan kami masing-masing, praktis waktu kebersamaan kami hanyalah dua hari dalam satu minggu, yakni hari Sabtu dan Minggu. Untuk itu kami memanfaatkan waktu kebersamaan sebaik-baiknya.

Bagiku hubungan seks dengan suami tidak mengutamakan kuantitas. Kualitas jauh lebih penting, karena dengan kualitas hubungan yang baik maka kenikmatan yang aku peroleh justru sangat maksimal. Jadi dalam hal hubungan seks, antara aku dan suamiku tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah kadang-kadang aku berfantasi ingin melakukan hubungan seks dengan orang dari kalangan lower class!! Aku sering berfantasi dan sangat terobsesi untuk berhubungan dengan orang yang memiliki gairah liar. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu memperlakukanku dengan lembut. Itulah masalahnya!!

Aku sering membayangkan bagaimana rasanya berhubungan badan dengan orang-orang yang kasar. Mungkin ini semacam fantasi liarku yang terpendam. Ini mungkin timbul dari keadaanku yang sejak kecil selalu bergaul dengan perempuan! Soalnya dari keluargaku semuanya terdiri dari anak perempuan! Dari tiga bersaudara sekandung aku merupakan anak pertama, kedua adikku perempuan dan sejak aku berumur 16 tahun ayahku meninggal sehingga praktis kami berempat termasuk ibuku perempuan semua dalam satu rumah. Begitu pula saat bekerja, di kantorku jumlah karyawan terbanyak adalah perempuan! Karyawan laki-laki hanya beberapa orang termasuk satpam, sopir serta office boy.

Kata orang penampilanku sangat menarik! Aku tidak menyombongkan diri memang begitulah kenyataannya. Kulitku putih bersih. Ukuran tubuhku sangat ideal menurut pendapatku. Tinggi badanku 165 cm dan berat badanku 55 kg, dan ukuran dadaku 36B. Dengan keadaan fisik seperti ini tidak sulit bagiku untuk menaklukkan lelaki yang kuinginkan.

Di kantorku ada satu orang office boy yang membuatku tertarik akan kejantanannya. Orang itu namanya Parjo, berasal dari Tegal, satu kampung denganku. Ia baru berusia 21 tahun. Orangnya tinggi besar dan wajahnya lumayan ganteng. Hal yang membuatku kadang terpesona oleh kejantanannya adalah bau keringatnya yang menyengat dan asli khas bau lelaki. Aku kerap kali membayangkan bagaimana bila aku disetubuhi olehnya. Aku sering kali memimpikan bahwa memekku digenjot oleh batang kontolnya yang dari luar celananya tampak menggembung menandakan besarnya isi yang ada didalamnya. Inilah salah satu fantasi liarku, yaitu disetubuhi oleh orang yang kasar seperti dia. Aku mudah saja dekat dengannya karena kami berasal dari satu kabupaten hanya beda kecamatan.

Sebagai seorang Senior Marketing aku menempati ruang khusus sebagai kantorku. Pembaca jangan membayangkan kalau ruang khusus di kantorku ruangnya tertutup sama sekali. Tidak, ruang kantorku sebenarnya mirip-mirip aula yang luas! Cuma disekat-sekat dengan partisi. Ruang khusus yang kumaksudkan adalah dalam satu ruangan yang disekat partisi dengan luas kira-kira 2,5 x 2 m hanya diperuntukkan bagiku. Karyawan lain yang tingkatannya masih di bawahku biasanya menempati satu ruang yang disekat secara bersama-sama sekitar 3 atau 4 orang dalam satu ruangan. Dengan demikian aku mempunyai lebih banyak privacy di kantorku ini.

Aku kerap kali membuka-buka internet terutama saat-saat istirahat pada jam-jam menjelang kerja lembur. Salah satu situs yang menjadi favoritku adalah situs erita 17Tahun ini. Soalnya dengan membaca kisah-kisahnya fantasiku bisa melayang sesuai dengan alur cerita yang dibawakan si penulis! Aku tak peduli kalau itu kisah nyata atau cuma karangan si penulis.. Yang penting bagiku bisa memuaskan imajinasiku, titik! Oh ya.. Karena kesibukanku, aku kerap kali harus bekerja lembur sore hari hingga sampai jam 20.00 aku baru keluar kantor. Dalam satu minggu, mungkin aku kerja lembur selama 3 hari. Bagiku lembur lebih baik dibandingkan harus terkena macet di jalan yang tiap hari selalu menghantui Jakarta. Yach.. Dari pada waktu terbuang karena macet di jalanan, mendingan kerja lembur bisa dapat tambahan uang belanja, iya kan?

Suatu sore, seperti biasanya saat menjelang lembur aku mulai asyik membuka-buka kisah-kisah erotis di situs ini. Suasana kantor sudah mulai sepi karena karyawan sudah mulai meninggalkan tempatnya masing-masing. Hal ini sudah biasa bagiku dan tidak menjadi sesuatu yang istimewa sehingga aku cuma menyahut kecil saat satu-demi satu rekan-rekanku pamitan mau pulang duluan.

Aku mulai terangsang saat membaca kisah-kisah yang benar-benar erotis. Ingatanku jadi melayang pada fantasi liar yang selalu mengobsesiku. Entah karena kebetulan atau memang nasib sedang mujur.. Ternyata office boy yang menjadi incaranku saat itu sedang membersihkan ruang meeting yang besok pagi akan digunakan untuk rapat evaluasi bulanan. Ruang meeting itu persis berada di samping ruanganku sehingga saat si Parjo lewat, keringatnya yang baunya menusuk sempat tercium olehku. Fantasiku kian menggelora begitu mengendus aroma keringatnya itu.

Aku segera mencari akal bagaimana caranya agar si Parjo mendekatiku. Akhirnya aku punya akal untuk menyuruhnya membersihkan ruanganku yang sengaja kubuat berantakan. Ini kumaksudkan agar Parjo berada dekat denganku dan aku bisa terus mengendus keringatnya yang seksi itu.

Dengan patuh akhirnya Parjo datang juga ke ruanganku dan mulai membereskan tempatku yang memang berantakan. Aku masih tetap membuka situs ngeres ini sambil menghirup aroma keringatnya yang semakin menyengat saat ia mulai bekerja. Aku sempat meliriknya saat ia mencuri-curi pandang ke arah pahaku yang setengah terbuka. Aku memang memakai rok pendek sehingga pahaku yang putih jenjang kelihatan sangat indah dan sangat kontras dengan rok pendekku yang berwarna gelap. Parjo memalingkan wajahnya dengan malu saat kutangkap basah mencuri-curi pandang ke arah pahaku.

Aku tetap pura-pura sibuk melihat monitor sambil membaca cerita erotis yang tersaji di depanku. Parjo yang sedang berjongkok membersihkan kolong mejaku tampak berhenti bergerak. Dengan sudut mataku kulihat ia sedang memperhatikan kedua pahaku dari kolong mejaku. Kubiarkan saja hal itu terjadi. Iseng-iseng aku menggodanya agar ia pusing sendiri melihat keindahan pahaku.

Aku tidak menduga kalau ternyata Parjo seberani itu. Tiba-tiba aku merasa ada benda hangat menyentuh pahaku yang setengah terbuka. Aku tercekat mendapati ia senekat itu, padahal sempat kudengar masih ada suara orang lain yang sedang bercakap-cakap di ruang sebelah. Ternyata masih ada dua orang kolegaku yang belum keluar. Mereka sedang bersiap-siap pulang dan sedang berjalan mendekat ke ruanganku untuk pamitan. Aku tidak berani berteriak saat tangan Parjo yang nakal mulai menggerayangi pahaku dari kolong mejaku. Aku hanya berusaha mengatupkan kedua pahaku agar tangannya tidak bergerak terlalu jauh. Aku menggigit bibirku menahan geli saat tangannya yang kasar mengelus-elus paha bagian dalamku dan tangannya yang terjepit kedua pahaku berusaha bergerak-gerak ke atas.

“Mbak Linda.. Mau lembur lagi” terdengar suara Ida salah seorang staf bagian purchasing menyapaku dari luar ruangan.
“Ehh.. Ii.. Iya habis buat persiapan meeting besok” aku tergagap menjawab pertanyaannya.

Aku khawatir kalau-kalau si Ida dan Dewi yang saat itu belum pulang masuk ke ruanganku dan tahu apa yang terjadi. Yang kurang ajar lagi, ternyata tangan Parjo terus memaksa bergerak ke atas hingga aku tak mampu menahannya lagi. Kini tangannya sudah mulai meraba dan meremas vaginaku dari luar CD nylonku. Aku yang tadi sudah terangsang karena bacaan cerita ngeres semakin terangsang lagi dengan perlakuan Parjo itu.

“Kita pulang duluan ya Mbak.. Sampai ketemu besok! Salam buat Rio si kecil”.
Suara Dewi sedikit melegakanku, karena kekhawatiranku kalau mereka akan nyelonong ke ruanganku tidak terjadi. Mereka berdua langsung keluar ruangan. Kini di kantor hanya tinggal aku dan Parjo yang saat itu masih sibuk meremas vaginaku dari luar CD-ku.

Aku yang sudah sangat terangsang tidak dapat menolak lagi apa yang ia perbuat. Tanpa sadar aku membuka kedua pahaku agak lebar. Mendapat angin seperti itu, jari Parjo yang nakal segera menyusup ke dalam CD-ku dan mulai mengorek-ngorek lubang vaginaku yang sudah mulai basah. Napasku sudah mulai memburu menahan gejolak yang mulai mendesak.

Konsentrasiku membaca sudah mulai hilang karena pandangan mataku mulai kabur menerima rangsangan Parjo. Kini bukan hanya tangannya yang aktif bergerilya di selangkanganku yang sedikit terbuka. Lidah Parjo pun mulai bergerak menjilati kedua pahaku sambil bersimpuh di depan kursiku. Rok pendekku dipaksanya terbuka hingga pahaku semakin terbuka.

Lidah Parjo yang panas menggelora mulai bergerak-gerak liar menyapu seluruh permukaan kulit pahaku yang sangat sensitif. Tubuhku semakin menggigil menahan geli saat lidahnya menyusuri kulit pahaku disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Gila, Parjo rupanya tahu kalau aku sedang membuka cerita ngeres saat ia masuk dan kusuruh membersihkan ruanganku sehingga ia berani berbuat kurang ajar padaku. Aku sebetulnya tadi cuma menggoda saja. Aku tidak menduga kalau akan sejauh ini.

“Jo.. Jang.. anhh” aku mendesis tapi tidak berani berteriak karena takut kalau ada orang yang mendengar.
Namun Parjo rupanya sudah kesetanan. Pantatku ditariknya ke bawah hingga aku terduduk di ujung kursiku. Hal ini memudahkan Parjo menyingkap rokku dan menarik CD-ku hingga ke lututku. Tanpa membuang waktu, Parjo mengangkat kedua pahaku dan mementangkannya di atas kepalanya. Wajahnya menyuruk ke selangkanganku dan lidahnya menghunjam ke dalam lubang vaginaku yang sudah sangat basah. Aku tak mampu bergerak lagi. Tangannya yang kokoh memegang erat kedua pahaku hingga tak bisa lagi bergerak. Aku takut memberontak karena aku sudah duduk di ujung kursi, jadi kalau bergerak dengan keras aku mungkin bisa jatuh.

Aku hanya pasrah dan menikmati saja apa yang seharusnya tidak boleh kulakukan. Aku memang terobsesi bercinta dengan orang kasar seperti dia, namun itu hanya sebatas fantasi liarku. Aku tidak ingin mengkhianati suamiku. Desakan birahi semakin menyergapku saat lidah Parjo menyeruak masuk ke dalam lubang vaginaku dan bergerak kasar menggesek-gesek menggelitik lubang vaginaku. Lidahnya yang kasar bergerak liar semakin dalam ke dalam lubang kemaluanku. Napasnya yang menggemuruh kurasakan menghembus bibir vaginaku.

Mataku mulai berkunang-kunang menahan gejolak nafsuku yang kian meledak-ledak. Perutku sudah mulai kejang karena bibir Parjo mulai menyedot-nyedot itilku yang sudah sangat membengkak. Aku hampir saja mencapai orgasme saat tiba-tiba telepon di mejaku berdering.

“Jo.. Stop.. Stopp” Seolah-olah tersadar akan keadaanku, aku segera berteriak keras menghentikan aktivitas Parjo.
“Ma.. Maaf Bu..” ujarnya.

Mungkin karena takut aku akan berteriak, Parjo segera berhenti dan langsung keluar ruanganku serta menghilang ke dalam meeting room. Aku segera membereskan pakaianku yang acak-acakan dan mengatur napas sebelum mengangkat telepon.

“Halloo..” sapaku di telepon.
“Mah.. Ini aku Edy! Mau pulang sama-sama enggak?” terdengar suara suamiku di seberang sana.
“I.. Iya.. Aku tunggu Pah..” akhirnya aku memutuskan untuk jadi lembur hari itu.

Aku merasa bersalah dengan suamiku. Untung saja tadi suamiku menelepon hingga aku tidak berbuat terlalu jauh dengan si Parjo. Untuk menutupi rasa bersalahku sekaligus menuntaskan apa yang tadi telah dimulai oleh Parjo, malam itu aku mengajak suamiku bermain cinta. Aku melayani suamiku secara total. Kami yang biasanya bermain cinta sekali, malam itu aku meminta suamiku menyetubuhiku hingga tiga kali. Gila! Untung saja suamiku tidak terlalu curiga dengan keganjilan ini. Hari ini aku selamat dari perbuatan selingkuh.

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir satu bulan sejak kejadian waktu aku hampir saja mengkhianati suamiku dengan kejadian di ruangan kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian itu soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah melihat Parjo. Aku pun tidak berusaha ingin mengetahui keberadaannya.

Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku semakin bertambah sibuk. Aku harus banyak mempersiapkan kegiatan promosi menjelang penjualan untuk hari raya lebaran nanti. Untuk itu aku banyak melakukan lembur seperti biasanya.

Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober, aku seperti biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada di kantor hanyalah aku dan Ida yang juga sedang lembur menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul 18.00, Ida mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama, namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa laporan memintanya untuk pulang duluan, sehingga praktis di kantor hanya tinggal aku sendirian. Aku tidak takut karena sudah terbiasa, lagi pula ada security yang selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.

Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena sejak sore tadi aku belum ke rest room maka aku merasa ingin sekali buang air kecil. Karena desakan itu aku pun meninggalkan ruanganku dan pergi ke rest room yang letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang lain, maka aku melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku sebelum ke rest room. Hal ini kulakukan agar mudah melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku cukup tebal, jadi kalau pun masih ada orang tidak bakalan ketahuan, pikirku.

Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor di samping kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun di sana. Aku lalu masuk ke rest room dan menutup pintu kemudian langsung menghambur masuk ke salah satu toilet yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah. Kini aku bisa kembali bekerja dengan tenang.

Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin di ruangan rest room. Aku terkejut setengah mati saat aku tersadar bahwa ternyata di rest room sudah ada orang lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan ternyata orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan diriku saat mematut diriku di depan cermin.

Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah mendatangi dan langsung memeluk tubuhku. Aku yang termasuk sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita ternyata masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan Parjo. Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata tinggi tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain tinggi, tubuh Parjo sangat kekar dan tegap hingga aku tak mampu bergerak saat kedua tangannya yang kokoh menyergapku.

Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang kokoh. Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya, bibir Parjo yang tebal mulai menyentuh bibirku. Lidahnya mulai menerobos bibirku dan mencari-cari lidahku. Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku tidak mampu menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu kokoh.

“Hmmngghh.. Ughh..”, saat lidah Parjo dapat menemukan lidahku, ia mulai mengerang dengan suara yang benar-benar maskulin. Aku yang tadinya berusaha meronta-ronta, mulai berdesir darahku mendengar erangan maskulinnya itu.

Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik tubuhku hingga tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat ketat. Aku dapat merasakan ada benda yang mengganjal di perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo yang mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai meremas buah pantatku dari luar rok ketatku sedangkan tangan satunya sangat ketat mendekap punggungku.

Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar di dalam mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan tangannya yang tadinya meremas-remas buah pantatku mulai menyingkap rokku ke atas. Rokku ditariknya ke atas hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera tersentuh langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku menggerinjal karena tangannya yang kasar terasa geli di pantatku yang halus.

“Hhsshh.. Oughh..” tanpa sadar aku sedikit melenguh karena tangan kasar Parjo meremas buah pantatku yang terbuka dengan gemasnya. Napasku mulai memburu dan gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo yang menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.

“Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh” antara sadar dan tidak aku masih sempat meronta dan mulutku masih mencoba mencegah perbuatan Parjo lebih jauh. Namun seolah tak peduli dengan desisanku atau mungkin karena penolakanku tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja merangsekku dengan serbuan-serbuan erotisnya.

Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun ke daguku. Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tangan Parjo yang tadinya meremas-remasa pantatku kini bergeser ke depan dan mulai mengelus-elus daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal Parjo yang sudah mulai merambah daerah selangkanganku.

“Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh..” aku semakin mendesis antara menolak dan tidak.
Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk daerah sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot leherku. Seolah tak peduli dengan rengekanku, Parjo terus saja bergerak. Kini tangannya bahkan mulai meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah berlendir.

Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup ke dalam labia mayoraku dan mulai mengorek-korek tonjolan kelentitku. Digerakannya jarinya berputar-putar menggesek kelentitku. Kakiku seolah sudah tak bertenaga hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di pelukan Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan diangkat untuk didudukkan di atas toilet rest room yang dingin itu. Aku yang sudah mulai pasrah hanya diam saja atas perlakuannya.

Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia mulai berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat sekali dengan selangkanganku yang terbuka lebar.

“Aw.. Ohh..” tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba Parjo menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan mulutnya menyedot-nyedot bibir kemaluanku.
Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia mayoraku dan mengais-ngais daging hangat lubang vaginaku. Tanpa sadar aku meremas rambut Parjo yang jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar-benar tepat untuk keadaan Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai mempermainkan kelentitku yang sudah semakin mengembang. Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang hampir meledak.

“Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo..” bibirku tak henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai naik ke ubun-ubunku.

Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo untuk terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo agar semakin ketat menempel ke selangkanganku. Rupanya Parjo tahu kalau aku sudah hampir mencapai orgasme. Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku. Bibirnya menyedot seluruh cairan yang semakin membuat vaginaku basah. Aku hampir saja mencapai klimaks saat tiba-tiba Parjo menarik kepalanya dari selangkanganku. Aku hampir saja terjatuh dari dudukku karena pantatku tanpa sadar bergerak maju mengejar wajah Parjo yang ditariknya.

Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah menjelang orgasme, tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya yang belum tuntas. Napasku sudah ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah berdiri di depanku mulai melepas gespernya dan memerosotkan celana sekaligus CD-nya hingga ke lututnya. Aku benar-benar terkejut melihat kontol Parjo yang luar biasa. Besar dan panjang.. Luar biasa. Aku ngeri melihatnya. Jangan-jangan vaginaku bisa jebol dibuatnya. Benar-benar sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.

Kontol Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke arah wajahku yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk berlama-lama melihat kontolnya yang perkasa, Parjo segera menarik tubuhku dan membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki. Tangan Parjo yang kekar mendorong punggungku sedikit membungkuk hingga pantatku agak menungging. Lalu kedua kakiku digesernya agar lebih membuka.

Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda hangat dan tumpul mulai bergesek-gesek di bibir kemaluanku mencoba masuk. Lubang vaginaku yang sudah licin sangat membantu penetrasi yang dilakukan Parjo dari arah belakang.

“Oghh..” kudengar Parjo menahan napas saat ujung kontolnya yang seperti topi baja mulai terjepit labia mayoraku. Aku pun tak mampu bernapas karena benda itu terasa sesak sekali mengganjal selangkanganku.

“Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh” aku mendesis tercekat.

Parjo agak kesulitan mendorong kontolnya masuk ke dalam lubang vaginaku yang agak kesempitan menerima serbuannya. Aku sendiri heran, aku yang sudah pernah melahirkan terasa seperti perawan saja saat ditembus batang kontolnya. Terus terang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi lupa diri saat itu. Yang kutahu aku harus menuntaskan gairah napsuku.

Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kontolnya. Tanpa sadar aku ikut membantunya dengan menggeser pantatku hingga kontol Parjo terdorong masuk. Tubuhku bergetar karena seluruh lubang vaginaku seperti tergesek oleh besarnya kontol Parjo yang baru masuk kira-kira setengahnya saja.

“Ouchh.. Hhahh..” aku berkali-kali pula mendesis menahan nikmat yang kembali naik ke kepalaku.

Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kontolnya dari jepitan lubang vaginaku. Didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan besarnya kontol Parjo. Sekarang gerakan maju mundur batang kontol Parjo mulai lancar.

“Hugghh..” kami sama-sama menahan napas saat kurasakan seluruh batang kontol Parjo sudah masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Itu aku rasakan karena pantatku menempel ketat pada kantung biji telur kemaluan Parjo. Lubang vaginaku terasa berdenyut-denyut meremas batang kontol Parjo yang memenuhi lubang vaginaku. Panjang sekali batang kontolnya hingga mulut rahimku seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh kami terdiam seperti terpatok satu sama lain oleh pasak yang menyumpal lubang kemaluanku.

Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku mulai menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas kedua payudaraku. Tangannya yang kasar membuat tubuhku menggelinjang saat meremas payudaraku yang sudah terlepas dari BH-ku. Kait BH-ku memang ada di depan hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.

Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai mendesak dari perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik batang kontolnya dari jepitan lubang vaginaku lalu mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat batang kontolnya menggesek-gesek seluruh dinding vaginaku.

Sambil berpegangan pada kedua payudaraku, Parjo terus mendorong dan menarik pantatnya. Gerakan batang kontol Parjo dalam lubang kemaluanku semakin lancar karena sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari lubang kemaluanku. Mulut Parjo yang tak henti-hentinya menjilati kudukku terasa semakin membuatku melayang ke awan tak bertepi.

Tangan Parjo yang tadinya meremas payudaraku dilepasnya dan menarik wajahku agar menengok ke belakang. Bibirku langsung dipagutnya dengan bibirnya yang tebal begitu wajahku menoleh. Lidah Parjo segera didorong masuk ke dalam mulutku dan mulai menggelitik rongga mulutku. Aku jadi ingat saat membaca majalah porno yang dibawa suamiku dulu. Ini rupanya yang disebut posisi 99. Baru kali ini aku merasakannya.

Posisi 99 dilakukan dengan kedua pasangan menghadap ke arah yang sama, laki-laki di belakang dan perempuan di depan. Penis laki-laki menusuk vagina atau anus si perempuan dari arah belakang, sementara tangan si lelaki meremas-remas payudara si perempuan dan keduanya saling berpagutan bibir. Indah sekali!!

Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku melakukan hubungan seks dengan posisi seperti ini. Tangan Parjo kembali menyusup ke dalam gaun kerjaku dan mulai mengerjakan tugasnya meremas-remas kedua payudaraku. Bibirnya memagut bibirku dengan lidahnya mendorong-dorong lidahku. Sementara batang kontolnya terus menghunjam lubang vaginaku tanpa ampun. Berkali-kali rambut kemaluan Parjo yang kasar seperti habis dicukur menggaruk-garuk pantatku saat kontolnya melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Aku pun berkali-kali mengerang tanpa rasa malu-malu lagi. Aku memang selalu ribut kalau sedang bersenggama.

Tanpa harus diperintah, aku mulai menggoyangkan pantatku mengikuti irama tusukan kontol Parjo. Tubuhku mulai terhentak-hentak dan gerakan pantatku sudah tidak terkendali. Pantatku semakin cepat bergoyang dan mundur menyambut dorongan kontol Parjo hingga masuk sedalam-dalamnya ke dalam jepitan lubang vaginaku.

“Ter.. Rushh.. Joo.. Oohh” aku terus mendesis-desis tak terkendali. Tubuhku seolah melayang dan ringan. Parjo semakin cepat menarik dan mendorong kontolnya menghunjam lubang vaginaku. Aku tersentak. Perutku terasa kejang menahan desakan yang hampir meledak.

“Terushh Linn.. Terushh..” kudengar Parjo menggeram sambil menusuk-nusuk lubang vaginaku kian kencang. Lalu mulutnya kembali melumat bibirku dan tanpa dapat kutahan lagi tubuhku berkelojotan melepaskan ledakan birahi yang sudah tidak terbendung lagi. Aku menggigit bibir Parjo yang melumat bibirku. Pada saat yang sama, tubuh Parjo pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari breakdance. Tubuh bagian bawah kami yang saling menempel menggeliat secara bersamaan. Pantatku yang menempel ketat dan seperti terpaku pada tulang kemaluan Parjo memutar tak terkendali.

“Arghh.. Shh..” seperti suar koor, kami berdua menggeram secara bersamaan.

Otot-otot vaginaku berdenyut-denyut mencengkeram kontol Parjo yang tertanam sepenuhnya didalamnya. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Crat.. Crat.. Akhirnya kontol Parjo mengedut-ngedut dan hampir lima kali menyemburkan cairan hangat yang menyiram ke dalam mulut rahimku. Terasa begitu kencang semburan air mani Parjo menyemprot dalam lubang vaginaku. Kami terus bergerak hingga tuntas sudah air mani Parjo terperas denyutan lubang vaginaku.

Akhirnya kami sama-sama terdiam lemas tak berdaya. Napas kami saling memburu. Denyut jantungku berdentum setelah bekerja keras memburu kenikmatan. Aku yang kelelahan tak mampu bergerak lagi dan ambruk di atas toilet. Kubiarkan saja kontol Parjo yang masih menancap erat dalam lubang vaginaku. Tubuh Parjo pun ambruk menindihku. Pantatku tetap menempel ketat pada tulang kemaluannya. Aku merasakan betapa banyak cairan air mani yang disemprotkan Parjo ke dalam lubang vaginaku hingga sebagian meleleh ke pahaku.

Perlahan-lahan kontol Parjo mulai melembek dan akhirnya terlepas dari jepitan lubang vaginaku dengan sendirinya. Beberapa saat kemudian Parjo bangkit dan masuk ke WC. Kudengar suara gemericik air, mungkin ia sedang membersihkan kontolnya yang lengket oleh cairan kami berdua. Ia juga mengambil tissue dari WC dan kemudian membersihkan lelehan air maninya yang membasahi pahaku dengan telaten. Beberapa kali ia mondar-mandir ke WC mengambil tissue dan membersihkan semua cairan dari selangkanganku. Geli sekali rasanya saat tangannya yang kasar dengan nakal meremas-remas vaginaku saat membersihkan dengan tissue.

“Terima kasih Lin.. Sorry aku sudah tidak tahan ingin menikmati keindahan tubuhmu” ia tidak lagi memanggilku dengan ibu tapi langsung namaku begitu saja. Aku hanya terdiam. Aku sebenarnya menyesal juga telah melakukan pengkhianatan pada suamiku. Tapi semua sudah telanjur. Aku hanya mengangguk saja saat ia meminta maaf untuk yang kedua kalinya.

Aku merapikan pakaianku dan kembali ke ruanganku dengan langkah gontai akibat kelelahan setelah bersetubuh sambil berdiri tadi. Parjo pun segera membersihkan lantai dari lelehan air maninya yang tercecer di rest room itu.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam saat aku masuk ruanganku. Jadi hampir satu jam aku bersetubuh dengan Parjo di rest room tadi. Aku masih sangat lelah hingga tak mampu lagi berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Aku hanya terpaku di depan mejaku menatap layar monitor yang tetap menyala.

Aku tersentak dari lamunanku saat HP-ku berdering. Kulihat di layar ternyata suamiku menelpon.

“Hallo mah.. Kemana saja kamu? Dari tadi kutelepon kok tidak diangkat?” terdengar suara suamiku di seberang sana.
“Oh.. Eh.. Anu.. Tadi aku ke toilet.. Habis perutku rasanya mulas setelah makan siang” jawabku mencari alasan yang tepat.
“Tapi.. Kamu enggak apa-apa kan?” terdengar suara Mas Edy agak khawatir
“Enggak apa-apa kok pah..” jawabku.
“Ya sudah kalau enggak apa-apa.. Mau pulang bareng enggak?” kata suamiku lagi.
“Enggak ah.. Aku masih mau lembur soalnya laporan musti selesai malam ini juga” aku yang memang berniat mau meneruskan pekerjaanku meminta suamiku tidak usah menjemputku.

Aku kembali menatap monitor yang menyala di depanku. Pikiranku belum bisa diajak berkonsentrasi. Aku sangat merasa bersalah telah mengkhianati suamiku yang begitu mencintaiku. Di sisi lain aku merasa ada rasa aneh saat mengingat kejadian tadi. Pikiranku masih melayang ke tempat lain saat ada tangan kuat memelukku dari belakang. Aku kembali tersadar dari lamunanku.

“Eh.. Su.. Sudah Jo.. Jangan lagi” aku berusaha berontak setelah aku tahu bahwa pemilik tangan kekar itu ternyata Parjo yang memelukku dari belakang.

“Enggak apa-apa Lin.. Aku sayang sama kamu..” bisik Parjo sambil memelukku. Aku tak mampu melawan Parjo yang sudah mulai bernafsu lagi. Apalagi tubuhku masih terasa lemas sekali sejak digoyang Parjo di rest room tadi.

Napas Parjo yang memburu terasa panas menghembus di leherku saat lidahnya mulai menjalar menjilati kudukku. Aku masih berusaha menghindar saat bibirnya berusaha mencium pipiku. Tetapi tangan Parjo yang kokoh segera memaksa wajahku menghadapnya dan bibirnya yang tebal segera melumat bibirku. Aku hanya mampu menutup bibirku erat-erat sebagai upaya penolakanku. Namun lidah Parjo tak putus asa berusaha menggesek bibirku dan menyusupkannya ke dalam mulutku. Akhirnya pertahananku bobol juga. Lidah Parjo berhasil menyusup ke dalam mulutku dan mulai mendorong-dorong lidahku. Tangannya yang kokoh mulai meremas-remas payudaraku dari luar gaun.

Mendapat rangsangan seperti itu, perlahan-lahan gairahku mulai bangkit lagi. Lidahku akhirnya membalas dorongan lidahnya hingga kami saling berpagutan. Sambil tetap menciumi lidahku, Parjo mengangkat tubuhku dan memondongku dibawa ke ruang meeting VIP yang khusus dipakai menjamu tamu VIP. Ruangan itu cukup luas dan dilengkapi dengan sofa yang empuk.

Tubuhku segera dihempaskan ke sofa itu dan kembali Parjo mencumbuku dengan ganasnya. Dengan sikap posesif, Parjo terus mencumbuku di ruang meeting VIP itu. Seluruh tubuhku mulai bergelora dan tergelitik. Tangan Parjo yang terampil mulai melepaskan kancing gaunku satu persatu. Sekarang aku hanya mengenakan rok ketat dan BH. Kembali Parjo menggumuliku di sofa empuk itu. Lidahnya yang tadinya menggelitik lidahku mulai bergeser turun ke leherku, sementara itu tangannya segera melepaskan pengait BH-ku dan melepaskan BH tersebut hingga tubuh bagian atasku sudah tanpa penutup lagi.

Lidah Parjo terus bergeser turun dari leher ke bahuku yang terbuka lebar. Tangan Parjo secara otomatis bergerak ke dadaku yang sudah terbuka dan bermain-main di sana. Kedua payudaraku terasa agak sakit karena Parjo meremasnya dengan kasar dan gemas.

“Ohh..” tanpa sadar aku menggumam saat kedua puting payudaraku yang didekatkan satu sama lain dilumat mulut Parjo dengan rakus secara bersamaan. Lidahnya yang kasar dan panas mempermainkan kedua puting payudaraku. Tubuhku terasa bergetar menahan gairah.

Aku tak henti-hentinya mendesis menahan geli dan nikmat saat mulut Parjo melumat payudaraku dengan gemasnya. Tangan Parjo lalu melepaskan satu-satunya penutup tubuhku. Rokku dilepasnya hingga aku betul-betul telanjang bulat. Aku baru kali ini telanjang bulat di kantorku sendiri. Aku berbaring telentang di sofa sambil tanganku berusaha menutupi selangkanganku karena jengah. Mata Parjo tak pernah lepas dari tubuhku ketika ia membuka pakaiannya satu demi satu.

Aku menahan napas melihat Parjo yang sudah telanjang bulat di depanku. Perutnya datar dan keras. Tungkai dan lengannya yang kokoh sangat lebat ditumbuhi rambut. Tubuhnya tegap berotot, urat-urat darah yang kuat terlihat jelas di lengannya. Parjo lalu duduk di dekat tubuh telanjangku.

“Tubuhmu seksi sekali Lin..” bisik Parjo di telingaku.

Tangannya segera bergerak mengelus dadaku. Ibu jarinya melakukan gerakan melingkar di atas payudaraku hingga membuatku menggelinjang kegelian. Tangannya lalu meraba perutku dan terus bergeser turun dan menyingkirkan tanganku yang menutupi selangkangan. Ditangkupkannya telapak tangannya di bukit vaginaku dan ditekankannya tangannya di sana sambil meremas pelan.

“Ohh..” aku hanya mendesis menahan gairah.

Parjo lalu menundukkan wajahnya dan merangkak di atasku dengan posisi terbalik. Mulutnya segera menyerbu payudaraku. Lidahnya menyapu-nyapu seluruh permukaan kulit payudaraku dan menyedot putingku dengan gemasnya. Tanpa sadar tanganku bergerak meremas-remas rambut kepalanya. Parjo pun semakin bersemangat begitu mendapat respons dariku.

Lidahnya terus merayap turun hingga ke perutku. Kini wajahku menghadap dadanya yang bidang. Mulutku yang menempel ketat di dadanya secara otomatis mulai merespons. Keringat Parjo yang berbau menyengat menjadi obsesiku. Aku tak menyia-nyiakan untuk merasakan keringatnya. Lidahku tanpa malu-malu lagi mulai menjilati puting dada Parjo yang hitam kecoklatan.

Lidah Parjo terus turun ke selangkanganku. Otomatis wajahku kini menghadap ke arah selangkangannya yang merangkak di atasku dengan posisi terbalik. Batang kontolnya yang berukuran super menggantung bergoyang-goyang di depan mulutku seperti terong. Karena ujungnya menyentuh-nyentuh mulutku, aku terusik untuk membuka mulutku dan mulai menjilati ujung topi bajanya.

“Ouchh.. Jo..” tubuhku tersentak saat lidah Parjo mulai menjilati vaginaku dan lidahnya menyeruak ke dalam lubang vaginaku menjilati dinding-dindingnya. Pantatku terangkat secara otomatis.
“Arghh..” Parjo pun melenguh saat mulutku menyedot-nyedot ujung kepala kontolnya yang sudah sangat keras.

Setelah puas saling menjilat dan mencumbu, Parjo membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan Parjo segera menguakkan kedua pahaku lebar-lebar. Ia menempatkan tubuhnya di antara kedua pahaku dan mulai menyatukan tubuhnya ke tubuhku. Kulit Parjo yang sudah licin oleh keringatnya yang berbau menyengat tampak mengkilap. Titik-titik keringat bermunculan di kening dan lehernya. Parjo menghunjamkan tubuhnya dalam-dalam berulang kali ke dalam hingga kedua tulang kemaluan kami saling melekat satu sama lain.

Mulut Parjo segera melumat bibirku yang setengah terbuka karena merasa sesak napas saat selangkanganku terganjal kontol Parjo yang melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Dalam sekali rasanya hingga mulut rahimku terasa agak ngilu tersodok ujung kontolnya.

Aku yang sudah sangat terangsang berusaha ikut bergerak mengimbangi tusukan-tusukan Parjo di selangkanganku dengan menggerakkan pantatku yang tercengkeram oleh kedua tangannya. Parjo terus mengayunkan pantatnya naik-turun di atas perutku dengan seluruh berat tubuhnya tertumpu di atas perutku. Dadanya yang bidang ketat menghimpit kedua payudaraku. Napasku terasa sesak sulit bernapas karena tertindih berat tubuhnya. Apalagi mulut Parjo yang masuk melumat bibirku berusaha menyedot-nyedot lidahku.

Aku bisa bernapas lega saat Parjo melepaskan kontolnya dari jepitan lubang vaginaku dan bangun. Ia duduk di tepi sofa dan mengangkat tubuhku agar duduk di pangkuannya. Tubuhku kembali direngkuhnya dan bibirku kembali dipagutnya dengan rakus. Aku yang duduk di atas pangkuan Parjo dengan mengangkangkan kaki di antara kedua pahanya tidak dapat bergerak karena kedua tangannya melingkar erat di punggungku dan menariknya ketat hingga payudaraku kembali tergencet dadanya yang bidang itu.

Kontol Parjo yang berukuran super itu tergencet di antara perutku dan perutnya sendiri. Lalu kedua tangan Parjo bergeser ke pantatku dan mengangkatnya hingga aku setengah berdiri menghadap ke arahnya. Kemudian satu tangannya mengarahkan ujung kepala kontolnya dan diarahkan ke selangkanganku. Tubuhku diturunkannya dengan pelan hingga sedikit demi sedikit ujung kontolnya mulai terbenam kembali ke dalam lubang vaginaku.

Aku menahan napas saat batang kontol Parjo mulai terjepit dinding lubang vaginaku dan melesak ke dalamnya. Seluruh bulu tubuhku merinding karena batang kontolnya yang begitu besar serasa menggesek seluruh celah dinding vaginaku.

“Ahh..” hampir secara bersamaan kami menghela napas lega saat seluruh batang kontol Parjo akhirnya masuk tertelan lubang vaginaku. Pantatku terasa geli tertusuk-tusuk rambut kemaluan Parjo yang agak tajam karena dicukur cepak. Aku merasa geli karena kantung telur Parjo yang lunak dan hangat menempel ketat di bawah pantatku.

Dengan dibantu kedua tangannya yang kokoh yang menyangga kedua buah pantatku, tubuhku bergerak naik turun di atas pangkuan Parjo. Kontolnya yang terjepit ketat dalam lubang vaginaku menggesek seluruh relung dinding vaginaku. Aku harus menggigit bibirku kuat-kuat agar dapat menahan kenikmatan yang mulai menggerogoti sumsum tulang belakangku.

Parjo menundukkan wajahnya dan segera menyurukkannya ke dadaku yang berayun-ayun seiring dengan gerakan tubuhku yang seperti menari-nari di atas pangkuannya. Kedua payudaraku dilumatnya dengan bibirnya yang tebal bergantian. Lidah Parjo yang kasar dan panas mengilik-ngilik puting payudaraku yang dijepitnya dengan bibirnya. Aku merasa seperti melayang menerima rangsangan ganda seperti ini.

“Ohh.. Joo..” tanganku segera merengkuh kepala Parjo dan menekankannya ke dadaku. Perutku mulai merasa kejang-kejang. Gerakanku mulai tak terkendali di atas pangkuan Parjo. Dinding vaginaku terasa mulai berdenyut-denyut meremas kontol Parjo yang terjepit di dalamnya. Gerakanku semakin liar dan kepalaku seperti tersentak ke atas.

“Terrushh Joo.. Oohh” aku menjerit panjang saat ada sesuatu yang pecah di dalam perutku. Aku sudah tidak mampu menahan jebolnya gairahku. Pantatku berputar liar di atas pangkuan Parjo seperti ingin menggesek dan menggerus kontolnya yang terbenam di dalamnya. Tangan Parjo membantuku memutar pantatku. Aku melayang dan terhempas ke tempat kosong.

Napasku tinggal satu-satu. Lelah sekali rasanya tubuhku. Aku terkulai lesu di atas pangkuan Parjo. Kedua tanganku memeluk erat lehernya untuk menuntaskan sisa-sisa kepuasan yang benar-benar melelahkan. Dinding-dinding vaginaku mengedut-ngedut selama beberapa saat lalu aku terdiam dan ambruk di atas pangkuan Parjo.

Parjo memberiku kesempatan untuk mengatur napasku dengan membiarkan aku terkulai di pangkuannya. Kontolnya yang masih sangat keras tetap kokoh memaku lubang vaginaku.
“Masih capai Lin..?” bisik Parjo di telingaku.
“He.. Eh..” aku tak berani melihat wajahnya karena malu, soalnya tadi aku menolak tetapi akhirnya aku berhasil ditundukkannya. Aku malu sekali padanya.

Perlahan-lahan Parjo mengangkat tubuhku dari pangkuannya. Serr.. Nikmat sekali saat batang kontolnya yang tadi menyumbat lubang kemaluanku tertarik keluar menggesek dinding vaginaku. Aku sempat melirik batang kontol Parjo yang begitu basah dan licin mengkilat karena hasil orgasmeku tadi. Aku lalu disuruhnya merangkak dengan menghadap ke sofa. Parjo berlutut di belakang tubuhku yang membelakanginya.

Tubuhku menggelinjang saat lidah Parjo mulai menjalari tulang belakangku. Lidahnya menjelajah seluruh permukaan kulit punggungku. Bulu romaku dibuat merinding oleh ulahnya.

“Ughh..” aku melenguh pelan saat mulut Parjo membuat gigitan ringan di atas pinggulku. Otot-otot perutku serasa ditarik karena rangsangan itu. Mulut Parjo tidak berhenti di situ. Mulutnya terus bergeser turun hingga kini kedua buah pantatku digigit-gigitnya dengan gemas. Seluruh tubuhku bergetar menerima perlakuannya. Apalagi saat lidah Parjo mulai menyapu-nyapu daerah sekitar lubang anusku.

“Ja.. Jangan Jo..” namun terlambat. Aku tidak mampu mencegah saat lidah Parjo mulai menusuk-nusuk dan mengilik-ngilik lubang anusku. Geli sekali rasanya. Pantatku tidak dapat bergerak karena dicengkeram kedua tangannya yang kokoh. Aku hanya bisa pasrah dan menikmati jilatan lidahnya di lubang anusku.

Setelah puas menikmati lubang anusku dengan lidahnya, Parjo mulai mengarahkan kontolnya ke lubang vaginaku. Ia menusuk vaginaku dengan kontolnya di antara kedua buah pantatku. Aku harus menahan napas lagi saat kepala kontolnya mulai menerobos lubang vaginaku. Agak perih dan ngilu rasanya.

Lubang vaginaku mulai mengeluarkan cairan pelicin lagi saat Parjo mengocoknya dengan ujung kepala kontolnya yang digesek-gesekkan di antara bibir vaginaku. Hal ini membuat tusukannya bertambah lancar.

“Ughh.. Hkkhh” Parjo menggumam saat seluruh kontolnya berhasil masuk ke dalam lubang vaginaku. Aku pun dapat bernapas lega setelah seluruh batang kontolnya melesak masuk. Ia terdiam beberapa saat menikmati denyutan dinding vaginaku yang melumat kontolnya.

Nafsuku kembali bangkit saat Parjo berkali-kali memaju-mundurkan pantatnya menarik dan mendorong kontolnya di dalam lubang vaginaku. Aku kembali tergerak menikmati tusukan-tusukannya dengan ikut menggerakkan pantatku. Pantatku maju mundur berlawanan arah mengikuti irama tusukannya. Jika ia menarik mundur aku maju dan jika ia maju aku mendorong pantatku ke belakang menyongsong tusukannya. Plok.. Plok.. Plokk.., begitulah setiap kali pantatku beradu dengan tulang kemaluannya selalu terdengar suara seperti tepukan. Kedua payudaraku berguncang-guncang setiap kali vaginaku disodok kontol Parjo.

Darahku mulai menggelegak terbakar nafsu. Tangan Parjo yang tadinya mencengkeram kedua buah pantatku sekarang berpindah dan meremas kedua payudaraku yang berguncang-guncang. Jari-jarinya memilin kedua puting payudaraku.

“Ohh.. Joo.. Ter.. Russhh.. Terushh” tanpa malu-malu lagi aku mendesis meminta Parjo terus memompakan kontolnya. Pantatku yang tadinya maju-mundur kini bergerak memutar seolah hendak memeras. Dinding vaginaku kembali berdenyut-denyut. Aku memejamkan mataku berusaha menahan ledakan yang sudah hampir sampai. Aku berusaha menahan lebih lama lagi. Kelentitku yang sudah mengembang tergesek-gesek oleh tusukan kontol Parjo yang perkasa.

“Ohh.. Joo.. Arghh..” aku mengerang panjang. Aku sudah tidak mampu bertahan lagi. Siksaan gejolak napsu itu terlalu kuat untuk kutahan. Aku harus menyerah lagi untuk yang kesekian kalinya, padahal aku yakin Parjo belum apa-apa. Tubuhku terasa ringan sekali. Otot perutku mengejang dan tubuhku meliuk melepaskan orgasmeku. Aku terus bergerak menuntaskan orgasmeku lalu ambruk di sofa. Kubiarkan saja kontol Parjo menancap di lubang vaginaku. Aku sudah terlalu lelah untuk bergerak.

Aku hanya pasrah saat Parjo menarik tubuhku dan membaringkannya di karpet ruang meeting room itu. Tubuhku ditelentangkannya dan kedua kakiku dipentangkannya lebar-lebar. Aku berusaha menutupi lubang vaginaku yang menganga dengan tanganku. Aku risih juga karena bagian tubuhku yang paling pribadi dipelototi mata Parjo.

Parjo kembali merangkak di atas perutku dan menindihku. Kontolnya yang licin karena lendir orgasmeku kembali ditusukkannya ke lubang vaginaku. Kepala kontolnya agak mudah tergelincir masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku karena memang sudah sangat licin. Ia terus mendorong pantatnya hingga seluruh kontolnya amblas ke dalam vaginaku.

Dengan bertumpu pada kedua lutut dan sikunya, Parjo mulai mengayunkan pantatnya naik turun di atas tubuhku. Batang kontolnya dengan sendirinya bergerak keluar masuk menusuk-nusuk lubang vaginaku. Aku masih belum mampu bergerak. Kubiarkan saja Parjo sibuk sendiri di atas tubuh telanjangku.

Bibir Parjo yang terus menerus menciumi bibir lalu leher dan turun lagi ke payudaraku membuat nafsuku kembali bangkit. Lidahnya yang terus bermain-main di kedua puting payudaraku dan tusukan-tusukan kontolnya kembali memaksaku menggerakkan tubuhku.

“Hmmghh.. Ughh.. Ughh..” mulut Parjo terus saja mendengus seperti kerbau gila. Ayunan pantatnya semakin kencang menghantam vaginaku. Ia terus bergerak memacuku. Berkali-kali mulut rahimku tersodok-sodok ujung kontolnya. Ngilu bercampur nikmat berbaur menjadi satu. Keringatnya telah semakin membuat tubuhnya licin. Aroma keringatnya yang maskulin benar-benar membuatku mabuk karenanya.

Aku semakin tidak mampu bergerak karena berat badan Parjo seolah bertumpu pada perutku. Kedua tangannya berpindah mengganjal kedua buah pantatku dan mencengkeramnya kuat-kuat. Bibirnya kini melumat bibirku dan lidahnya menggesek-gesek langit-langit mulutku. Pantatnya kian cepat memompa menghantam vaginaku. Aku merasa darahku mulai menggelegak. Perutku kembali mengejang pertanda akan mencapai klimaksku lagi.

Aku berusaha memutar pantatku yang dicengkeram kedua tangan Parjo dengan sisa tenagaku. Gerakan pantatku memutar menyongsong tusukan kontolnya yang menderu-deru. Vaginaku mulai mengedut-ngedut dan mataku seolah mulai terbalik menahan nikmat. Aku terus bergerak menyongsong nikmat. Gerakanku dan gerakan Parjo semakin liar tak terkendali. Kami sama-sama mendengus dan mengerang.

Tangan Parjo yang meremas kedua buah pantatku terasa lebih kuat. Pantatnya terus menghunjam selangkanganku. Tubuhku menggeliat dan tersentak. Pantatku terangkat saat aku merasa ada suatu ledakan di dalam perutku.

“Arrgghh.. Ter.. Rushh.. Terushh.. Oughh” mulut Parjo terus memintaku mempercepat putaran pantatku. Aku terus berusaha bergerak.
“Ohh” aku merintih panjang bersamaan dengan geraman Parjo.

Mulut Parjo melumat bibirku kencang sekali saat ujung kontolnya menyemburkan mani ke dalam mulut rahimku. Crrt.. Crtt.. Crrt.. Crrtt.. Crutt.. Hangat sekali rasanya saat mulut rahimku tersembur air maninya. Tubuh Parjo ambruk di atas perutku. Kami sama-sama terkulai lemah setelah bertempur habis-habisan.

Aku tidak jadi lembur hari itu. Aku berulangkali disetubuhi Parjo dengan berbagai posisi di ruang meeting VIP itu hingga loyo. Ruang meeting VIP yang biasa digunakan menemui tamu-tamu VIP sekarang kami gunakan untuk saling memiting dan menuntaskan gejolak nafsu liar kami.

Aku keluar kantor dan pulang ke rumah hampir jam 23.30 malam itu. Perselingkuhanku dengan Parjo kembali terulang karena ia mengancamku akan menceritakan affairku dengannya kepada teman-temannya bila aku tidak mau melayani keinginannya. Hampir dua minggu sekali Parjo minta jatah dariku baik itu di kantor saat sepi, di rest room atau di penginapan yang terdekat.

Sejak saat itu aku menjadi kekasih gelap Parjo, office boy di kantorku. Ia dan aku telah berjanji untuk merahasiakan hubungan kami dan akan bersikap wajar di depan orang lain. Ia juga berjanji tidak akan menggangguku bila aku sedang di rumah atau sedang bersama suamiku. END by ceritaseks15.blogspot.com - Cerita Seks Terbaru, Cerita Dewasa Hot, Cerita Mesum Seru -
03.06 | 0 komentar